Bursa transfer pelatih selalu menyajikan drama yang tak kalah menegangkan dibandingkan perburuan pemain bintang di atas lapangan hijau, karena keputusan krusial di ruang ganti kerap menjadi penentu arah nasib sebuah klub raksasa untuk beberapa musim ke depan.
Pakar transfer ternama, Fabrizio Romano, akhirnya membongkar alasan utama di balik keputusan bos AC Milan, Gerry Cardinale, yang lebih memilih Ruben Amorim ketimbang Matthias Jaissle.
Manajemen Rossoneri mengambil langkah berani dengan mendepak Massimiliano Allegri beserta jajaran stafnya hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam pasca kekalahan pahit dari Cagliari di ujung musim lalu.
Perburuan juru taktik baru pun langsung digeber, memunculkan sederet nama beken di bursa pelatih mulai dari Andoni Iraola hingga Mauricio Pochettino yang santer dikaitkan dengan kursi panas San Siro.
Pada akhirnya, pria asal Portugal itu resmi dipinang setelah melewati seleksi ketat yang dipimpin langsung oleh Cardinale, di mana sang pemilik kini memutuskan untuk turun tangan secara langsung dalam mengambil kebijakan vital klub.
Padahal, nama Jaissle sebelumnya sempat digadang-gadang sebagai kandidat kuat berkat rekam jejak menterengnya saat menukangi RB Salzburg sebelum akhirnya berlabuh ke Arab Saudi.
Alasan Kuat Cardinale Kepincut Pesona Amorim

- Waktu pemecatan staf lama: Kurang dari 24 jam setelah kekalahan di laga pamungkas melawan Cagliari.
- Kandidat pelatih pengganti yang sempat dihubungkan: Andoni Iraola dan Mauricio Pochettino.
- Pesaing terberat Amorim dalam seleksi: Matthias Jaissle.
- Klub baru Matthias Jaissle saat ini: Newcastle United di Liga Inggris (menggantikan Eddie Howe).
Jaissle sendiri pada akhirnya memilih jalan lain dengan terbang ke kasta tertinggi sepak bola Inggris untuk meneruskan tongkat estafet dari Eddie Howe di Newcastle United.

Melalui sebuah tayangan video di kanal YouTube pribadinya yang dikutip oleh MilanNews, Romano membeberkan secara rinci latar belakang drama perburuan pelatih baru Il Diavolo Rosso.
“Kemarin adalah hari di mana kita mendengar dan membaca sedikit dari segalanya, seolah-olah kita tidak sabar untuk mengkritik dan menghantam Ruben Amorim,” ungkap Romano.
“Dia mungkin bukan pelatih terbaik di dunia, namun, menurut pendapat saya, dia tidak pantas menerima semua kritikan yang ia terima setelah sebuah pertandingan yang mungkin tidak dimainkan dengan standar tertinggi seperti saat melawan Juventus, tetapi di mana Milan masih memimpin hingga menit-menit akhir.”
“Il Diavolo membuktikan diri benar-benar mampu mengemban tugas tersebut.”
“Lalu untuk berpikir bahwa Amorim, yang datang dari latar belakang yang benar-benar berbeda seperti Portugal dan Inggris, dapat sepenuhnya mengubah wajah Milan dalam tiga bulan adalah sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.”
“Sejak pertemuan pertamanya dengan Gerry Cardinale, Amorim – yang bersaing untuk pekerjaan kepelatihan AC Milan dengan Matthias Jaissle, manajer Newcastle sekarang – menunjukkan kejujuran dan visi jangka panjang yang membuat perbedaan dalam pilihan pemilik AC Milan tersebut.”
“Bahkan sebelum ditunjuk sebagai pelatih baru Milan, pria asal Portugal itu sangat jelas tentang keinginannya untuk membawa visi sepak bolanya.”
“Tetapi jelas bahwa itu akan memakan waktu, dan Rossoneri sendiri mengetahui hal ini, menyadari bahwa akan butuh kesabaran untuk membangun tim yang layak bagi Milan.”
“Tujuan Amorim jelas untuk menang dan bersaing sebaik mungkin, tetapi pria Portugal itu membutuhkan dan menginginkan waktu untuk memamerkan tim Milan-nya dari sudut pandang taktik, sikap, dan bahkan pemain.”
“Amorim telah sangat jelas mengenai hal ini; dia belum menjanjikan apa pun, dan dia pantas dihormati atas kejelasan dan kejujurannya.”
“Lapangan hijau jelas akan menceritakan kisahnya nanti.”





