Kekalahan menyakitkan di pentas Eropa pekan ini tampaknya memicu gelombang kekhawatiran yang memancing reaksi keras dari pemilik AC Milan, Gerry Cardinale.
Skuad Rossoneri baru saja menelan pil pahit berupa kekalahan perdana musim ini usai dilibas dua gol tanpa balas oleh Benfica di San Siro pada Kamis dini hari WIB.
Namun, kepanikan yang melanda kubu Merah Hitam sejatinya tidak murni karena hasil minor tersebut, melainkan rentetan performa meresahkan yang sudah telanjur terlihat dalam beberapa pertandingan terakhir.
Hal ini semakin diperparah dengan taktik media Ruben Amorim yang secara terang-terangan meragukan kesesuaian strateginya dengan komposisi skuad yang ada saat ini sebelum laga dimulai.
Kritik Tajam Peppe Di Stefano Terhadap Taktik Rossoneri
Jurnalis kondang dari Sky Sports, Peppe Di Stefano, baru saja memberikan laporan langsung dari markas latihan Milanello terkait situasi genting yang menyelimuti tim.
Setelah sebelumnya menegaskan bahwa posisi sang manajer masih aman dari ancaman pemecatan, ia kini memberikan analisis tajam mengenai kemunduran kualitas permainan tim kebanggaan Milanisti tersebut.
“Jika, secara ironis, babak pertama melawan Lazio adalah pertandingan Milan yang paling tidak menarik, penampilan kemarin secara keseluruhan buruk, sebuah penampilan yang tidak memadai.”
“Kemarin, semua masalah memuncak.”
“Kekalahan pertama musim ini tiba, dengan delapan poin diraih dari lima belas yang tersedia di paruh pertama musim ini.”
“Terutama, ada kemunduran taktis yang tidak bisa tidak mengkhawatirkan pada hari pertandingan kelima – keempat di liga dan salah satu di Liga Europa – karena, bahkan tanpa melebih-lebihkan, situasinya sedikit mengkhawatirkan.”
“Ini mengkhawatirkan karena ada penurunan total dalam permainan dominan, berbasis penguasaan bola, dan agresif yang seharusnya kita lihat; dikatakan bahwa kita akan melihat tipe sepak bola ini, tetapi alih-alih kita tidak melihat apa-apa.”
Berdasarkan pengamatan mendalam usai kekalahan dari wakil Portugal tersebut, sejumlah masalah fundamental memang terbukti menjadi biang kerok hancurnya dominasi skuad Il Diavolo Rosso.
- Minim Kreasi Serangan: Ancaman nyata yang dihadirkan barisan depan Milan sejauh ini dinilai murni hanya berasal dari percikan kecemerlangan individu pemain, bukan dari skema matang yang dirancang pelatih.
- Eksperimen Gagal Amorim: Keputusan menempatkan pemain seperti Ruben Loftus-Cheek dan Samuel Chukwueze pada peran yang tidak natural di atas lapangan justru menjadi bumerang saat menghadapi tim elit.
- Krisis Kepemimpinan: Ketiadaan sosok jenderal sentral yang mampu mengatur ritme permainan membuat barisan tengah Milan begitu mudah dieksploitasi oleh tekanan lawan.
Intervensi Gerry Cardinale dan Ultimatum Rotasi Pemain

Menyadari betapa buramnya pola rancang bangun serangan tim saat ini, Di Stefano turut menyentil obsesi sang pelatih terhadap kebijakan perputaran pemain yang justru mengorbankan stabilitas formasi inti.
“Belum ada pergerakan menyerang: dalam beberapa pertandingan terakhir, Milan menciptakan sesuatu hanya berkat kilatan kecemerlangan, seperti gol Diego Moreira atau beberapa pergerakan solo oleh Christian Pulisic.”
“Ini tentu saja merupakan waktu yang rumit dan reflektif, juga karena kita perlu memahami dengan tepat apa yang ingin dilakukan Ruben Amorim.”
“Sistem rotasi ini, yang dirancang untuk menjaga seluruh tim tetap hidup dan memberikan pergantian pemain kepada semua orang, tidaklah bagus.”
“Kemarin di babak pertama, Milan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mencetak gol: mereka adalah tim tanpa pemimpin.”
“Seperti yang dikatakan Riccardo Montolivo – yang juga bermain untuk Milan sebagai kapten – ada kekurangan kepribadian di lini tengah, bahkan, di seluruh lapangan.”
“Saya percaya pilihan harus dibuat: tim ini tidak bisa bermain tanpa Pulisic, Modric, Rabiot, dan pemain seperti Diego Moreira.”
“Keputusan mengenai susunan pemain akan dibuat dalam 48 jam ke depan, karena tidak ada ruang untuk risiko lebih lanjut dan rotasi tidak lagi berhasil.”
“Beberapa ide kunci Amorim dari musim panas telah ditolak sejauh ini: Loftus-Cheek adalah eksperimen yang berjalan buruk, begitu juga dengan Chukwueze, yang bahkan tidak tampil baik sebagai bek kanan karena ia tidak bisa mengimbangi tim-tim besar.”
“Ini adalah saat ketika para penggemar Milan mengharapkan jenis penampilan dan gaya permainan yang berbeda, bahkan secara visual; sebaliknya, Milan ini mengumpulkan lebih sedikit poin daripada tahun lalu dan bermain hampir lebih buruk.”
“Inilah sebabnya saya percaya Gerry Cardinale akan tiba di Italia dalam beberapa jam ke depan: setelah menghabiskan 150 juta Euro, ia menuntut kepuasan yang lebih besar – dan bukan sekadar hasil – dari Milan baru yang ia bangun beberapa bulan lalu.”
Kedatangan sang pemilik klub ke tanah Italia jelas menjadi sinyal peringatan yang sangat serius bagi seluruh jajaran staf pelatih untuk segera merapikan komposisi terbaik mereka guna menyelamatkan target sisa musim ini.





