Pelatih kepala AC Milan, Ruben Amorim, baru saja memicu perdebatan panas usai menyinggung adanya sejumlah pemain yang tidak sesuai dengan filosofi taktiknya jelang laga melawan Benfica dini hari WIB lalu.
Laporan terbaru dari surat kabar La Gazzetta dello Sport pada pagi ini menyoroti perubahan drastis sikap sang pelatih yang awalnya memuji bursa transfer dengan nilai sempurna namun kini mulai mengeluhkan kecocokan skuad.
Juru taktik asal Portugal tersebut memang dikenal sebagai sosok yang pantang menyerah dan tidak pernah setengah hati dalam menerapkan ide-idenya di atas lapangan.
Pasca kekalahan perdana di kompetisi resmi sebagai manajer Rossoneri, ia secara gamblang menegaskan komitmennya terhadap sistem permainannya tanpa mempedulikan badai kritik yang menerjang.
“Jika saya harus gagal, lebih baik jika saya gagal besar.”
Makna tersirat dari pernyataan tersebut adalah ia lebih memilih hancur dengan pendirian dan strateginya sendiri ketimbang harus tunduk pada tekanan untuk mengubah gaya bermain.
Rotasi Ekstrem dan Realita Pahit di San Siro

Jika ditelisik lebih jauh, pelatih berusia 41 tahun ini rupanya telah mencoba lima formasi susunan pemain yang berbeda dalam lima pertandingan awalnya demi mengevaluasi kapasitas skuad secara langsung.
Sayangnya, kekalahan memalukan 0-2 di kandang sendiri pada laga pembuka Liga Europa seolah menjadi bukti sahih bahwa beberapa penggawanya memang kesulitan beradaptasi dengan gaya sepak bolanya.
“Apakah skuad ini tidak cocok dengan formasi 3-4-2-1 saya? Itu sebagian benar, tetapi Anda tidak bisa tiba di klub baru dan mengharapkan semuanya sudah siap saji.”
Fakta menariknya, mantan pelatih Manchester United dan Sporting CP ini sebenarnya memiliki peran yang sangat krusial dalam menentukan pergerakan transfer klub pada musim panas lalu.
Daftar Pemain yang Terpinggirkan dari Sistem Amorim

Meskipun sang manajer enggan menyebutkan nama secara terang-terangan di hadapan media, publik dengan mudah dapat menebak siapa saja punggawa yang tidak memiliki atribut sesuai untuk sistemnya.
Berikut adalah analisis deretan pemain yang diyakini masuk ke dalam daftar kurang cocok dengan skema permainan sang juru racik:
- Fikayo Tomori: Bek asal Inggris ini awalnya masuk daftar jual bersama Youssouf Fofana dan Christopher Nkunku, namun akhirnya bertahan meski belum mencatatkan semenit pun penampilan di atas lapangan.
- Strahinja Pavlovic dan Matteo Gabbia: Pavlovic rutin menjadi starter namun dinilai kurang ideal saat menguasai bola sebagai bek tengah luar, sementara Gabbia sama sekali belum pernah dimainkan oleh Amorim.
- Luka Modric dan Ardon Jashari: Tuntutan intensitas tinggi di lini tengah sulit dipenuhi oleh Modric yang kini menginjak usia 41 tahun, sedangkan Jashari kembali menunjukkan penyakit inkonsistensinya.
- Davide Bartesaghi: Sang pemain bertahan dinilai tidak memiliki karakter bek sayap ideal Amorim yang biasanya lebih menyukai sosok agresif atau mantan penyerang sayap seperti Samuel Chukwueze.
- Alexis Saelemaekers dan Ruben Loftus-Cheek: Keduanya dianggap sebagai pemain hibrida yang gagal memenuhi ekspektasi saat diuji coba untuk menempati pos gelandang serang dalam skema sang pelatih.
Deretan keraguan yang masih menyelimuti benak Ruben Amorim terhadap para pemainnya ini jelas membutuhkan solusi nyata dari manajemen pada jendela transfer mendatang agar revolusi taktik di Milanello tidak berujung pada kegagalan tragis.





