Kemenangan penting melawan Genoa akhir pekan lalu mungkin telah menenangkan suasana (untuk sementara) di markas AC Milan. Kini, target mengamankan tiket Liga Champions sudah semakin dekat.
Namun, menurut laporan terbaru dari jurnalis terkemuka Antonio Vitiello, terlepas dari apakah Milan berhasil lolos ke kompetisi Eropa atau tidak, revolusi besar-besaran di level manajemen sudah menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa dihindari.
Dalam empat tahun masa kepemimpinan Gerry Cardinale, Rossoneri lebih banyak menelan kekecewaan di sektor olahraga. Meraih posisi ketiga atau keempat tidak bisa lagi dilihat sebagai sebuah hasil yang patut dirayakan secara berlebihan.
Berdasarkan sejarah dan kebesaran nama klub, Milan harus memiliki ambisi untuk berjuang memperebutkan Scudetto setiap tahunnya, bukan sekadar berpesta karena berhasil finis di zona Liga Champions.
Semua Petinggi Berada di Ujung Tanduk

Jika RedBird benar-benar ingin mengubah arah proyek klub ini, maka perombakan harus dimulai dari jajaran manajemen puncak—mereka yang dalam empat tahun terakhir gagal memenangkan apa pun (kecuali satu Supercoppa Italiana).
“Orang pertama yang berisiko adalah Igli Tare karena pergerakan di bursa transfer yang tidak disukai, tetapi perhatikan juga posisi Giorgio Furlani, yang sama sekali tidak aman.”
“CEO Rossoneri tersebut sangat berisiko, karena di bawah manajemennya Milan tidak mengalami kemajuan apa pun (di lapangan). Oke, dari sudut pandang finansial, neraca selalu ditutup dengan nilai positif, tetapi jika Cardinale benar-benar memiliki obsesi untuk menang, maka dia tidak bisa puas hanya dengan melihat Inter dan Napoli memenangkan gelar.”
“Oleh karena itu sang pemilik juga dipanggil untuk memberikan jawaban dan setelah pertandingan melawan Cagliari, hal-hal baru di manajemen diharapkan akan terjadi. Terakhir Ibrahimovic, ia juga berakhir di sasaran kritik atas campur tangannya terhadap pekerjaan pelatih.”
Skuad Kembali Jalani “Ritiro”
Sementara badai rumor terus menghantam para petinggi di kantor Casa Milan, tim utama memilih untuk menutup telinga rapat-rapat.
Dilaporkan bahwa Milan akan kembali menjalani pemusatan latihan (ritiro) mulai hari Jumat. Keputusan ini diambil bersama oleh Massimiliano Allegri dan para pemain semata-mata untuk mengisolasi diri dari semua suara-suara bising seputar manajemen.
Eksperimen ritiro ini terbukti berhasil sebelum pertandingan melawan Genoa, sehingga akan direplikasi kembali untuk mempersiapkan laga pamungkas musim ini melawan tim asal Sardinia tersebut pada Minggu malam di San Siro. Setelah itu, barulah tiba waktunya untuk pilihan dan perubahan.
Di tengah panasnya rumor revolusi klub, mari kita tetap dukung tim kebanggaan di laga pamungkas! Dapatkan Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Analisis Redaksi

Laporan dari Antonio Vitiello ini sejalan dengan kemarahan yang selama ini disuarakan oleh para pendukung setia Rossoneri. Manajemen tidak bisa terus bersembunyi di balik tameng “pembukuan yang sehat”.
Kritik tajam yang diarahkan kepada Giorgio Furlani sangat tepat sasaran. AC Milan adalah klub sepak bola, bukan perusahaan akuntansi. Jika neraca keuangan hijau tetapi tim hancur lebur di lapangan dan hanya puas finis di posisi ketiga, maka proyek RedBird bisa dikatakan gagal total secara sporting (olahraga).
Igli Tare yang bertanggung jawab atas kegagalan transfer, dan Zlatan Ibrahimovic yang dinilai terlalu sering melangkahi wewenang taktis pelatih, juga harus mempertanggungjawabkan kekacauan ini.
Sikap skuad asuhan Allegri yang kembali menggelar ritiro patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa di saat para bos sedang sibuk saling tuding, para pemain memilih untuk fokus bekerja dalam diam demi menyegel tiket Liga Champions. Mari kita tuntaskan misi ini di San Siro pada hari Minggu nanti, lalu kita saksikan siapa saja yang akan didepak oleh Gerry Cardinale!





