Pelatih AC Milan, Ruben Amorim, dituntut untuk memantau kondisi fisik Goncalo Ramos secara ekstra ketat agar sang penyerang tidak kehabisan bahan bakar di tengah kompetisi.
Menurut laporan dari Tuttosport pada pagi ini, Ramos memang diproyeksikan menjadi pemimpin lini serang yang tak tersentuh dalam skema taktik Amorim.
Namun, secara objektif sangatlah tidak realistis bagi sang striker untuk terus bermain secara penuh selama 270 menit dalam tiga pertandingan awal liga.
Pada laga melawan Juventus, terutama di 20 menit terakhir, pemain bernomor punggung sembilan tersebut terlihat sangat berjuang keras untuk mempertahankan level energinya.
Kaus kakinya tampak ditarik ke bawah dan ia sering terlihat berjongkok untuk menahan rasa lelah yang luar biasa di atas lapangan.
Meskipun demikian, Ramos tetap bertahan di lapangan tanpa meminta diganti karena Amorim sama sekali tidak mempertimbangkan opsi untuk menariknya keluar.
Pekerjaan tanpa bolanya dan ancaman konstan yang diciptakan oleh mantan pemain PSG tersebut dinilai terlalu krusial bagi keseimbangan tim di mata sang pelatih.
Proyek Camarda dan Opsi Darurat

Situasi menegangkan ini secara langsung menyoroti sebuah masalah penting mengenai siapa sosok yang pantas menjadi pelapis utamanya.
Pada bursa transfer musim panas lalu, Milan membuat pilihan yang sangat berani untuk fokus menjadikan Francesco Camarda sebagai penyerang kedua.
Berikut adalah beberapa faktor penting mengenai situasi pelapis lini serang Rossoneri saat ini:
- Visi Jangka Panjang: Kontrak Camarda baru saja diperpanjang hingga tahun 2031 yang menunjukkan keinginan kuat klub untuk mengembangkan penyerang masa depan secara internal.
- Nol Menit Bermain: Pemain muda potensial tersebut sama sekali belum pernah melepaskan rompi cadangannya dan hanya melakukan pemanasan di pinggir lapangan selama tiga pertandingan awal.
- Perdebatan Debut: Sebagian pihak berharap ia akan tampil sebagai starter saat menjamu Lecce pada 20 September mendatang atau di ajang Liga Europa ketimbang diturunkan di laga-laga besar.
Hal yang sama, meski dengan nuansa yang sedikit berbeda, juga dapat dikatakan untuk situasi comeback Christian Pulisic.
Pemain asal Amerika Serikat itu belum juga menginjakkan kakinya di lapangan kompetitif meski telah berlatih rutin bersama tim selama beberapa pekan.
Menghindari Risiko Cedera Fatal

Pulisic sejatinya dianggap sebagai opsi potensial untuk peran “false nine” yang diyakini mampu mengubah struktur serangan tim secara drastis saat dibutuhkan.
Cedera yang dialaminya pada ajang Piala Dunia tidak diragukan lagi telah memengaruhi masa persiapan pramusimnya secara signifikan.
Namun, dengan semakin dekatnya jadwal pertandingan melawan Lazio, sangat masuk akal untuk berasumsi bahwa ia akan segera mendapatkan menit bermain perdananya musim ini.
Bursa transfer bulan Januari masih sangat jauh dan sejauh ini tidak terlihat adanya upaya konkret dari manajemen untuk mencari penyerang pelapis pada musim panas lalu.
Amorim kini wajib memantau kekuatan fisik dan mental rekan senegaranya tersebut secara saksama agar krisis lini depan tidak menjadi kenyataan.
Jika terus dipaksakan tanpa istirahat yang cukup, Tuttosport memperingatkan bahwa sang penyerang andalan tersebut akan sangat rentan dan “berisiko mengalami korsleting”.




