Kisah Kutukan Gol Hantu Sulley Muntari

Berita AC Milan
Photo: Getty Images

Berita AC MilanMusim 2011-2012 mungkin bisa menjadi musim yang tak akan bisa dilupakan oleh para Milanisti. Di musim tersebut Milan yang berstatus sebagai juara bertahan Serie A harus rela gelarnya direbut dengan cara yang tidak sportif.

AC Milan yang berposisi sebagai pemimpin klasemen akhirnya bertemu dengan tim peringkat 2, Juventus, pada pekan ke-25 liga Serie A. Kala itu I Rossonerri mampu memimpin lebih dulu melalui tembakan roket Nocerino dari luar kotak penalti pada menit ke-15.

Bacaan Lainnya

Anak asuh Maximiliano Allegri berpeluang untuk menggandakan keunggulan melalui tandukkan Sulley Muntari. Saat itu bola sudah memasuki gawang Juventus yang dikawal oleh Gianluigi Buffon. Muntari pun sudah melakukan selebrasi, akan tetapi wasit tak menganggapnya demikian.

Sang wasit, Paolo Tagliavento, tak mengesahkan gol dari Muntari. Padahal dari tayangan ulang sangat jelas bahwa bola sudah melewati garis gawang. Celakanya lagi, Juventus mampu menyamakan kedudukan melalui Alessandro Matri. Skor 1-1 pun bertahan sampai laga bubaran.

Kala itu Gianluigi Buffon mengelak tuduhan bahwa dirinya sudah tahu bola sudah memasuki gawang. Namun, pemain yang belum pernah merasakan manisnya gelar Liga Champions itu mengaku juga tak akan memberitahu wasit andai dia tahu bola sudah melewati garis gawangnya.

“Saya akan mengulangi kata-kata saya lagi, jika saya tahu bola sudah melewati garis gawang, maka saya takkan mengatakan apapun, saya tak akan mengubur tim saya. Saya sadar sepenuhnya. Lagipula, saya sudah memberikan teladan yang baik dalam banyak kesempatan.” ujar Buffon kala itu kepada media Sky Sport.

Setelah pertandingan itu, mental para pemain Milan mulai goyah dan kemenangan pun sulit untuk diraih di pertandingan-pertandingan berikutnya. Puncaknya adalah ketika akhirnya posisi mereka disalip Juventus dan harus merelakan Scudetto jatuh ketangan tim Zebra.

Tentu tindakan tidak sportif Buffon telah membuat sang pencetak gol, Sulley Muntari berang bukan kepalang. Kepada awak media, pria berkebangsaan Ghana itu mengaku jika ia sudah kehilangan respek pada Buffon.

“Dia jelas- jelas melihat bola tersebut melewati garis. Saya tidak mengidolakan siapapun di sepakbola. Tetapi bagaimanapun, saya mengira jika Buffon adalah pemain yang sportif” ungkap Muntari dikutip dari Tuttosport.

Lalu kemudian Muntari menutup wawancara dengan sebuah kutukannya yang begitu mahsyur yang berbunyi:

“Selama Buffon tidak mengakui gol itu, saya mengutuk sampai kapan pun Juventus tidak akan menjuarai Liga Champions lagi!” tegasnya.

Kutukan Muntari itu terbukti manjur. Sejak pertandingan tersebut, Bianconerri tampak begitu kepayahan saat berlaga di ajang paling elit Benua Biru itu. Berikut rincian kegagalan Juventus di ajang Liga Champions semenjak tragedi gol hantu Muntari:

  • 2013 Juventus tersingkir dari Bayern Munich di babak 8 besar
  • 2014 Juventus tersingkir difase grup
  • 2015 Juventus kalah di babak final dari Barcelona
  • 2016 Juventus tersingkir dari Bayern Munich di babak 16 besar
  • 2017 Juventus kalah di babak final dari Real Madrid
  • 2018 Juventus tersingkir dari Real Madrid di babak 8 besar
  • 2019 Paris Saint Germain tersingkir dari Manchester United di babak 16 besar
  • 2020 Juventus tersingkir dari Lyon di babak 16 besar
  • 2021 Juventus tersingkir dari FC Porto di babak 16 besar
  • 2022 Juventus tersingkir dari Villarreal di babak 16 besar.

Bukan cuma Muntari saja yang mengecam tidak disahkan golnya ke gawang Juventus. Ibrahimovic yang saat itu belum pindah ke PSG juga sangat berang hingga menyebut bahwa gol hantu muntari itu adalah tragedi besar dalam sepakbola.

“Fakta bahwa gol Muntari tak terlihat oleh hakim garis adalah tragedi untuk sepak bola. Seusai pertandingan, saya lebih merasa kecewa ketimbang marah. Setiap orang bisa melihat bahwa itu gol.” ungkap Ibrahimovic kepada Football Italia.

“Anda bisa melakukan kesalahan dalam menilai posisi off-side, tetapi tidak untuk gol seperti itu,” tambah Ibra, merujuk gol Matri yang dianulir karena kedapatan offside,

Tak hanya dari kubu Milan, pihak UEFA juga turut ambil suara. Presiden UEFA kala itu, Michel Platini juga sangat menyayangkan tindakan Buffon yang dianggapnya telah berbohong.

“Buffon sudah terlalu berlebihan dengan kata-katanya itu, antara Turin dan Milan tidak boleh ada perang. Jika wasit menanyakannya dan dia menjawab ‘tidak’, maka dia menjadi seorang pembohong.” ucap Platini dilansir dari Tempo.

Sang wasit pemimpin pertandingan dalam laga itu, Paolo Tagliavento, pada pertengahan tahun 2018 silam menyebut jika tragedi gol hantu Muntari tersebut adalah kesalahan terbesarnya selama menjabat sebagai pengadil lapangan.

“Saya merasa bahwa bola telah benar-benar melewati batas, jika Anda melihat gambar saya sudah memiliki lengan untuk menunjuk ke lini tengah,” tutur Tagliavento kepada laman Gazzetta dello Sport.

“Tapi, saya menerima ‘tidak’ dari asisten wasit yang berada di posisi terbaik, sementara saya berada di tepi area, dia fokus pada offside dan tidak bisa melihat gawang.

“Menganulir gol Muntari saat menghadapi Juventus adalah kesalahan terbesar saya. Jika kejadian itu terjadi saat ini, saya memiliki kesempatan untuk menghindarinya (berkat bantuan VAR),” tutupnya.

Meski kejadian itu sudah lama berlalu, namun luka lama itu ternyata masih belum sembuh juga. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh mantan wapres Milan, Adriano Galliani, yang beberapa waktu lalu mengenang peristiwa kelam dalam sejarah sepakbola Serie A itu.

Pria yang saat ini sudah berusia 77 tahun itu mengatakan andai saja AC Milan berhasil memenangi laga itu, maka besar kemungkinan timnya akan menyabet gelar Scudetto kedua secara beruntun. Dengan itu, maka mereka bisa mendapatkan uang tambahan tanpa perlu menjual megabintangnya, Ibrahimovic dan Thiago Silva ke PSG. Lebih-lebih bisa mendatangkan Tevez yang sudah dekat dengan kesepakatan dengan Galliani.

“Itu [gol Muntari] seharusnya disahkan dan kami bisa saja memenangkan gelar juara musim itu,” buka Galliani dilansir dari Libero.

“Sejarah bisa saja berbeda. Kami menjual Ibrahimovic dan Thiago Silva pada akhir musim itu, dua sosok juara yang masih bermain di level tertinggi,

“Jika keadaannya berbeda, mereka mungkin masih tetap menjadi pemain Milan dan kami juga mungkin bisa merekrut Carlos Tevez, yang sebaliknya bergabung dengan Juventus. Bersamanya kami bisa memenangkan tiga Scudetto Serie A beruntun.” pungkasnya.

Namun takdir berkata lain, Juventus yang akhirnya berhasil menjadi juara liga Serie A musim itu dan terus mendominasi kompetisi tertinggi Serie A sampai musim 2020/2021. Bahkan Carlos Tevez yang digadang-gadang Galliani bisa merumput bersama Milan di San Siro akhirnya memilih untuk bergabung dengan Juventus.

Meski terus merajai kompetisi Serie A, Juve terus kesulitan untuk berprestasi di ajang Liga Champions. Kondisi serupa juga menimpa Rossonerri yang sejak saat itu mulai kehilangan jati dirinya sebagai tim besar dunia dan kerap kali bongkar pasang pelatih, hingga akhirnya presiden Berlusconi memilih untuk menjual klub tercintanya.

Andai saja saat itu gol Muntari disahkan, mungkin Juventus dapat lebih berprestasi di kancah Eropa. Dua final Liga Champions musim 2014-2015 dan musim 2016-2017, harusnya Si Nyonya Tua bisa menangis bahagia karena juara, bukan malah menangis karena sebaliknya.

Pos terkait