Pelatih kepala Como, Cesc Fabregas, baru saja sukses membawa timnya meraih kemenangan krusial 2-1 atas Napoli. Di balik kemenangan tersebut, sang pelatih asal Spanyol secara terbuka mengakui bahwa ia memetik pelajaran berharga dari pertemuannya melawan AC Milan pada musim lalu.
Seperti diketahui, Fabregas sempat kesulitan saat berhadapan dengan taktik Massimiliano Allegri ketika pelatih gaek Italia itu masih menukangi Rossoneri musim lalu. Kala itu, Como harus rela menelan satu kekalahan dan satu hasil imbang, bahkan Fabregas sempat terlibat adu argumen dengan Allegri seusai laga leg kedua di Milan pada bulan Februari.
Kini, Fabregas akhirnya berhasil membalas dendam dan menaklukkan taktik Allegri lewat gol kemenangan dari Martin Baturina dan Anastasios Douvikas.
Berikut adalah poin-poin utama dari pernyataan Cesc Fabregas seusai laga:
- Pelajaran dari Milan: Fabregas menegaskan bahwa pengalaman menghadapi AC Milan racikan Allegri musim lalu menjadi kunci suksesnya membongkar taktik sang pelatih kali ini.
- Pujian untuk Luis Milla: Sang pelatih menilai gelandang Luis Milla sebagai sosok pemain jenius yang terlalu dipandang sebelah mata di Spanyol.
- Krisis Lini Depan: Como berencana mendatangkan Moise Kean untuk mengatasi jadwal padat dan mencegah terulangnya krisis cedera seperti yang dialami Alvaro Morata musim lalu.
Pelajaran Berharga dari San Siro

Dalam sesi wawancara seusai pertandingan, Fabregas tidak bisa menutupi rasa puasnya setelah berhasil mematahkan rekor buruknya saat berhadapan dengan tim asuhan Massimiliano Allegri.
Ia mengungkapkan bahwa timnya mampu membaca jalannya pertandingan dengan sangat baik, dan itu semua berakar dari pengalaman pahit saat menghadapi Milan musim lalu.
“Ini memiliki nilai yang luar biasa. Saya belajar sangat banyak dari pertandingan terbaru melawan Milan,” ungkap Fabregas kepada DAZN.
“Hari ini, kami mampu membaca permainan dengan baik. Kami bermain sangat luar biasa di babak pertama; di babak kedua, kami sadar kami bermain melawan para juara, tetapi kami mampu bertahan. Kualitas pemain yang mereka masukkan membuat saya berpikir mereka memiliki lebih banyak pergantian pemain yang tersedia. Rasanya seperti berada di dalam sauna sekarang.”
Milla yang Terlupakan & Perburuan Striker Baru
Selain mengomentari taktik, Fabregas juga memberikan pujian setinggi langit kepada gelandang asal Spanyol, Luis Milla. Pemain berusia 31 tahun itu kembali tampil sebagai starter dan menunjukkan performa yang solid di lini tengah.
Menurut Fabregas, kemampuan Milla sangat tidak dihargai (underrated) di tanah kelahirannya sendiri karena bayang-bayang nama besar seperti Pedri atau Rodri. Kini, Milla akhirnya mendapatkan panggung yang layak di Liga Champions.
Di sisi lain, mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu juga menyoroti kebutuhan mendesak timnya akan sosok penyerang baru. Meskipun Anastasios Douvikas tampil tajam dan selalu mencetak gol di dua laga pembuka Serie A, Fabregas sadar betul bahwa satu striker murni tidak akan cukup.

Como yang juga dikabarkan tengah bernegosiasi dengan Fiorentina untuk transfer Moise Kean, sangat membutuhkan kedalaman skuad agar bisa bersaing di Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.
“Jelas, saya mengharapkan seorang striker. Douvikas tidak bisa bermain sendirian di Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions secara terus-menerus. Kami cukup kesulitan dengan cederanya Morata musim lalu selama tiga bulan. Anda ingat kami sering bermain dengan skema false nine; bermain setiap tiga hari di level ini sama sekali tidak mudah,” pungkasnya.





