Perang urat saraf antara Beppe Marotta dan pemilik AC Milan, Gerry Cardinale, kembali memanas secara terbuka.
Ketegangan ini bermula ketika Cardinale menyindir kekalahan telak 5-0 yang dialami Inter dari PSG dalam sebuah wawancara mengenai perlunya modernisasi sepak bola Italia.
Presiden Inter tersebut tidak membuang waktu untuk memberikan balasan menohok menjelang laga melawan Verona pada hari Minggu lalu.
Marotta dengan bangga menunjuk pada deretan trofi yang telah dimenangkan oleh Nerazzurri dalam enam tahun terakhir.
Klaim Sepihak Sebagai Tim Ikon Kota
Kini, sang eksekutif kembali melontarkan serangan tajam yang secara khusus menyasar martabat Iblis Merah.
Biarkan tetangga sebelah sibuk dengan kesombongannya, mari kita tetap dukung Iblis Merah dengan elegan memakai Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Dalam sesi latihan terbuka di Arena Civica pada hari Kamis lalu sebagai bagian dari perayaan gelar juara mereka, Marotta memberikan pernyataan resmi kepada DAZN dan Sky.
“Ini adalah malam yang spesial.”
“Kami ingin, seperti yang saya katakan, mengadakannya di arena ini yang merupakan ikon kota, karena kami adalah tim kota ini, satu-satunya klub dengan dua bintang di kota Milan.”
“Kami satu-satunya di sini, dan itu merupakan sumber kebanggaan,” ucapnya seperti dikutip dari Calciomercato.com.
Perseteruan ini semakin mempertegas jurang perbedaan antara kedua kubu yang saling bersaing secara fundamental.
- Sindiran Cardinale: Gerry Cardinale sebelumnya menggunakan kekalahan 5-0 Inter sebagai contoh nyata dari sistem sepak bola yang gagal dimodernisasi.
- Arogansi Dua Bintang: Marotta tanpa ragu menggunakan status juara terbaru mereka untuk mengklaim gelar sebagai satu-satunya tim sejati di kota Milan.
- Sejarah Eropa: Meskipun tertinggal di kancah domestik belakangan ini, Milan masih unggul jauh dalam jumlah total trofi dan jarak pencapaian di pentas Liga Champions.
Pada akhirnya, roda panggung teater sepak bola akan terus berputar melintasi zaman tanpa memedulikan seberapa keras suara kesombongan bergema.
Ucapan angkuh dari tetangga sebelah ibarat awan mendung sesaat yang mencoba menutupi kilau abadi dari sang matahari.
Mereka mungkin sengaja melupakan fakta bahwa tujuh trofi telinga besar masih tersimpan agung dan tak tertandingi di dalam lemari kebesaran Casa Milan.
Biarkan mereka terus berpesta dan menari di bawah rintik hujan euforia domestik sesaat ini.
Sang Iblis Merah perlahan akan terus mengasah trisulanya dalam keheningan malam, bersiap untuk kembali membakar panggung Eropa dan mengingatkan semua orang mengenai siapa penguasa takhta yang sesungguhnya.

