Tekanan bertubi-tubi dari para penggemar setia AC Milan tampaknya mulai membuat posisi Giorgio Furlani di kursi CEO semakin goyah.
Di tengah gelombang protes yang menuntut perombakan manajemen, pengacara Felice Raimondo melalui profil Substack pribadinya merilis sebuah analisis hukum yang sangat menarik.
Raimondo membedah empat kemungkinan skenario yang bisa terjadi terkait masa depan Furlani dan struktur tata kelola Iblis Merah dalam waktu dekat.
Berikut adalah penjelasan rinci dari keempat skenario tersebut yang memetakan bagaimana proses transisi kepemimpinan di Casa Milan bisa terjadi.
Skenario 1: Pencabutan Delegasi, Bertahan di Dewan Direksi
“Furlani menyatakan kepada Cardinale ketidaksediaannya untuk melanjutkan sebagai administrator delegasi (CEO). Dewan menerima komunikasi ini dan secara formal mencabut delegasi ex pasal 2381 c.c. Furlani tetap menjadi anggota dewan untuk semua maksud dan tujuan — dengan hak, tugas, dan tanggung jawab terkait — tetapi tanpa kekuasaan eksekutif lagi.”
Skenario 2: Cardinale Menolak dan Mempertahankan Furlani Hingga Musim Gugur

“Harus diingat — dan inilah poin yang banyak diabaikan orang — bahwa delegasi administrator delegasi (CEO) tidak berada dalam ketersediaan Furlani, melainkan dewan direksi. Furlani dapat menyatakan ketidaksediaannya untuk melanjutkan, tetapi dia tidak bisa secara teknis ‘mengundurkan diri dari CEO’: dia hanya dapat mengkomunikasikan keinginannya kepada Cardinale, yang tetap bebas untuk tidak menerimanya dan mempertahankannya di jabatannya dalam kedua peran — sebagai CEO dan sebagai anggota dewan — hingga momen yang dianggapnya paling tepat. Praktik perusahaan dan preseden sejarah — dari Gazidis pada akhir 2018, hingga Furlani sendiri pada akhir 2022 — menunjukkan bahwa setiap perubahan di posisi puncak tiba di musim gugur, bukan saat kejuaraan masih berlangsung.”
Skenario 3: Mundur dari Dewan, Otomatis Lengser dari Posisi CEO
“Jika Furlani mengundurkan diri dari jabatan anggota dewan, dia secara otomatis juga kehilangan delegasi sebagai administrator delegasi. Alasannya sederhana: delegasi ex pasal 2381 c.c. diberikan oleh dewan kepada salah satu anggotanya. Jika status keanggotaan hilang, maka prasyarat hukum dari delegasi itu sendiri juga hilang. Dengan keluarnya Furlani, dewan akan turun dari sepuluh menjadi sembilan anggota, tepatnya jumlah minimum yang disyaratkan oleh pasal 15 statuta. Dewan tetap sah menjabat dan dapat melanjutkan dengan kooptasi anggota dewan baru ex pasal 2386 c.c., setelah itu memutuskan atribusi delegasi CEO. Bahkan dalam skenario ini Calvelli, yang sudah hadir di dewan, dapat menerima delegasi tanpa langkah perakitan lebih lanjut, atau dewan dapat menunjuk subjek eksternal melalui kooptasi dan mengaitkan delegasi dengan subjek tersebut.”
Skenario 4: CEO Eksternal dari Luar Dewan

“Cardinale dapat memilih untuk menunjuk subjek yang saat ini tidak terkait dengan tata kelola perusahaan. Dalam kasus ini prosedur dibagi menjadi dua fase wajib dan berturut-turut, yang bagaimanapun dapat diselesaikan dalam pertemuan dewan yang sama. Subjek baru pertama-tama harus dikooptasi sebagai anggota dewan ex pasal 2386 c.c. — tanpa perlu mengadakan pertemuan, dengan syarat bahwa mayoritas direktur yang ditunjuk oleh pertemuan tersebut tetap menjabat — dan baru setelah itu dapat menerima delegasi CEO melalui resolusi dewan sesuai dengan pasal 16 statuta dan pasal 2381 c.c.”
Sambil mengawal tuntas drama pergantian manajemen di tubuh Iblis Merah, pastikan Anda tetap tampil gaya dengan Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Analisis Redaksi

Pemaparan dari pengacara Felice Raimondo ini memberikan pencerahan hukum yang sangat krusial bagi kita semua yang sedang mendesak adanya revolusi di jajaran manajemen.
Fakta bahwa Furlani tidak bisa serta-merta “mengundurkan diri” dari kursi CEO tanpa persetujuan dewan dan Gerry Cardinale menunjukkan betapa kakunya sistem birokrasi korporat RedBird.
Skenario terburuk yang bisa terjadi adalah Skenario 2, di mana Cardinale keras kepala dan memaksa Furlani bertahan hingga musim gugur, mengabaikan fakta bahwa tim butuh perencanaan bursa transfer musim panas yang matang dengan figur yang baru.
Skenario 3 dan 4 adalah opsi yang paling menjanjikan jika kita menginginkan perubahan arah yang radikal. Mendatangkan figur eksternal yang benar-benar paham sepak bola untuk mengambil alih kendali eksekutif adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan DNA juara AC Milan yang telah hilang.





