Dilarang melakukan kesalahan, karena Massimiliano Allegri memang benar, lalu apa yang akan dilakukan Gerry Cardinale untuk menanggapi situasi ini?
Sungguh berbahaya jika tim tidak segera bangkit setelah menelan rentetan hasil buruk belakangan ini.
AC Milan dituntut wajib menang pada sore hari ini melawan Verona, di mana sebuah kesuksesan akan memungkinkan mereka menjalani persaingan tiket Liga Champions dengan lebih tenang.
Jangan pernah menganggap laga ini mudah meskipun skuad Gialloblu baru saja menelan empat kekalahan beruntun di kejuaraan.
Hal ini dikarenakan tren Rossoneri sendiri juga tidak jauh berbeda dengan menderita tiga kekalahan menyakitkan dalam empat pertandingan terakhir di liga.
Momen saat ini sangatlah krusial dan merupakan fase paling pelik sejak Massimiliano Allegri memutuskan untuk kembali menangani Milan.
Hal tersebut berlaku merata, baik untuk masalah teknis di atas lapangan hijau maupun masalah manajemen di luar lapangan.
Sensasi yang muncul di benak publik adalah bahwa performa buruk di lapangan telah terkena dampak langsung dari apa yang sedang terjadi antara pihak klub dan pelatih.
Masalah-masalah yang ada masih persis sama dengan apa yang selalu muncul dalam beberapa tahun terakhir era kepemimpinan baru ini.
Kurangnya ambisi, minimnya persatuan, serta banyaknya perbedaan pendapat terus membayangi keseharian tim.
Ditambah lagi dengan sikap tidak menghargai peran dan wewenang masing-masing sosok di dalam tubuh internal klub.
Dan jika seseorang sekaliber Allegri saja berisiko mencapai titik di mana ia ingin menyerah, maka bagi siapa pun yang masih ragu, situasi klub saat ini benar-benar sangat serius.
Rentetan Kekecewaan Massimiliano Allegri

Sang pelatih terpaksa harus terus-menerus menelan berbagai pil pahit kekecewaan akibat ulah manajemen.
Kekecewaan itu bermula sejak musim panas lalu ketika ia meminta penjualan Santiago Gimenez demi mendatangkan seorang penyerang tengah sejati yang bisa diandalkan.
Permintaan krusial tersebut sama sekali tidak dipenuhi oleh pihak manajemen klub.
Ia kemudian menginginkan tambahan amunisi penting di lini pertahanan, namun alih-alih merekrut Manuel Akanji, Milan justru mendatangkan pemain muda tak dikenal bernama Odogu.
Belum lagi kita harus mengingat kejadian di Perth, di mana CEO Giorgio Furlani bersikeras membawa tim ke Australia untuk laga ekshibisi di tengah-tengah kejuaraan, sebuah ide yang selalu ditentang keras oleh Allegri.
Kemudian masuk pada bursa transfer bulan Januari, hanya Niclas Fullkrug yang datang sementara transfer Jean-Philippe Mateta nyaris diselesaikan manajemen tanpa sedikit pun melibatkan pandangan teknis pelatih.
Dalam kasus transfer musim dingin tersebut, janji untuk mendatangkan seorang pemain bertahan juga kembali menguap begitu saja tanpa jejak yang jelas.
Di tengah carut-marutnya kondisi internal manajemen, pastikan Anda tetap setia mendukung skuad kebanggaan kita dan tampil gaya dengan Kaos AC Milan keren ini melalui ๐ Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Kebisuan Klub dan Masa Depan Suram

Belum lagi kita tidak boleh melupakan kurangnya dukungan dari pihak direksi dalam hal komunikasi ke ruang publik untuk membela pelatih mereka.
Dalam kasus rumor pendekatan dari timnas Italia, jika sosok seperti Adriano Galliani masih berada di dalam klub, isu tersebut (meskipun benar adanya) hanya akan bertahan beredar selama lima menit saja.
Sebuah pernyataan tegas dari manajemen pasti akan langsung menghentikan rumor tersebut sejak awal dan menjamin ketenangan lingkungan internal klub.
Kita tentu akan terus memantau perkembangan situasi yang membara ini menjelang datangnya jeda musim panas mendatang.
Namun, memulai kembali semuanya dari awal dengan sosok pelatih baru hanya akan berarti bahwa tim harus kembali menghadapi tahun nol untuk kesekian kalinya.
Siklus pergantian ini akan terus diwarnai oleh gagasan abadi tentang membangun sebuah masa depan yang pada akhirnya tidak akan pernah terwujud.
Dan argumen yang sama mengenai butuhnya stabilitas tentu saja juga berlaku untuk nasib posisi direktur olahraga saat ini.
Kemarin, Allegri telah memperjelas niatnya untuk terus melanjutkan proyek kepelatihannya di San Siro secara tegas.
Namun ia hanya bersedia melakukannya jika Milan mulai beroperasi layaknya sebuah klub sepak bola yang normal baik dalam hal mekanisme perekrutan maupun ambisi di lapangan.
Di tengah semua kekacauan ini, bagaimana mungkin Gerry Cardinale bisa terus menerima kenyataan bahwa setiap tahun klub miliknya selalu berubah menjadi sebuah tong mesiu yang siap meledak kapan saja?
Bagaimana ia bisa terus menerima adanya perpecahan pandangan dan suara yang terus-menerus terjadi di dalam jajaran eksekutif klub?
Sementara itu di sisi lain, musuh bebuyutan kita Inter Milan kini tengah bersiap untuk kembali memenangkan gelar Scudetto mereka yang berikutnya dengan mudah.
Pemilik Milan asal Amerika Serikat tersebut seolah menjadi jaminan kesuksesan finansial, namun sayangnya kesuksesan olahraga justru dinikmati oleh klub rival.
Sejak kedatangannya, klub Rossoneri bahkan tidak pernah lagi mampu mendekati gelar juara liga dan ini membuat nasib Iblis Merah menjadi sangat malang dan menyedihkan.
Analisis Redaksi

Opini tajam dari Andrea Longoni ini merangkum secara komprehensif akar masalah yang membuat langkah kebangkitan AC Milan selalu terhenti di tengah jalan.
Sikap keras kepala manajemen yang selalu mengabaikan rekomendasi pelatih di bursa transfer telah menciptakan ketidakharmonisan akut di dalam pusat pelatihan Milanello.
Mendatangkan pemain muda tak dikenal atau penyerang yang tidak sesuai dengan skema taktis Allegri adalah sebuah pemborosan finansial yang mengkhianati ambisi klub itu sendiri.
Sikap diam yang ditunjukkan oleh Giorgio Furlani dan Gerry Cardinale di tengah terpaan isu yang menggoyang stabilitas tim juga menjadi preseden buruk bagi kredibilitas kepemimpinan mereka.
Jika Cardinale tidak segera turun tangan membersihkan benalu perpecahan di kursi manajemen dan mulai memperlakukan klub selayaknya institusi sepak bola yang mendambakan gelar juara, maka mimpi buruk melihat Inter terus mendominasi Italia akan menjadi kenyataan pahit yang abadi.





