Kiprah memukau Mario Gila pada awal kampanye musim ini telah sukses menyihir jutaan pasang mata dan menjadikannya pilar tak tergantikan di jantung pertahanan AC Milan.
Mantan palang pintu tangguh Lazio ini terbukti mampu melampaui ekspektasi publik San Siro. Fleksibilitasnya kembali teruji ketika ia diturunkan sebagai bek kanan darurat saat melawan Lecce, membuktikan bahwa atributnya jauh melampaui sekadar kemampuan bertahan tradisional dengan akselerasi tajam dan kedisiplinan tingkat tinggi.
Tampil menggantikan Gerry Cardinale sebagai pembicara utama di ajang bergengsi Festival dello Sport, Gila secara blak-blakan membongkar seluruh dinamika di balik layar, mulai dari keputusannya berlabuh ke Casa Milan hingga rahasia ruang ganti di bawah era baru Ruben Amorim.
Menolak Inter Milan dan Misi Suci Proyek RedBird
Terkait kepindahannya di bursa transfer musim panas, Gila tak ragu membeberkan bahwa rival sekota, Inter Milan, sejatinya sempat mencoba untuk membajaknya. Namun, panggilan sejarah dari panji Rossoneri terbukti jauh lebih menggoda.
“Ada beberapa tim, tetapi saya memilih Milan karena mereka adalah tim yang, ketika memanggil Anda, memiliki sejarah yang begitu kuat, sulit untuk mengatakan tidak.”
“Mungkin klub lain berada di momen yang lebih memuaskan, tetapi membantu Milan kembali ke jalur kemenangan adalah sesuatu yang tidak dapat Anda temukan di tempat lain. Bermain untuk tim seperti itu dan mencoba membantu mereka menang akan jauh lebih memuaskan daripada bermain untuk tim yang sudah menang.”
Ia juga menyoroti kedekatan emosional Gerry Cardinale dengan skuad. Sang pemilik dinilai sangat aktif berkomunikasi dan bersedia mendengarkan masukan dari para pemimpin tim seperti Luka Modric, Matteo Gabbia, dan Mike Maignan, yang memberikan motivasi ekstra bagi seluruh pemain.
Evolusi Taktik Amorim dan Ambisi Taklukkan Eropa

Membahas mengenai visi kepelatihan Ruben Amorim, bek asal Spanyol ini memberikan gambaran tajam yang membedakannya dengan mantan pelatihnya di Lazio, Maurizio Sarri.
“Sarri mengajari saya banyak hal. Di lapangan, dia tangguh dan sangat tradisional serta taktis. Ada perbedaan dengan Amorim: Amorim adalah pelatih modern, ia lebih suka maju ke depan, menuntut kelengkapan, dan suka keluar dengan bola dari belakang.”
Gila sangat menikmati peran barunya, termasuk saat ditempatkan sebagai bek kanan kala melumat Lecce, karena memberikannya stimulasi baru untuk lebih banyak membantu serangan. Terkait target klub, ia memberikan pandangan yang sangat realistis namun tetap ambisius.
- Target Scudetto & Liga Champions: Meski Milan saat ini harus berlaga di Liga Europa usai kegagalan musim lalu, ia menegaskan bahwa ambisi mutlak skuad adalah kembali ke Liga Champions dan memburu gelar Scudetto.
- Peta Persaingan: Ia mengakui kematangan proyek Inter Milan, AS Roma, hingga tim kuat seperti Como, Napoli, Atalanta, dan Juventus, yang membuat Serie A jauh lebih kompetitif ketimbang La Liga atau Premier League.
- Potensi Liga Europa: Gila sangat yakin Milan bisa menembus semifinal atau final, memprediksi potensi bentrokan epik melawan Juventus, Benfica, atau Bournemouth.
- Dukungan untuk Goncalo Ramos: Skuad dituntut untuk bekerja ekstra keras demi melayani Ramos, yang diyakini sebagai penyerang kunci yang akan segera menemukan gelontoran golnya.
Magis Modric, Insiden Ancelotti, dan Inspirasi Sang Idola
Masa lalu Gila di akademi Real Madrid juga menyimpan cerita unik. Ia mengenang momen magis bersama Carlo Ancelotti dan reuni indahnya dengan Luka Modric di San Siro.
“Saya pernah memukul Rodrygo beberapa kali di sesi latihan dan dia berteriak: ‘Dia selalu sama, Carlo.’ Dan Ancelotti datang untuk memberi tahu saya bahwa saya harus menjaga diri saya sendiri.”
Kini bermain bersama Modric di Milan, Gila mengaku takjub dengan kerendahan hati sang peraih Ballon d’Or dan enam trofi Liga Champions tersebut. Baginya, Modric adalah pemimpin sejati yang memberikan teladan sempurna di setiap jengkal lapangan.
Berbicara soal idola masa kecil, ia sangat mengagumi gaya agresif Sergio Ramos. Namun di Milan, pandangannya tertuju pada legenda abadi Alessandro Nesta, mengingat keduanya memiliki jalur karier yang sama: pindah dari Lazio menuju AC Milan.
Francesco Camarda, Misi Timnas, dan Penghormatan Baresi

Di ruang ganti, Gila merasakan kehangatan luar biasa. Ia banyak belajar dari komando vokal Mike Maignan serta etos kerja pantang menyerah dari Matteo Gabbia. Ia juga memberikan perhatian khusus kepada mutiara muda klub, Francesco Camarda.
“Saya melihat Camarda sebagai adik laki-laki. Milan harus sabar dengannya, dia adalah permata. Jika Anda memberinya kepercayaan yang tepat tahun ini, dia bisa berhasil sebagai pemain Milan.”
Meski belum mendapat panggilan tim nasional Spanyol, Gila menjadikan kesuksesan La Furia Roja sebagai motivasi ekstra, sembari memuji wonderkid Lamine Yamal yang ia jagokan memenangi Ballon d’Or.
Sebagai penutup yang emosional, sang bek mengungkapkan rasa duka citanya yang mendalam atas berpulangnya legenda agung klub, Franco Baresi. Penghormatan luar biasa saat laga melawan Venezia menjadi saksi betapa besarnya cinta klub kepadanya. Skuad Merah Hitam kini bertekad mati-matian untuk merengkuh kejayaan musim ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi sang kapten abadi.





