Ada malam-malam ketika sepak bola seolah mengajak kita naik ke puncak, lalu mendorong kita jatuh tanpa aba-aba. Begitulah yang dirasakan para Milanisti di Mapei Stadium. Sebuah gol indah membangkitkan harapan, tetapi hanya hitungan menit kemudian, satu kelengahan kecil di sepak pojok merenggut kemenangan yang sudah terasa begitu dekat.
AC Milan harus puas dengan hasil imbang dalam laga kembalinya mereka ke kompetisi Serie A, setelah pertandingan melawan Sassuolo berakhir 1-1. Ketika Adrien Rabiot membawa Milan unggul di 30 menit terakhir, tampaknya Rossoneri akan kembali menyuguhkan penampilan gemilang di babak kedua. Namun, ketidakmampuan mengantisipasi sepak pojok hanya beberapa menit kemudian memberi Sassuolo kesempatan menyamakan kedudukan dan membawa pulang satu poin.
Mengingat banyaknya peluang yang terbuang, terutama menjelang akhir babak pertama, hasil ini pasti terasa sangat menjengkelkan bagi Milan. Di sisi lain, tim tuan rumah, Neroverdi, juga merasa punya kesempatan untuk meraih ketiga poin.
Babak Pertama: Gabbia Ditandu, Peluang Emas Berguguran
Pelatih Ruben Amorim melakukan tiga perubahan dari tim yang mengalahkan Lecce sebelum jeda. Matteo Gabbia masuk ke lini belakang, sementara Yunus Musah dan Diego Moreira kembali mengisi posisi di susunan pemain yang di atas kertas berformasi empat bek.
Lima belas menit pertama penuh intensitas, tetapi minim kualitas di sepertiga akhir. Banyak duel terjadi di tengah lapangan tanpa menghasilkan peluang berarti. Tembakan jarak jauh Bakola yang melambung di atas mistar menjadi percobaan pertama pertandingan.
Milan mulai menekan di menit ke-11. Skema apik dari sisi kanan membuat Gonçalo Ramos mengirim bola tarik ke area berbahaya, tetapi Diego Moreira kehilangan bola tepat saat hendak melepaskan tembakan dari posisi bagus.
Lalu datang momen yang membuat hati para pendukung Milan mencelos. Menjelang menit ke-15, Matteo Gabbia terpaksa keluar lapangan dengan tandu. Sang bek tampak mengalami cedera serius di bagian pangkal paha setelah dilewati Laurienté di ruang terbuka. Koni De Winter masuk menggantikannya.
Sassuolo mengalami nasib serupa di menit ke-24. Setelah berbenturan dengan Christian Pulisic, Leysen harus dibantu keluar dan digantikan Odenthal oleh pelatih Aquilani.
Di menit ke-30, Milan sebenarnya bisa unggul lewat tendangan bebas dari area dekat sudut kanan. Umpan menggoda disambar Adrien Rabiot di tiang dekat dengan sentuhan bagus, tetapi bola melambung jauh di atas mistar.
Barulah di menit-menit akhir babak pertama Milan mulai memutar sekrup. Ramos dua kali nyaris mencetak gol. Tembakan kerasnya setelah masuk ke kaki kiri dari sisi kanan kotak penalti ditepis Muric. Tak lama kemudian, kiper itu kembali menggagalkannya dari jarak nyaris tanpa celah setelah umpan manis Samuel Chukwueze dari kanan.
Tujuh menit waktu tambahan menghadirkan beberapa peluang lagi, semuanya melibatkan Moreira. Ia melepaskan tembakan datar ke tiang dekat setelah putaran apik, tetapi Muric menyelamatkannya. Ia juga mengirim umpan silang untuk Strahinja Pavlovic, namun sundulan di tiang jauh itu dibelokkan sang kiper. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum.
Berikut rangkuman momen kunci babak pertama:
- Perubahan susunan pemain: Amorim memasukkan Gabbia, Musah, dan Moreira dari tim yang mengalahkan Lecce.
- Cedera Gabbia: ditandu keluar menjelang menit ke-15, digantikan Koni De Winter.
- Pemain andalan Milan: Ramos dua kali ditahan Muric, sementara Moreira dua kali mengancam di masa tambahan waktu.
- Peluang Pavlovic: sundulan tiang jauh dibelokkan kiper Sassuolo.
- Skor turun minum: 0-0 setelah tujuh menit waktu tambahan.
Babak Kedua: Gol Rabiot dan Hukuman Pahit dari Sepak Pojok

Amorim melakukan pergantian saat turun minum. Luka Modric masuk dan Pervis Estupinan keluar. Dari kick-off Sassuolo, Milan tampak berubah menjadi formasi 4-4-2.
Awal babak kedua jauh lebih terbuka, terutama di lini tengah. Tekel keras Laurienté terhadap Gila, tinggi di pergelangan kaki dengan sol sepatu terlihat, sempat diperiksa VAR, tetapi tidak berujung hukuman.
Menjelang menit ke-60, Ramos seharusnya bisa menguji kiper ketika mendapat ruang luas untuk menembak dari tepi kotak penalti. Sayangnya, tembakan melengkungnya melebar jauh dari tiang gawang. Di ujung lain, Mike Maignan tampil sigap menggagalkan umpan atau tembakan dari sudut sempit Adzic, yang lolos hingga garis akhir.
Akhirnya, di menit ke-63, Milan berhasil memanfaatkan peluang. Adrien Rabiot, sosok yang begitu sering muncul di saat dibutuhkan, menyelinap di belakang garis pertahanan Sassuolo dan menerima umpan Modric. Sang gelandang Prancis berbalik, lalu melepaskan tembakan roket ke tiang dekat yang menjebol gawang Muric.
Namun, kegembiraan itu tak bertahan lama. Kurang dari empat menit kemudian, Sassuolo menyamakan kedudukan akibat pertahanan bola mati Milan yang buruk. Sepak pojok Laurienté dikirim rendah tetapi tidak terlalu keras, dibiarkan lewat oleh Doig di tiang dekat, dan pemain pengganti Odenthal menyambarnya dari jarak dekat.
Amorim kembali berganti taktik di menit ke-78 dengan memasukkan Alphadjo Cisse menggantikan Pulisic di posisi gelandang serang. Cisse nyaris langsung memberi dampak. Dari sepak pojok pendek di sisi kiri, beberapa umpan satu-dua berujung tembakan pemain Italia itu dari sudut kotak penalti, dan Muric harus meregangkan badan untuk menepisnya.
Omari Hutchinson masuk menggantikan Chukwueze ketika waktu tersisa lebih dari lima menit. Meski ada tekanan di kedua sisi, terutama dari Sassuolo, hasil imbang akhirnya harus diterima.
Berikut garis waktu momen penting babak kedua:
- Turun minum, Modric masuk menggantikan Estupinan.
- Menit ke-63, Rabiot membawa Milan unggul lewat tembakan roket ke tiang dekat.
- Kurang dari empat menit kemudian, Odenthal menyamakan skor dari sepak pojok Laurienté yang dibiarkan Doig.
- Menit ke-78, Cisse masuk menggantikan Pulisic.
- Lima menit terakhir, Hutchinson menggantikan Chukwueze, skor tetap 1-1.
Luka Ini Harus Jadi Bahan Bakar: Forza Milan!
Satu poin di Mapei Stadium memang terasa seperti dua poin yang hilang. Peluang demi peluang terbuang, dan sebuah sepak pojok menjadi pengingat pahit bahwa kemenangan bukan hanya soal mencetak gol, tetapi juga soal menjaga setiap detik setelah gol itu tercipta.
Namun, Milan selalu tahu cara bangkit. Adrien Rabiot sekali lagi menunjukkan mengapa ia menjadi pemimpin di saat sulit, Luka Modric menghadirkan kelas dan ketenangan, dan para pemuda Rossoneri terus memperlihatkan keberanian. Doa kita juga menyertai Matteo Gabbia agar segera pulih dan kembali menjaga benteng merah-hitam.
Tegakkan kepala, Rossoneri! Pelajaran dari malam ini akan menjadi bahan bakar untuk pertandingan berikutnya. Karena kita adalah Milan, dan kita tidak pernah menyerah. Forza Milan, sempre!





