Penyesalan AC Milan: Kisah Pemain yang Hilang dan Peluang yang Terlewatkan

Charles De Ketelaere
Photo: www.acmilan.com

Berita AC Milan – Tidaklah asing dalam dunia sepakbola bahwa para pemain bisa mengalami kesulitan di klub tertentu dan kemudian bersinar di klub berikutnya. Namun, bagi AC Milan, daftar kasus ini menjadi hal yang menarik untuk disimak.

Edisi pagi La Gazzetta dello Sport hari ini memuat halaman berjudul ‘Penyesalan Diavolo’, yang menyoroti eksploitasi dua gelandang serang yang meninggalkan klub musim lalu.

Pertama-tama, Brahim Diaz, yang golnya membawa Real Madrid mengalahkan RB Leipzig di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Gol yang mengingatkan pada keberhasilannya melawan Spurs dalam edisi sebelumnya.

Dua malam lalu, Brahim mengungkapkan perasaannya, “Saya merasa hebat di Madrid, tapi saya juga baik-baik saja di Milan. Saya mengalami momen penting di sana dan berterima kasih kepada semua orang atas tiga tahun yang luar biasa. Saya tetap mengikuti mereka, lebih sering berkomunikasi dengan Theo Hernandez daripada dengan pacar saya.”

Namun, Charles De Ketelaere, pemain Belgia lainnya, tampaknya tidak pernah cocok dengan Milan meski telah memainkan 40 pertandingan tanpa mencetak gol. Kiprahnya yang cemerlang di Atalanta dengan 10 gol dalam musim pertamanya membuat Rossoneri merenung.

Kisah Franck Kessie dan Hakan Calhanolgu pun tak kalah mengecewakan. Kessie hijrah ke Barcelona, sementara Calhanolgu ke Inter, tanpa Milan mendapatkan bayaran transfer untuk keduanya.

Kessie, yang sebelumnya menjadi pilar Milan, sempat meraih sukses di Barcelona dan baru saja membantu Pantai Gading meraih gelar di Piala Afrika. Sementara Calhanolgu, yang meninggalkan AC Milan secara gratis, kini menjadi motor penggerak permainan Inter.

Namun, pertanyaan muncul tentang formasi tiga gelandang dengan Kessie, Calhanoglu, dan Lucas Paquetà. Paquetà, yang dibeli dengan harga tinggi, gagal memenuhi ekspektasi, dan kini menjadi pemain pilar di West Ham setelah singgah sebentar di Lyon.

Meski begitu, AC Milan tetap teguh pada prinsipnya, menolak mengorbankan stabilitas keuangan demi keberhasilan sementara. Hal ini tercermin dari kebijakan pembatasan pengeluaran gaji, meskipun harus melepas pemain secara cuma-cuma.

Pos terkait