Sangat sulit untuk mengukur seberapa besar kecintaan para penggemar Rossoneri terhadap sosok penyerang kharismatik, Olivier Giroud.
Mulai dari yel-yel ikonik di laga derbi, raihan gelar Scudetto yang bersejarah, hingga aksi heroiknya saat terpaksa menjadi penjaga gawang darurat di menit-menit akhir pertandingan.
Penyerang asal Prancis tersebut telah memberikan begitu banyak hal dan menerima kasih sayang yang sama besarnya selama tiga tahun masa baktinya di San Siro.
Kini pada usia 39 tahun, Giroud masih tampil tajam membela klub Lille di kompetisi Ligue 1 dan telah sukses menorehkan 11 gol sepanjang musim ini bergulir.
Redaksi MilanNews.it melalui korespondennya, Alessandro Schiavone, baru saja mendapat kehormatan untuk mewawancarai sang juara dunia tersebut secara eksklusif.
Berikut adalah bagian pertama dari wawancara yang sangat emosional ini, di mana bagian keduanya akan segera diterbitkan pada hari Kamis mendatang.
Rasa Rindu pada San Siro
Ketika ditanya mengenai apa yang pertama kali terlintas di pikirannya saat mendengar kata Milan, Giroud tak kuasa menahan rasa nostalgianya.
- Makna AC Milan Baginya: “Gairah untuk sepak bola, San Siro, Scudetto, dan cinta luar biasa dari para penggemar saat saya berada di lapangan.”
- Rasa Rindu yang Mendalam: “Saya sangat bernostalgia dengan Milan, namun saya tetap menjalin kontak yang baik dengan mantan rekan setim dan para staf di sana.”
- Harapan untuk Skuad Allegri: “Saya sangat merindukan klub ini, tempat di mana saya menghabiskan tiga tahun yang fantastis, dan sekarang saya berharap klub dapat kembali berlaga di Liga Champions tahun depan.”
- Klub Idola Masa Kecil: “Sangat sulit untuk mengatakannya, namun saya sangat bersyukur bisa bermain di tim-tim yang saya dukung sejak kecil seperti Arsenal dan Milan.”
- Kebanggaan Membela Panji Rossoneri: “Ketika saya tiba di sana, saya menyadari bahwa Milan adalah bagian dari klub-klub yang berbeda dengan sejarah istimewa, dan saya sangat bangga pernah bermain untuk mereka.”
Sambil mengenang magis dari sosok Olivier Giroud di lini depan, pastikan Anda tetap tampil gaya dan tunjukkan identitas sejati dengan Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Pembelaan untuk Kutukan Nomor 9

Isu mengenai kutukan nomor punggung sembilan yang kini kembali menghantui para penyerang baru Milan (Fullkrug, Gimenez, dan Nkunku) juga tak luput dari perhatian Giroud.
Ia memberikan pembelaan elegan bahwa seorang penyerang tidak bisa disalahkan sepenuhnya jika suplai aliran bola dari tim tidak berjalan dengan maksimal.
- Menyikapi Kutukan Striker: “Apa yang Anda ingin saya katakan soal itu? (tertawa), ini mungkin musim di mana ada begitu banyak tekanan berat pada para pemain bernomor punggung sembilan.”
- Pentingnya Dukungan Tim: “Sangat mudah untuk menyalahkan para penyerang ketika tidak mencetak gol, padahal sangat fundamental untuk memiliki tim di belakang yang mampu membuat perbedaan.”
- Kritik Atas Tuduhan Sepihak: “Ketika si nomor sembilan tidak mencetak gol, orang selalu berkata bahwa itu adalah kesalahannya, saya sungguh tidak menyukai pandangan seperti itu.”
- Kenangan Gol Favorit: “Dua gol ke gawang Inter Milan adalah momen favorit saya karena dari sanalah yel-yel ikonik ‘si è girato Giroud’ lahir.”
- Momen Paling Emosional: “Meskipun gol yang paling indah mungkin adalah saat melawan Spezia di menit terakhir, di mana saya melepas baju saya dan itu terasa sangat emosional.”
- Pesan Cinta Terakhir: “Tahun-tahun saya di Milan adalah bagian dari sejarah hidup saya dan sejarah klub ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa Milan akan selalu berada di dalam dada ini.”
Analisis Redaksi
Wawancara eksklusif bersama Olivier Giroud ini sungguh membangkitkan memori indah tentang kejayaan masa lalu yang belum terlalu lama berselang.
Sang penyerang veteran tidak hanya menunjukkan ketajamannya di atas lapangan, tetapi juga kelas dan kedewasaan mentalnya dalam menyikapi krisis yang sedang dialami oleh mantan timnya.
Pembelaannya terhadap barisan striker baru yang kesulitan mencetak gol musim ini menunjukkan bahwa sepak bola adalah permainan kolektif yang sangat bergantung pada suplai bola dari lini tengah.
Ungkapan rindu dan harapan tulusnya agar skuad asuhan Massimiliano Allegri mampu menembus zona Liga Champions menjadi bukti sahih bahwa darah merah hitam telah mengalir abadi di dalam nadinya.
Kita semua tentu sangat merindukan sosok penyerang petarung sepertinya yang selalu hadir memecah kebuntuan di momen-momen paling krusial dan sulit.





