Protes keras dari para pendukung AC Milan pada momen pra-pertandingan melawan Atalanta akhirnya benar-benar meledak di jalanan.
Sebuah iring-iringan besar yang dipimpin langsung oleh kelompok ultras Curva Sud bergerak perlahan menuju stadion San Siro dengan membawa amarah yang tak terbendung.
Di barisan paling depan, mereka membentangkan sebuah spanduk raksasa yang ditujukan langsung kepada Giorgio Furlani dengan makna yang sangat tidak bisa disalahartikan.
Selain spanduk, terdengar pula teriakan lantang dan paduan suara yang diarahkan secara spesifik kepada sang administrator delegasi Milanisti tersebut.
“Furlani pergi!”
“Keluarkan Furlani dari Milan kita!”
Bersamaan dengan aksi unjuk rasa tersebut, Curva Sud juga merilis sebuah fanzine yang berisi kritik sangat tajam terhadap kepemilikan Rossoneri saat ini.
Berikut adalah kutipan langsung dari pernyataan pembuka fanzine tersebut yang menyoroti memori indah masa lalu dan kehancuran masa kini.
“Tepat 4 tahun yang lalu kita merayakan kemenangan salah satu scudetto terindah dalam sejarah Milan, sebuah kejuaraan yang dimenangkan dengan mengagumi di lapangan semua komponen yang membuat tim itu menang bahkan ketika di atas kertas tidak menjadi favorit: keberanian, tekad, kekompakan, persatuan, keinginan untuk menang, kekuatan grup dan dukungan luar biasa dari para penggemar yang mampu mengubah darah menjadi api, sebuah konsentrat otentik dari MILANISMO yang memberi seluruh pendukung Rossoneri sebuah kemenangan yang tak terlupakan.”
“Dan hari ini, setelah 4 tahun, di mana kita telah tiba?”
“Tim pemenang itu, yang hanya membutuhkan sedikit tambahan dengan kaliber internasional untuk bercita-cita mencapai tujuan besar, telah dibongkar sepenuhnya oleh manajemen yang benar-benar tidak mampu dan tidak kompeten, dipimpin oleh GIORGIO FURLANI yang dengan keras kepala tetap berdiri di atas puing-puing kegagalan olahraganya yang terlihat oleh semua orang, kecuali mereka yang tidak memiliki kepentingan untuk mengusirnya dan mereka yang memusatkan visinya tentang Milan secara eksklusif pada perspektif keuangan dan spekulatif yang hanya didasarkan pada keuntungan ekonomi, yang secara tepat dan memalukan menginjak-injak sejarah Milan, kebesarannya, tradisinya, dan ambisi yang selalu menyertai para pendukung Rossoneri.”
Puncak Kefrustrasian Milanisti
โ#Furlani Vattene!โ ๐ดโซ๏ธ La #CurvaSud prima di #MilanAtalanta pic.twitter.com/e8jij7PDiO
โ Martin Sartorio (@MartinSa1988) May 10, 2026
Dari aksi protes dan pernyataan keras Curva Sud tersebut, kita dapat memetakan beberapa inti dari kekecewaan massal ini:
- Tuntutan Mundur Mutlak: Kehadiran spanduk dan nyanyian langsung yang meminta Furlani pergi menegaskan bahwa sang CEO sudah tidak memiliki ruang lagi di hati para penggemar.
- Nostalgia Scudetto Berdarah: Suporter masih mengingat jelas perjuangan heroik 4 tahun lalu yang diraih dengan keringat dan nilai-nilai sejati Milanismo, bukan sekadar hitungan di atas kertas.
- Pembongkaran Skuad Juara: Manajemen dituduh melakukan dosa besar dengan merusak kerangka tim juara yang seharusnya hanya membutuhkan sedikit perbaikan untuk bisa bersaing di level Eropa.
- Prioritas Finansial yang Buta: Fokus manajemen yang hanya tertuju pada neraca keuangan dan spekulasi ekonomi dinilai telah menginjak-injak tradisi serta sejarah besar institusi Iblis Merah.
Sambil terus mendukung aksi protes damai demi kebaikan masa depan klub, pastikan Anda tetap tampil gaya dengan Kaos AC Milan keren ini melalui ๐ Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Analisis Redaksi
Aksi turun ke jalan dari kelompok Curva Sud menjelang peluit panjang pertandingan ini adalah sebuah deklarasi perang terbuka antara para pendukung dengan jajaran direksi.
Pemandangan lautan manusia yang menyuarakan pengusiran CEO mereka sendiri merupakan sebuah tamparan paling memalukan bagi citra global kepemilikan RedBird.
Surat terbuka yang dirilis dalam fanzine mereka dengan sangat akurat merangkum apa yang dirasakan oleh jutaan penggemar di seluruh dunia terkait hilangnya identitas klub.
Mengorbankan ambisi olahraga semata-mata demi mencapai angka cantik dalam laporan keuangan adalah sebuah kesalahan filosofis fatal yang tidak akan pernah dimaafkan oleh publik San Siro.
Manajemen kini harus memilih antara terus bersikap tuli di atas singgasana arogansi mereka atau mundur secara teratur sebelum kehancuran moral di dalam klub ini mencapai titik yang tidak bisa diperbaiki lagi.





