Di tengah kekacauan yang melanda dunia AC Milan, musim ini telah berakhir dan musim baru akan segera dimulai.
Di klub-klub normal, ini adalah momen untuk memetik hasil perencanaan strategis yang telah disusun dari bulan-bulan sebelumnya.
Namun di Milan, seperti yang sering terjadi, semuanya telah dihapus bersih dan rasanya kita baru saja kembali ke titik awal.
Kemarin, sebuah pernyataan dari RedBird Capital Partners secara resmi mengumumkan berakhirnya hubungan kerja dengan CEO Giorgio Furlani, Direktur Olahraga Igli Tare, Pelatih Massimiliano Allegri, dan Direktur Teknis Geoffrey Moncada.
Kini semuanya mutlak berada di tangan Gerry Cardinale, Zlatan Ibrahimovic, dan Massimo Calvelli untuk menentukan arah klub selanjutnya.
Ketiga sosok ini harus menunjuk CEO, Direktur Olahraga, dan pelatih baru, dengan nama Andoni Iraola yang tampaknya paling santer dibicarakan saat ini.
Namun, penunjukan tersebut hanyalah batu pijakan pertama dari sebuah rencana yang jauh lebih besar dan kompleks.
Banyak pertanyaan muncul mengenai pemain mana yang akan dipertahankan, siapa yang akan dijual, dan bagaimana strategi transfer klub ke depannya.
Yang paling penting, seberapa krusial kewajiban finansial bagi RedBird untuk mengakhiri setiap musim dengan neraca keuangan yang positif?
Tidak Ada Suntikan Modal dari Cardinale
Jawabannya cukup sederhana dan terletak pada sifat dasar pemegang saham mayoritas Milan, yakni RedBird Capital Partners.
Sebagai sebuah dana investasi yang dipimpin oleh Gerry Cardinale, RedBird mengelola modal sekitar 10 miliar dolar dan berinvestasi di berbagai sektor, termasuk olahraga dan hiburan.
Saat awal berinvestasi di Milan, Cardinale berjanji kepada para investornya untuk memberikan keuntungan besar di masa depan ketika klub ini kelak dijual, kemungkinan besar setelah stadion baru selesai dibangun.
Dalam rentang waktu tersebut, sangat tidak mungkin baginya untuk menyuntikkan dana “cuma-cuma” melalui peningkatan modal hanya demi menutupi kerugian finansial yang dialami klub.
Mari obati kepahitan ini dan terus dukung kebangkitan skuad Iblis Merah dengan tetap tampil elegan memakai Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Poin Kunci Strategi Finansial RedBird

Berikut adalah beberapa catatan penting mengenai strategi bertahan hidup secara ekonomi yang akan diterapkan oleh manajemen baru Rossoneri:
- Tanpa Suntikan Dana: Gerry Cardinale dipastikan tidak akan melakukan peningkatan modal pribadi untuk menyeimbangkan neraca keuangan klub yang sedang merugi.
- Fokus Player Trading: Milan akan terus mengandalkan strategi membeli pemain dengan harga murah dan menjualnya semahal mungkin demi mendapatkan keuntungan modal (plusvalenza).
- Tumbal Kegagalan UCL: Hilangnya uang hadiah dari Liga Champions akan memaksa klub untuk kembali mengorbankan pilar penting demi menutup lubang anggaran di musim panas ini.
Player Trading Tetap Bertahan
Strategi jual beli pemain (player trading) akan terus memiliki peranan yang sangat penting, bahkan mungkin terlalu vital bagi kelangsungan klub ini.
Sistem ini digunakan baik untuk membiayai investasi baru maupun untuk menutupi kerugian anggaran akibat absennya pendapatan selangit dari Liga Champions.
Tahun lalu, Tijjani Reijnders harus dijual secara tergesa-gesa murni demi menyelamatkan laporan neraca keuangan musim 2024/25.
Pada musim panas 2025 lalu, klub juga telah melepas Malick Thiaw, Theo Hernandez, dan Noah Okafor dengan mencatatkan keuntungan modal yang besar.
Selain itu, pemain pinjaman seperti Tommaso Pobega, Lorenzo Colombo, dan Alex Jimenez telah dipermanenkan masing-masing oleh Bologna, Genoa, dan Bournemouth.
Yunus Musah kini akan kembali ke pangkalan, tetapi nasib Samuel Chukwueze masih menggantung di mana Fulham diharapkan mau menebusnya dengan harga sekitar 24 juta euro.
Secara garis besar, semua rentetan penjualan ini mungkin sudah cukup untuk tidak menutup tahun buku operasional dengan kerugian finansial.

Namun, bukan tidak mungkin Milan akan dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk mengulangi penjualan bintang besar layaknya kasus Reijnders.
Yang pasti, selama musim panas ini, klub harus menghadapi kenyataan pahit hilangnya pendapatan utama dari kompetisi kasta tertinggi Eropa.
Padahal, jumlah pemain dalam skuad harus ditingkatkan secara kualitas maupun kuantitas untuk berpartisipasi penuh di kompetisi Liga Europa.
Bagaimana cara manajemen menyelaraskan dua hal yang saling bertolak belakang ini, yaitu hilangnya pemasukan namun tingginya biaya operasional?
Jawabannya tentu saja dengan melakukan penjualan pemain lebih banyak lagi, persis seperti skema menyakitkan yang terjadi setahun yang lalu.
Kecuali jika Cardinale tiba-tiba memutuskan untuk menerima laporan kerugian dan menutupinya dari kantong pribadinya, yang mana ini adalah sebuah angan-angan yang sangat mustahil.
Padahal secara teknis hukum, Milan saat ini sudah keluar dari Perjanjian Penyelesaian (Settlement Agreement) UEFA.
Hal itu berarti mereka sebenarnya diizinkan untuk mengalami sedikit angka defisit selama beberapa tahun tanpa perlu merasa takut diketuk pintunya oleh pihak komisi disiplin di Nyon.





