AC Milan saat ini tengah berada dalam ancaman nyata untuk menyentuh titik terendah dalam sejarah modern mereka.
Perasaan kelam tersebut sangat mendominasi di sepanjang minggu ini, diawali dengan kegagalan tragis Iblis Merah menembus kualifikasi Liga Champions.
Mimpi buruk tersebut kemudian disusul oleh tragedi pemecatan massal yang menimpa pelatih Massimiliano Allegri, serta jajaran direksi Furlani, Tare, dan Moncada pada hari berikutnya.
Dengan adanya pembersihan radikal tersebut, publik sangat berharap Gerry Cardinale dan Zlatan Ibrahimovic sudah mengantongi sebuah rencana maupun proyek yang jelas.
Namun alih-alih memberikan pencerahan masa depan, situasi yang muncul ke permukaan saat ini justru hanyalah sebuah kebingungan massal yang sangat memprihatinkan.
Merespons kekacauan ini, Direktur Telelombardia, Fabio Ravezzani, melontarkan kritik yang sangat pedas mengenai momen kelam Milan, kelakuan Cardinale, dan nasib para pendukung setia.
Mari kawal terus revolusi manajemen Iblis Merah dengan tetap tampil keren dan nyaman memakai Kaos Milan Katun Anti Panas melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Poin Kunci Kritik Pedas Ravezzani
Berikut adalah akar permasalahan utama yang membuat tokoh media Italia tersebut murka terhadap kepemimpinan RedBird:
- Sombong dan Bodoh: Ravezzani menilai Cardinale sebagai sosok yang sangat arogan dan sama sekali tidak memahami betapa besarnya sejarah klub AC Milan.
- Lebih Parah dari Era Kaka: Titik terendah moral suporter saat ini dianggap jauh lebih buruk ketimbang saat Silvio Berlusconi menjual Ricardo Kaka ke Real Madrid.
- Mempermainkan Suporter: Fans sejati tidak pernah takut pada masa sulit, namun mereka tidak akan memaafkan manajemen yang terus-menerus mempermainkan mereka selama empat tahun terakhir.
Tamparan Keras untuk Kepemimpinan Cardinale

Melalui sebuah tulisan panjang di profil Facebook pribadinya, Ravezzani mengungkapkan rasa frustrasi publik dengan bahasa yang sangat lugas tanpa *filter*.
“Rangkaian kejadian terbaru di Milan ini benar-benar sangat menyedihkan dan mengecewakan,” buka Ravezzani dalam tulisannya.
“Andai saja Gerry Cardinale tidak begitu sombong dan sama bodohnya tentang sejarah klub ini, ia pasti akan menyadari efek dari perbuatannya.”
Ravezzani menegaskan bahwa manuver gila sang pemilik telah menenggelamkan suasana hati kelompok suporter ke titik yang sangat mengkhawatirkan.
“Titik terendah ini bahkan lebih parah daripada yang disentuh Berlusconi usai menjual Kaka ke Real Madrid, di mana pelanggan tiket musiman langsung anjlok separuhnya dalam sekejap,” tambahnya.
Lebih lanjut, jurnalis senior tersebut mengingatkan bahwa para penggemar sejati Rossoneri sejatinya adalah pejuang yang tidak pernah mundur saat klub berada dalam masa krisis.
“Coba pikirkan kembali saat pertandingan melawan Cavese di mana stadion San Siro tetap penuh sesak oleh lautan manusia meski tim sedang terpuruk di Serie B,” kenang Ravezzani.
Namun, ada satu garis merah yang tidak boleh dilewati oleh petinggi mana pun, yakni meremehkan kecerdasan para penggemar.
“Penggemar Milan tidak akan pernah memaafkan mereka yang mencoba membodohi dan mempermainkannya.”
“Dan sayangnya, hal memalukan itulah yang telah Cardinale lakukan secara terus-menerus selama kurang lebih empat tahun terakhir,” pungkasnya dengan tajam.





