Bintang andalan AC Milan asal Amerika Serikat, Christian Pulisic, akhirnya buka suara di tengah persiapan panas menjelang laga pembuka negaranya di ajang Piala Dunia 2026.
Sepanjang tahun ini, performa Pulisic bersama Rossoneri memang sempat menjadi sorotan karena gagal mencetak satu pun gol di kompetisi klub. Namun, sang winger akhirnya berhasil membungkam keraguan dengan mencetak satu gol dan satu assist ciamik saat laga persahabatan melawan Senegal baru-baru ini.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Gazzetta dello Sport pagi ini, Pulisic membeberkan banyak hal penting. Mulai dari pandangannya soal kekacauan manajemen di Casa Milan, kedekatannya dengan Mauricio Pochettino, hingga ambisi besarnya di turnamen akbar antarnegara ini.
Mari kawal terus revolusi manajemen Iblis Merah dengan tetap tampil keren dan nyaman memakai Kaos Milan Katun Anti Panas melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Keyakinan Penuh Pada AC Milan dan Pesona Taktis Pochettino
Ketika ditanya mengenai situasi AC Milan yang saat ini masih luntang-lantung tanpa kepastian pelatih kepala dan direktur baru, Pulisic menolak untuk ikut panik. Ia percaya penuh pada nama besar klub.
“Saya hanya bisa mengatakan bahwa AC Milan adalah klub yang hebat, dan saya pikir mereka akan membereskan semuanya… Pada akhirnya, saya yakin semuanya akan baik-baik saja, dan tim akan kembali ke tempat yang seharusnya. Namun, saat ini, fokus saya ada di sini, di Amerika,” ungkap Christian Pulisic dengan tenang.

Pulisic juga mengaku sama sekali tidak putus kontak dengan rekan-rekannya di Italia. Bahkan, ia juga menyempatkan diri menyapa para pemain Milan yang akan menjadi rivalnya di fase grup nanti.
“Ya, saya berhubungan dengan beberapa teman di sana. Kami telah berbicara, dan mereka bahkan mendoakan yang terbaik untuk saya di Piala Dunia. Secara umum, saya punya banyak teman yang sangat dekat di Italia. Tentu saja, saya juga sudah berbicara dengan mereka. Ada banyak pemain Rossoneri di sini… Saya tidak memikirkan tentang kami yang akan saling berhadapan, tetapi saya mendoakan yang terbaik untuk semuanya. Misalnya, saya berbicara dengan Santi (Gimenez), yang pertama kali turun ke lapangan untuk Meksiko. Dialah yang meruntuhkan dinding emosional itu,” tambahnya.
Menariknya, Pulisic juga memuji habis-habisan pelatih timnas Amerika saat ini, Mauricio Pochettino, yang kebetulan namanya juga santer dikaitkan dengan kursi kosong di San Siro. Berikut adalah beberapa poin kunci dari pandangan Pulisic terhadap sang juru taktik:
- Fokus Masa Kini: Pulisic menegaskan bahwa saat ini ia hanya menganggap Pochettino murni sebagai pelatihnya di tim nasional, tanpa memikirkan rumor ke Milan.
- Gaya Amerika Selatan: Sang winger sangat terkesan dengan gairah dan ide sepak bola khas Amerika Selatan yang dibawa oleh sang pelatih.
- Tuntutan Intensitas Tinggi: Pochettino dinilai sangat ketat dalam meminta anak asuhnya mengeluarkan energi besar dan bermain dengan intensitas yang konstan.
- Suntikan Mentalitas Juara: Kehadiran pelatih baru ini sukses menanamkan rasa percaya diri kepada skuad Amerika untuk tidak takut melawan tim raksasa mana pun.

Mengenai kekagumannya pada pendekatan taktis Pochettino, Pulisic menjelaskannya secara detail:
“Saya melihatnya hanya sebagai pelatih saya, di sini dan saat ini. Hubungan kami baik, sangat baik. Kami telah melakukan beberapa percakapan yang bagus dalam beberapa hari terakhir: saya tahu apa yang dia minta dari saya dan apa yang bisa saya berikan kepadanya. Saya pikir kami bersiap sebaik mungkin untuk turnamen ini. Saya tidak bermaksud membanding-bandingkan, tetapi saya pikir dia adalah pelatih Amerika Selatan pertama yang saya miliki dalam karier saya. Itu adalah pengalaman yang luar biasa, sebuah penemuan yang hebat. Saya suka gairahnya, saya suka ide-ide sepak bola yang dia bawa dengan gayanya. Dia menuntut energi besar dan intensitas konstan di atas lapangan.”
Pecah Telur, Ambisi Besar di Kandang, dan Ikatan Persahabatan
Berbicara mengenai tekanan jelang Piala Dunia yang digelar di kandang sendiri, Pulisic justru merasa jauh lebih matang ketimbang saat bermain di Qatar empat tahun lalu. Ia juga merasa antusias bisa berjuang bersama teman masa kecilnya yang kini membela Juventus, Weston McKennie.
“Kami benar-benar tumbuh bersama. Sekarang kami berdua berada di puncak Italia, saya di Milan dan dia di Juve, tetapi di atas segalanya, kami masih membela tim nasional kami bersama-sama. Saat Anda menghadapi pertandingan sepenting ini, dengan tekanan debut Piala Dunia, sangat membantu untuk melihat sekeliling dan melihat teman-teman yang sudah Anda kenal sejak usia 13 atau 14 tahun. Anda ingin berjuang seperti mereka, tidak mengecewakan mereka, saling mendukung. Dengan semangat inilah kami menyambut Piala Dunia di kandang sendiri,” tegas sang kapten Amerika tersebut.

Terakhir, Pulisic menanggapi kritik keras publik atas puasa golnya selama 2026. Ia merasa lega akhirnya bisa kembali mencatatkan namanya di papan skor saat melawan Senegal dan ingin segera mengalihkan fokus pada laga krusial melawan Paraguay.
“Saya sudah mengatakannya setelah laga persahabatan melawan Senegal. Sangat penting untuk mencetak gol, meskipun saya tidak mengerti mengapa hanya itu yang dibicarakan orang-orang. Sekarang saya sudah membuka keran gol saya dan saya harap kita bisa fokus pada hal lain, pada momen bersejarah di hadapan kita semua ini, yang terasa begitu gila, hampir tidak nyata. Kami para pemain Amerika tidak akan pernah melupakan momen-momen ini. Namun sekarang satu-satunya tujuan adalah Paraguay: kami harus benar-benar berjuang, tetapi jika kami langsung menang, kami akan mengirimkan pesan yang kuat ke seluruh grup.”





