Pelatih kepala Ruben Amorim merasa sangat gembira setelah skuad AC Milan mulai menunjukkan potensi sejati mereka melalui kemenangan meyakinkan atas Lecce.
Armada Merah Hitam memang dituntut untuk segera kembali ke jalur kemenangan sebelum memasuki jeda internasional pertama musim ini, dan mereka sukses menuntaskannya lewat skor telak 3-0.
Christian Pulisic berhasil membuka keran gol perdananya musim ini pada babak pertama, yang kemudian disusul oleh torehan brilian Adrien Rabiot serta Diego Moreira usai turun minum.
Hasil imbang yang diraih Inter dan Roma pada akhir pekan kemarin membuat persaingan di papan atas klasemen semakin memanas karena Rossoneri kini hanya berjarak dua angka saja dari posisi puncak.
Mengingat besarnya tekanan yang mulai menghantam tim usai melewati tiga laga tanpa kemenangan, raihan tiga poin kali ini terasa sangat fundamental bagi mentalitas skuad.
Sesaat setelah wasit meniup peluit panjang, sang juru taktik langsung berbicara kepada stasiun televisi DAZN untuk membagikan pandangannya mengenai performa terbaik tim di awal masa jabatannya ini.
Kebebasan Taktik dan Perkembangan Skuad Rossoneri

“Kami banyak berkembang.”
“Saya pikir kebebasan para pemain, pergerakan mereka, dan terutama lari mereka ke belakang pemain bertahan membuat perbedaan.”
“Kami bukan hanya tim yang mengendalikan bola, tetapi juga tim yang berbahaya ketika kami memiliki ruang untuk berlari, dan itu adalah faktor kunci malam ini.”
“Kami mengendalikan permainan, mengetahui lawan menunggu kami membuat kesalahan, dan kami mengelolanya dengan sangat baik.”
“Kami bertahan dengan solid, dan secara keseluruhan, itu adalah kemenangan yang hebat.”
Terkait pencapaian poin bersejarahnya yang kini hanya kalah dari catatan Nils Liedholm sebagai pelatih asing di laga awal, pria asal Portugal itu menanggapinya dengan sangat rendah hati.
“Itu menarik, tetapi ini adalah waktu yang berbeda, era yang baru.”
“Kami masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan, tetapi kami bermain lebih baik dan berkembang.”
“Namun, hal terpenting adalah kami sedang belajar.”
“Dalam beberapa pertandingan terakhir, kami mengalami beberapa kesulitan karena struktur posisi kami terlalu kaku, sedangkan hari ini para pemain memiliki sedikit lebih banyak kebebasan, dan dengan sedikit lebih banyak kebebasan, mereka bermain lebih baik.”
Berikut adalah dua poin utama yang menjadi kunci transisi positif permainan Il Diavolo Rosso dalam laga ini:
- Evaluasi Formasi Kaku: Struktur posisi yang terlalu saklek di pertandingan sebelumnya terbukti menjadi penghambat utama macetnya aliran bola tim.
- Ruang Gerak Bebas: Pemberian lisensi kebebasan bergerak bagi para pemain membuat alur serangan menjadi jauh lebih cair dan sulit diprediksi lawan.
Persaingan Papan Atas dan Peran Sentral Luka Modric

Ketika ditanya perihal ketatnya jarak poin dengan dua tim rival penghuni papan atas, Amorim tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena timnya dirasa masih membutuhkan lebih banyak waktu adaptasi.
“Saya pikir mereka berjauhan: jika Anda melihat gaya bermain kami dan lawan kami, dan jika Anda berbicara tentang Roma dan Inter, saya pikir mereka memiliki lebih banyak waktu sebagai sebuah tim.”
“Anda dapat melihat bahwa mekanismenya ada dan lebih jelas daripada grup kami, tetapi kami belum kehilangan terlalu banyak poin.”
“Kami kehilangan dua poin saat melawan Lazio dan di Turin saat melawan Juventus, jadi tidak semuanya sia-sia.”
“Terkadang tampaknya seperti itu, terutama setelah hasil baru-baru ini, tetapi kita harus menyeimbangkan berbagai hal.”
“Hari ini kami menang, mengetahui bahwa kami menghadapi tim bagus yang bermain baik.”
“Setiap lawan berbeda dan terkadang kami akan mengalami beberapa kesulitan dalam pertandingan tertentu.”
“Ini adalah bagian dari proses.”
“Saya pikir kami seharusnya memiliki lebih banyak poin, karena jika Anda melihat bagaimana jalannya pertandingan, saat melawan Juventus, meskipun tidak bermain sangat baik, kami berjarak tiga puluh detik lagi dari membawa pulang dua poin tambahan, dan saat melawan Lazio, mempertimbangkan dua babak, kami pantas mendapatkan sesuatu yang lebih.”
Sang pelatih juga memuji daya tahan Luka Modric serta memberikan petunjuk krusial tentang skenario pertandingan seperti apa yang paling cocok untuk memaksimalkan kualitas sang legenda.
“Dia adalah pemain yang perlu banyak menyentuh bola untuk memberikan yang terbaik dari dirinya, tetapi dia siap memainkan permainan apa pun yang kami butuhkan: ukuran fisik tidak terlalu penting.”
“Dalam beberapa pertandingan, seperti babak pertama melawan Lazio, jika kami mengubah permainan menjadi transisi bolak-balik yang konstan, itu bukan lingkungan yang baik bagi Luka, sama seperti halnya bagi Jashari.”
“Kami hanya harus memainkan permainan yang memungkinkan kualitas kami bersinar.”
“Ketika kami menghadapi jenis pertandingan seperti ini, melawan pertahanan blok rendah, kami bisa banyak menggunakan Modric.”
“Untuk yang lain, kita lihat saja nanti, tetapi saya pikir dia siap memainkan jenis permainan apa pun.”
“Dia siap memainkan setiap pertandingan.”
Adaptasi Sistem dan Tantangan Pelatih Serie A

Menutup sesi bincang-bincang tersebut, eks pelatih Sporting CP itu memberikan penjelasan komprehensif terkait otoritasnya dalam menentukan susunan pemain inti tanpa harus selalu mengalah pada keinginan individu pemain.
“Saya pikir ini masalah mengamati pertandingan dan karakteristik individu.”
“Saya tentu mendengarkan para pemain, tetapi bagi seorang pelatih, terutama di klub besar, mustahil membuat keputusan hanya dengan mendengarkan mereka.”
“Anda melihat mereka, Anda mencoba memahaminya, tetapi setiap pemain cenderung mendorong permainan ke arah karakteristik mereka sendiri, dan dengan cara itu, membangun identitas menjadi sulit.”
“Jadi keputusan akhir selalu ada di tangan saya.”
“Apa yang saya perhatikan dalam beberapa pertandingan terakhir – dan apa yang sudah saya alami di Manchester United, itulah sebabnya saya tidak bisa membuat kesalahan yang sama lagi – adalah bahwa terkadang kita tidak memiliki karakteristik ideal untuk bermain dengan cara tertentu.”
“Jika kita tidak memilikinya, kita harus sedikit beradaptasi: saya pikir itu berhasil hari ini, sementara di pertandingan lain kita bisa kembali ke formasi tiga orang.”
“Kuncinya adalah memiliki cara bermain yang berbeda, terutama di Italia, karena pelatih di sini benar-benar cerdas.”
“Mereka melakukan penjagaan orang per orang dengan sangat baik, dan ketika mereka kehilangan sedikit fokus pada apa yang ingin kami lakukan, itu menjadi lebih sulit bagi mereka.”
“Demikian pula, terkadang sulit bagi saya untuk menguraikan mobilitas tim lain.”
Kemenangan meyakinkan atas Lecce ini diharapkan mampu menjadi fondasi yang kokoh bagi skuad Rossoneri untuk terus menjaga konsistensi performa mereka seusai jeda internasional demi mewujudkan ambisi merengkuh takhta juara Serie A.





