BERITAMILAN.COM – Sorotan tajam berita AC Milan hari ini kembali mengupas kedalaman luka skuad Rossoneri melalui kacamata Davide Bartesaghi AC Milan. Bek muda tersebut dengan penuh kekhawatiran mengklaim bahwa timnya sama sekali tidak menunjukkan ‘sikap yang benar’ sejak menit pertama dalam kekalahan memilukan dari Ferencvaros.
Milan sejatinya memasuki pertandingan melawan wakil Hungaria tersebut dengan harapan meraih kemenangan untuk mulai mengoreksi jalur negatif mereka di Liga Europa sejauh musim ini. Namun ironisnya, mereka justru menyajikan apa yang mungkin bisa disebut sebagai penampilan terburuk mereka musim ini di hadapan puluhan ribu pendukung setia San Siro.
Dua gol Lenny Joseph di babak kedua memberikan malam yang tak terlupakan bagi Ferencvaros, dan sejujurnya, penampilan tangguh mereka memang pantas mendapatkan hasil tersebut. Di sisi lain, Iblis Merah yang memasukkan nama-nama besar di babak kedua tetap tak mampu membongkar pertahanan tim tamu, bahkan setelah lawan harus bermain dengan sepuluh orang akibat kartu merah.
Hancurnya Momentum Derby dan Pengakuan Dosa

Pelatih kepala Ruben Amorim tidak menahan diri dalam meluapkan amarahnya saat wawancara pasca-pertandingan, sementara Koni De Winter dengan lantang menyuarakan adanya masalah psikologis yang akut di dalam tim.
Menyambung nada kekecewaan tersebut, Bartesaghi berbicara kepada Sky setelah pertandingan usai untuk memberikan penilaian jujurnya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di atas lapangan. Komentarnya yang dilansir oleh MilanNews ini terdengar seperti sebuah pengakuan dosa dari ruang ganti.
“Kenyataannya adalah, kami perlu berbicara dengan diri kami sendiri. Penampilan ini tidak bisa dikomentari (sangat buruk). Kami masuk ke lapangan tanpa sikap yang baik.”
“Kami merusak apa yang telah menjadi minggu yang baik (kemenangan derby). Kami harus menyingsingkan lengan baju mulai besok dan mulai bekerja keras.”
Kehilangan Semangat Tarung dan Alarm Bahaya
Ketika ditanya secara spesifik mengenai elemen apa yang paling hilang dari permainan Milan malam itu, bek kiri jebolan akademi Rossoneri ini tidak ragu untuk menunjuk pada masalah mentalitas bertarung.
- Krisis Agresivitas: Skuad dinilai kehilangan sikap ngotot, kegigihan (grit), dan keinginan kuat untuk memenangkan bola-bola kedua di lini tengah.
- Alarm Terlambat: Antusiasme berlebih pasca kemenangan atas Inter ternyata menjadi bumerang, di mana alarm bahaya baru disadari oleh para pemain saat mereka sudah berada di atas lapangan hijau dan tertinggal.
- Respons Pasif: Alih-alih bereaksi dan mengambil inisiatif sejak menit pertama, tim justru bersikap pasif, menunggu pukulan datang, dan membiarkan lawan menciptakan peluang melalui rentetan kesalahan elementer.
“Mulai besok, kami akan menjilat luka kami dan melihat apa yang salah, lalu mendekati pertandingan berikutnya dengan tekad yang tepat dan semangat tim yang sama sekali berbeda.”
Janji untuk bangkit kini telah diucapkan, namun para Milanisti tentu membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Pembuktian mentalitas juara sejati hanya bisa ditunjukkan melalui keringat, darah, dan air mata di atas lapangan pada pertandingan selanjutnya.





