Sorot lampu Stadio Olimpico siap menjadi saksi bisu dari pertarungan sengit antara dua raksasa Italia, di mana ambisi dan gengsi akan dipertaruhkan hingga peluit panjang berbunyi.
Pasukan AC Milan bertekad kuat untuk meneruskan tren positif mereka di awal kompetisi saat menantang tuan rumah Lazio pada akhir pekan ini.
Tim asuhan Ruben Amorim telah mengamankan tujuh angka dari maksimal sembilan poin yang tersedia, berkat kemenangan atas Torino dan Venezia sebelum akhirnya tersandung usai ditahan imbang 1-1 oleh Juventus di Turin.
Rossoneri sebenarnya nyaris saja mencetak rekor sempurna tiga kemenangan beruntun, jika saja gawang mereka tidak kebobolan gol penyeimbang di detik-detik akhir pertandingan.
- Tanggal pertandingan: Sabtu, 12 September
- Waktu kick-off: 23:00 WIB
- Tempat: Stadio Olimpico
- Wasit: Matteo Marcenaro (VAR: Meraviglia)
Berita Tim

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, awal musim ini berjalan cukup mengesankan bagi kubu Milan, apalagi jika mengingat betapa beratnya beban mental tim usai takluk dari Cremonese pada pembuka musim 2025-26 silam.
Hasil seri kontra Juve memang memutus rentetan kemenangan beruntun, namun membawa pulang satu poin berharga dari Allianz Stadium jelas bukan sebuah kegagalan total.
Sejatinya, Milan bisa saja mengunci kemenangan usai pemain pengganti Alphadjo Cisse mencetak gol tak lama setelah ia diturunkan pada pertengahan babak kedua.
Meski begitu, Amorim secara jantan mengakui bahwa kemenangan itu mungkin kurang layak didapatkan jika timnya hanya fokus bertahan secara pasif, yang pada akhirnya gagal mereka pertahankan karena Federico Gatti sukses menyamakan skor pada menit ke-92.
Kalender kompetisi memaksa Rossoneri untuk melakoni laga tandang ketiga dari empat pertandingan awal di musim 2026-27 ini, sekaligus menjadi ujian berat kedua secara beruntun bagi skuad.
Fokus para pemain juga dipastikan sedikit terbagi karena mereka sudah dinanti laga prestisius kontra Benfica di San Siro pada ajang Liga Europa hari Rabu mendatang.
Namun, hembusan angin segar datang dari pusat pelatihan Milanello terkait pemulihan kondisi fisik para penggawa inti.
Kabar baik pertama, Mario Gila yang sempat ditarik keluar akibat nyeri lutut saat melawan Juventus kini sudah kembali berlatih normal dan siap diturunkan menghadapi mantan timnya.
Kabar menggembirakan kedua, Matteo Gabbia juga dipastikan pulih dari cedera pergelangan kaki yang mengganggunya dan siap merumput setelah mengikuti sesi latihan penuh pada Kamis lalu.
Kehadiran dua tembok kokoh ini membuat ruang perawatan Il Diavolo kini resmi bersih dari pemain cedera.
Berdasarkan pantauan terkini, Amorim sepertinya hanya akan melakukan rotasi minor tanpa harus merombak kerangka utama susunan sebelas pertamanya.
Ban kapten sekaligus posisi penjaga gawang utama tetap menjadi milik tak tergantikan dari seorang Mike Maignan, yang akan dikawal rapat oleh trio Gila, Koni De Winter, dan Strahinja Pavlovic di benteng pertahanan.
Sektor sayap akan kembali dipercayakan kepada Samuel Chukwueze di kanan dan Pervis Estupinan di kiri untuk menyisir lebar lapangan hijau.
Keduanya akan mengapit duet gelandang pivot yang tampil menjanjikan pekan lalu, yakni Yunus Musah bersama Luka Modric yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-41 pada hari Selasa kemarin.
Perubahan formasi hanya akan terlihat di sepertiga akhir lapangan, di mana Alphadjo Cisse diprediksi kembali merebut pos gelandang serang kiri usai membukukan gol keduanya musim ini.
Sementara itu, Adrien Rabiot diyakini bakal menyisir sisi kanan penyerangan untuk melayani Goncalo Ramos, sang ujung tombak andalan yang belum pernah absen semenit pun merumput di musim ini.
- Prediksi Milan XI (3-4-2-1): Maignan; Gila, De Winter, Pavlovic; Chukwueze, Modric, Musah, Estupinan; Rabiot, Cisse; Ramos.
- Prediksi Bangku Cadangan: P. Terracciano, Torriani, Diawara, Tomori, F. Terracciano, Bartesaghi, Moreira, Jashari, Comotto, Saelemaekers, Loftus-Cheek, Pulisic, Hutchinson, Camarda.
- Cedera & Hukuman: Tidak ada.
Kubu Lawan

Jendela transfer musim panas kembali menghadirkan fase transisi besar di tubuh Lazio, yang resmi menunjuk Gennaro Gattuso sebagai nakhoda baru usai sang pelatih melepas jabatannya di tim nasional Italia.
Keputusan manajemen ini sayangnya memicu gelombang reaksi yang terbelah, terutama karena tensi panas antara kelompok suporter dan sang pemilik klub, Claudio Lotito, belum juga mereda.
Terbatasnya kondisi finansial klub membuat manuver belanja ibu kota ini terasa sangat berat dan tertatih-tatih di bursa transfer.
Pembelian permanen Boulaye Dia dari Salernitana senilai €11,3 juta menjadi satu-satunya pengeluaran fantastis yang berani mereka kucurkan.
Sisa amunisi tambahan didatangkan lewat berbagai skema cerdik, mulai dari peminjaman Davide Frattesi (Inter), Andrea Pinamonti (Sassuolo), dan Josip Sutalo (Ajax), hingga merekrut Danilho Doehki dan Alfonso Pedraza secara cuma-cuma.
Pemain muda menjanjikan Bruno Galassi juga diboyong dari akademi Real Madrid dengan harapan tinggi bisa meledak menjadi bintang kejutan layaknya kesuksesan transfer Gila di masa lalu.
Menjelang penutupan bursa, Alberto Gudmundsson didatangkan dengan status pinjaman dari Fiorentina bersamaan dengan kedatangan bek Diogo Leite.
Dari sisi penjualan, kepergian Gila ke Milan dengan mahar €30 juta termasuk bonus menjadi kehilangan terbesar, yang justru semakin terlihat sebagai sebuah kesepakatan merugikan bagi Lazio di tengah gila-nya harga pasar saat ini.
Nama-nama familiar seperti Alessio Romagnoli, Ivan Provedel, dan Gabriele Artistico juga terpaksa dilepas dengan harga yang terbilang sangat murah meriah.
Harapan suporter sempat hancur lebur ketika Lazio secara mengejutkan dipermalukan oleh tim kasta kedua Mantova di ajang Coppa Italia pada 16 Agustus lalu, memunculkan pesimisme akan suramnya prospek musim ini.
Namun secara luar biasa, skuad berjuluk Elang Ibu Kota ini justru mengamuk dan bangkit membuktikan diri di kompetisi liga.
Frattesi langsung menjadi idola baru publik Olimpico berkat dua gol pahlawannya di dua laga awal kontra Bologna dan Genoa, ditambah torehan krusial gol penyeimbang ke gawang Udinese sebelum akhirnya disempurnakan oleh gol kemenangan telat dari Gudmundsson.
Rangkaian hasil impresif ini sukses melesatkan klub ibu kota tersebut ke puncak klasemen sementara dengan torehan sembilan poin sempurna, bersanding mesra bersama Inter dan rival sekota mereka.
Ironisnya, tribun penonton Olimpico nanti diprediksi justru akan dibanjiri dua kali lipat lebih banyak oleh kelompok suporter Milanisti, lantaran aksi boikot dari pendukung garis keras Laziali belum menunjukkan tanda-tanda usai.
Terkait kesiapan amunisi tempur, Gattuso harus memutar otak lebih keras menyusul kepastian absennya duo pilar pertahanan, Patric dan Adam Marusic.
Lini tengah juga dipastikan keropos karena Nicolo Rovella dan Danilo Cataldi kemungkinan besar harus menepi, ditambah kondisi fisik Fisayo Dele-Bashiru yang masih diselimuti keraguan.
Beruntungnya, kehadiran bek gratisan Diogo Leite dari Union Berlin yang dulunya sempat diincar Milan ini setidaknya memberikan suntikan ketenangan bagi rapuhnya barisan pertahanan Biancocelesti.
Pada laga pamungkasnya, Gattuso kembali memercayakan skema klasik 4-3-3 dengan memasang Mandas di bawah mistar gawang, dikawal duet bek tengah Doehki dan Provstgaard, serta duo bek sayap Floriani Mussolini dan Taveres.
Ruang mesin lini sentral dikendalikan penuh oleh tridente Frattesi, Belahyane, dan Taylor, yang bertugas menyuplai bola matang untuk trio penyerang Isaksen, Pinamonti, dan Zaccagni di depan.
- Prediksi Lazio XI (4-3-3): Mandas; F. Mussolini, Doekhi, Provstgaard, Tavares; Frattesi, Belahyane, Taylor; Isaksen, Pinamonti, Zaccagni.
Rekor Pertemuan

Duel panas di hari Sabtu nanti akan mengukir sejarah bentrokan ke-196 antara Milan dan Lazio, di mana kubu tamu sangat berambisi untuk terus memperlebar dominasi rekor kemenangan abadi mereka.
Secara statistik historis, Rossoneri masih memimpin jauh dengan koleksi 87 kemenangan berbanding 43 milik Biancocelesti, sementara 65 laga sengit sisanya harus berakhir dengan skor imbang.
Kendati demikian, rekam jejak pertemuan musim lalu seolah menjadi hantu penasaran yang enggan bersahabat bagi skuad asuhan Amorim.
Mimpi buruk pertama tercipta pada ajang Coppa Italia bulan Desember silam, di mana gol telat menyakitkan dari Mattia Zaccagni sukses mengubur asa Milan untuk melaju lebih jauh.
Namun, Il Diavolo sukses menuntaskan dendam mereka pada putaran pertama liga melalui sontekan pelan namun pasti dari Rafael Leao yang mengunci kemenangan dramatis 1-0.
Sayangnya, lawatan kembali ke Roma pada bulan Maret membawa petaka baru setelah gol tunggal Gustav Isaksen memupuskan harapan Milan dalam perburuan mahkota Scudetto, padahal sepekan sebelumnya moral tim sedang terbang tinggi usai memenangi laga derbi.
Jika ditarik ke belakang, senyum kemenangan terakhir skuad Milan di tanah Olimpico terjadi pada periode 2023-24, kala sepakan pantulan Noah Okafor di menit-menit berdarah sukses memicu pesta pora bagi ribuan Milanisti yang melakukan perjalanan tandang.
Statistik dan Fakta Menarik
- Ketangguhan Kandang Lazio: Tuan rumah sukses mengamankan dua kemenangan dari tiga duel terakhir kontra Milan di ajang Serie A, pencapaian yang setara dengan rekor panjang mereka di 10 laga sebelumnya (Seri 1, Kalah 7); bahkan, Biancocelesti tidak pernah mampu mengalahkan Rossoneri dua kali beruntun di liga sejak tahun 2012 silam.
- Dominasi Mutlak Milan: Sepanjang sejarah, Lazio terpaksa menelan pil pahit berupa 73 kekalahan dari 166 pertemuannya melawan Milan di Serie A. Mereka hanya lebih sering kalah saat berhadapan dengan Juventus yang mencetak 87 kemenangan atas klub ibu kota tersebut.
- Arena Angker Olimpico: Menilik mundur sejak tahun 2012, skuad Milan hanya sanggup mencuri empat kemenangan dan harus menderita tujuh kekalahan saat melawat ke markas Lazio di liga domestik. Catatan buruk ini menjadikan Olimpico sebagai salah satu stadion paling sulit ditaklukkan, sejajar dengan angkernya markas Inter, Juventus, dan Napoli.
- Rekor Sempurna Biancocelesti: Sapu bersih poin di tiga laga pembuka Serie A musim ini merupakan pencapaian sangat langka bagi skuad Elang Ibu Kota. Mereka hanya pernah menyentuh level kesempurnaan serupa pada era keemasan musim 1974-75 dan musim kompetisi 2012-13.
- Tuah Laga Perdana: Keberhasilan meraup tiga poin di laga kandang pertama musim ini menjadi sinyal positif yang patut dirayakan, mengingat dalam satu dekade terakhir mereka tercatat hanya sanggup memenangi dua laga kandang pembuka secara beruntun pada musim 2022-23 saja.
- Kutukan Awal Musim Rossoneri: Tren kelam selalu membayangi langkah Milan yang dipastikan menelan minimal satu kekalahan di empat laga perdana selama tiga musim berturut-turut belakangan ini (2023-24 hingga 2025-26). Statistik ini berbanding terbalik dengan rekor keperawanan mereka yang tak tersentuh kekalahan di awal musim antara periode 2020-21 hingga 2022-23.
- Peluang Emas Amorim: Sang nakhoda asal Portugal ini berkesempatan besar menyamai rekor legendaris Fatih Terim di tahun 2001, yakni menjadi pelatih baru yang sanggup merengkuh tiga kemenangan di empat laga debutnya memimpin AC Milan di kasta tertinggi Italia.
- Ikatan Batin Gattuso: Sosok ikonik ini memiliki tempat istimewa di hati publik San Siro setelah menyumbangkan 335 penampilannya di Serie A sebagai pemain pekerja keras. Tak hanya itu, ia juga pernah memimpin armada Rossoneri sebagai juru taktik dalam 62 laga liga dengan mengukir 31 kemenangan di rentang waktu 2017 hingga 2019.
- Ledakan Davide Frattesi: Gelandang dinamis ini langsung mencuri panggung dengan gelontoran tiga gol di tiga laga perdananya berseragam Lazio. Ketajaman ini menyamai rekor magis milik Mauro Zárate, Giuseppe Signori, dan Silvio Piola, yang ironisnya selalu kehabisan bensin dan gagal mencetak gol di pertandingan keempat mereka.
- Jejak Sejarah Cisse: Bintang muda masa depan ini berada tepat di ambang pintu sejarah untuk menjadi pemain ketiga yang selalu merobek jala lawan di tiga laga tandang pertamanya bersama AC Milan di era sepak bola tiga poin. Ia siap menapaktilasi jejak emas yang pernah diukir oleh Maurizio Ganz pada 1998 dan Krzysztof Piatek di tahun 2019.
Pemain yang Patut Disorot

Berbicara mengenai kubu tuan rumah, nama Davide Frattesi jelas harus mendapatkan pengawalan ekstra super ketat dari barisan pertahanan karena ia terbukti sangat mematikan sejauh ini.
Gelandang pinjaman dari Inter tersebut langsung menemukan performa puncaknya di Roma lewat torehan tiga gol dalam tiga laga. Jika para gelandang Lazio sukses mendikte permainan, Frattesi dipastikan bakal menjadi ancaman pembunuh dari lini kedua.
Di luar itu, misteri kebugaran Andrea Pinamonti juga menjadi sebuah teka-teki taktik yang sangat menarik untuk dibedah sebelum peluit dibunyikan.
Sepanjang masa persiapan pekan ini, sang ujung tombak santer digosipkan bakal menepi akibat benturan keras saat latihan.
Meski pada akhirnya ia tetap dimasukkan ke dalam skuad, insting pembunuhnya mungkin akan sedikit tumpul jika rasa nyeri akibat benturan tersebut diam-diam masih menyiksanya di atas lapangan.
Beralih menyoroti skuad Il Diavolo, fokus utama seluruh pasang mata wajib diarahkan pada sosok Christian Pulisic yang namanya sempat disebut secara spesifik oleh pelatih Amorim saat jumpa pers pralaga.
Bintang berpaspor Amerika Serikat ini dijamin akan merumput pada laga nanti, sehingga kiprahnya merusak pertahanan lawan akan menjadi tontonan paling dinanti oleh para loyalis Milan, tak peduli apakah ia tampil sebagai starter atau sekadar pemain pengganti.
Perhatian ekstra juga pantas diberikan pada performa bek sayap lincah, Pervis Estupinan.
Posisi pemain berdarah Ekuador ini di sisi kiri pertahanan dikabarkan kian terancam oleh kehadiran Moreira yang terus diuji coba mengisi perannya dalam beberapa sesi latihan terakhir.
Bisa dibilang, lawatan ke Roma kali ini merupakan ujian hidup mati sekaligus kesempatan terakhir baginya untuk membuktikan kelayakan bertahan di skuad utama.
Prediksi
Kegagalan mengamankan tiga poin penuh di markas Juventus tampaknya meninggalkan rasa ketidakpuasan yang amat mendalam bagi Amorim terhadap performa kolektif anak asuhnya.
Oleh sebab itu, tuntutan untuk segera bangkit dan mempertontonkan permainan dominan yang jauh lebih baik pada akhir pekan ini menjadi sebuah misi wajib yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Tanpa bermaksud mereduksi kehebatan serta keangkeran markas Lazio, skema permainan di atas kertas seharusnya bisa dikendalikan secara mutlak dan berujung manis bagi kubu Rossoneri.
Lazio 0-1 AC Milan





