Keputusan manajemen AC Milan menunjuk Ruben Amorim sebagai pelatih baru ternyata tidak sepenuhnya disambut dengan karpet merah. Dari Negeri Pizza, hujan kritik justru mulai mengguyur kelakuan jajaran petinggi RedBird yang dinilai makin melenceng dari identitas asli klub.
Kritikan paling tajam datang dari pengamat sepak bola kondang, Marco Bucciantini. Saat tampil di acara televisi langganan kita, “Calciomercato-L’Originale”, Bucciantini tanpa ragu langsung menembak dua nama bos besar yang bertanggung jawab atas proyek San Siro saat ini: Zlatan Ibrahimovic dan Gerry Cardinale.
Mari kawal terus revolusi manajemen Iblis Merah dengan tetap tampil keren dan nyaman memakai Kaos Milan Katun Anti Panas melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
RedBird Dianggap Mati Rasa dan Bikin Keputusan Basi
Fokus utama kemarahan Bucciantini adalah metodologi alias cara kerja manajemen asal Amerika Serikat tersebut. Penunjukan Ruben Amorim, yang notabene adalah pelatih asing asal Portugal, dianggap sebagai bukti nyata bahwa Cardinale cs sama sekali tidak peduli dengan nilai-nilai sejarah klub.
Menurutnya, euforia merekrut mantan pelatih Manchester United itu sebenarnya sudah sangat basi. Bucciantini langsung menyemprot manajemen dengan pernyataan yang sangat menohok terkait hilangnya bahasa dan budaya lokal di tubuh Milan:
“Milan adalah klub yang berpikir seperti itu. Mereka tidak tertarik untuk berbicara dalam bahasa yang umum. Amorim 20 bulan yang lalu akan menjadi pilihan yang akan menimbulkan efek yang sama sekali berbeda,” sentil Marco Bucciantini membedah isi kepala petinggi Casa Milan.

Tamparan buat Ibra: Meremehkan Milanismo!
Lebih menyedihkannya lagi, bos, nama Zlatan Ibrahimovic ikut terseret. Sebagai legenda yang seharusnya paham betul arti seragam Merah-Hitam, Ibra justru dinilai gagal mempertahankan nilai luhur Milan dan malah ikut-ikutan gaya bisnis dingin ala RedBird.
Berikut adalah beberapa poin penting mengapa keputusan penunjukan pelatih asing ini dinilai sebagai sebuah pelecehan terhadap DNA Iblis Merah:
- Hilangnya Identitas Klub: Manajemen lebih mementingkan tren pelatih asing berbasi data ketimbang sosok yang mengerti filosofi dan tekanan kultural di San Siro.
- Bukan Sekadar Anti-Asing: Masalah intinya bukan terletak pada kewajiban memakai pelatih asli Italia, melainkan pada keengganan manajemen untuk merawat roh ‘Milanismo’.
- Kegagalan Peran Zlatan: Status Ibrahimovic sebagai penasihat senior dipertanyakan karena ia membiarkan Cardinale terus-terusan membuat keputusan tanpa rasa.
- Momentum yang Salah: Kedatangan Amorim sekarang dianggap hanya sekadar proyek judi setelah sang pelatih terbuang dan gagal total di Liga Inggris.
Bucciantini pun menutup kritikannya dengan sebuah kesimpulan pedas yang harusnya bikin telinga Ibra dan Cardinale panas.
“Ibrahimovic-Cardinale terus meremehkan Milanismo. Bukan ke-Italia-annya, tapi Milanismo-nya,” pungkas Bucciantini dengan nada kecewa yang mendalam.
Kini, beban berat ada di pundak Amorim. Ia bukan cuma harus membuktikan taktiknya jalan di lapangan, tapi juga harus bisa merebut hati publik Italia yang sudah terlanjur skeptis dengan proyek pimpinan RedBird ini.





