Pencarian nakhoda baru AC Milan untuk menyongsong kompetisi musim depan dipastikan akan kembali mengarah kepada sosok juru taktik asing.
Kebijakan pemilik RedBird, Gerry Cardinale, yang bersikeras memilih pelatih dari luar negeri dinilai telah mengabaikan dan menginjak-injak sejarah suci serta DNA asli dari klub Rossoneri.
Padahal dua tahun lalu, sebuah tulisan legendaris sempat mengingatkan pentingnya filosofi kuno klub yang mengusung moto bahwa AC Milan harus diarsiteki oleh para Milanisti.
Tradisi menjaga identitas kuat dan rasa memiliki tersebut awalnya dimulai sejak penunjukan Carlo Ancelotti pada November 2001, yang kemudian diteruskan oleh Leonardo, Clarence Seedorf, hingga Filippo Inzaghi.
Namun, fondasi identitas kokoh tersebut kini telah resmi dihancurkan oleh Cardinale sejak dirinya memecat duet bapak perancang skuad, Paolo Maldini dan Ricky Massara, pada Juni 2023 silam.
Mari kawal terus revolusi manajemen Iblis Merah dengan tetap tampil keren dan nyaman memakai Kaos Milan Katun Anti Panas melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Kini, setelah tersingkirnya nama Furlani serta Moncada dari jajaran manajemen, posisi Cardinale dan Zlatan Ibrahimovic pun terus mendapatkan gelombang protes serta kecaman keras dari para suporter setia.
Di tengah kacau balunya situasi internal tim pasca-penolakan Andoni Iraola yang lebih memilih membelot ke Liverpool, manajemen saat ini menyisakan nama Arne Slot dan Oliver Glasner sebagai kandidat tersisa.
Keputusan akhir mengenai manajer baru ini dilaporkan baru akan diambil pada pertengahan pekan depan, selama kedua kandidat asing tersebut tidak ikut menolak proposal Milan.
Detail Rapor Kelam Pelatih Asing AC Milan

Untuk menjadi bahan perbandingan bagi manajemen, berikut adalah rekam jejak performa serta dinamika konflik dari seluruh pelatih asing yang pernah menangani AC Milan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir:
- Oscar Tabarez: Petualangan taktis pelatih asal Uruguay ini harus berakhir cepat pada Desember 1996 setelah menderita kekalahan menyakitkan dari Piacenza akibat gol salto spektakuler Pasquale Luiso.
- Fatih Terim: Juru taktik asal Turki ini dipecat pada tahun 2001 setelah kalah dari Torino, di mana Alessandro Costacurta secara blak-blakan memberikan kalimat langsung:
“Terim berpikir dia benar-benar lebih penting daripada masing-masing dari kami dan klub,”
serta menyebutnya sebagai pelatih terburuk yang pernah ada di Milan.
- Leonardo: Mantan gelandang asal Brasil ini hanya bertahan selama satu musim kompetisi saja akibat memanasnya hubungan kerja serta ketegangan internal dengan sang presiden, Silvio Berlusconi.
- Clarence Seedorf: Legenda asal Belanda ini menandai debut kepelatihannya dengan menukangi Milan dari Januari hingga Juni 2014, sebuah durasi yang terlalu singkat untuk mengevaluasi hasil kerjanya secara adil.
- Sinisa Mihajlovic: Mendiang pelatih asal Serbia ini menakhodai tim di tengah masa sulit Banter Era, namun secara tragis didepak pada April 2016 tepat beberapa minggu sebelum babak final Coppa Italia melawan Juventus bergulir.
- Paulo Fonseca: Kiprah taktisnya langsung dirusak oleh aksi mogok cooling break Theo Hernandez dan Rafael Leao, hingga akhirnya resmi dipecat pada akhir Desember setelah bermain imbang melawan Roma meskipun sempat menang di laga Derby dan di Bernabeu.
- Sergio Conceicao: Sempat mempersembahkan trofi Supercoppa Italia, pelatih asal Portugal ini akhirnya didepak setelah performa tim jeblok di liga, tersingkir dari UCL oleh Feyenoord, terlibat perselisihan fisik dengan Davide Calabria, serta diterpa skandal kebocoran dokumen tim oleh asistennya.
Mengingat Pesan Kejayaan Masa Lalu
Fakta sejarah mencatat bahwa eksperimen mendatangkan pelatih asing ke San Siro sering kali berakhir dengan drama pemecatan prematur serta konflik internal yang merugikan tim.
Para pendukung kini hanya bisa berharap agar manajemen saat ini tidak melakukan langkah ceroboh yang dapat memperpanjang daftar kelam kegagalan taktis Rossoneri di masa depan.





