Krisis tahun ketujuh merupakan sebuah momen di mana rutinitas, stres, penurunan daya tarik, dan berbagai faktor lain mempertanyakan stabilitas sebuah hubungan.
Pernikahan antara Rafael Leao dan AC Milan sendiri dirayakan pertama kali pada tanggal 1 Agustus 2019 silam.
Oleh karena itu, musim kompetisi yang sedang berjalan saat ini adalah musim ketujuhnya berseragam Iblis Merah.
Apakah ini akan menjadi musim yang berujung pada perceraian di antara kedua belah pihak?
Kekecewaan Publik dan Taktik Allegri
Satu hal yang pasti adalah bahwa publik Rossoneri telah meluapkan kekecewaan mereka melalui rentetan siulan saat pemain Portugal itu diganti pada laga kandang melawan Udinese.
Tindakan tersebut seolah ingin membebankan tanggung jawab kepada sang pemain atas kekalahan memalukan yang diderita oleh tim.
Namun, seberapa besar sebenarnya tanggung jawab yang harus ditanggung oleh seorang Rafael Leao?
Seberapa besar pula kebutuhan kita untuk mencari kambing hitam guna menutupi momen negatif skuad yang telah menelan tiga kekalahan dalam empat laga terakhir?
Bukanlah sebuah rahasia bahwa sepak bola adalah olahraga yang sangat kompleks.
Kompleksitas ini seringkali menghalangi kita untuk memahami seberapa besar performa Rafa memengaruhi tim, maupun sebaliknya.
Satu hal yang pasti, Leao sama sekali tidak diuntungkan oleh kengototan Massimiliano Allegri yang menempatkannya di posisi penyerang tengah.
Posisi tersebut memang membuatnya bermain lebih dekat ke gawang lawan, namun ia juga sering dituntut bermain membelakangi gawang untuk melindungi bola.
Tugas seperti itu tampaknya tidak cocok untuknya meskipun ia memiliki postur tinggi 188 sentimeter dan berat 81 kilogram.
Namun harus diakui pula bahwa ketika dimainkan sebagai pemain sayap kiri, penampilannya juga tidak selalu memenuhi ekspektasi dari seorang pemain dengan teknik tinggi.
Sambil menantikan kepastian masa depan bintang kesayangan kita, pastikan Anda tetap tampil gaya dengan Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Faktor Cedera dan Masa Depan Leao

Bahasa tubuh sang pemain di atas lapangan juga sama sekali tidak membantunya di mata para pendukung setia.
Sikapnya seringkali memberikan kesan keliru tentang adanya ketidaktertarikan terhadap hasil pertandingan maupun performanya sendiri.
Tentu saja, kita tidak boleh lupa bahwa Rafa musim ini harus berjuang melawan masalah pubalgia yang sangat melemahkan kondisi fisiknya.
Kita juga tidak boleh melupakan nilai kontraknya yang berada di jajaran tertinggi dalam skuad saat ini.
Faktor ekonomi ini secara otomatis menciptakan ekspektasi yang sangat tinggi di mata manajemen maupun suporter.
Ketika performa di lapangan tidak lagi sebanding dengan bayaran yang diterima, maka pihak manajemen terpaksa harus mengevaluasi keberlanjutan kontrak tersebut.
Analisis Redaksi
Pada akhirnya, masalah utama yang harus segera diselesaikan adalah mengenai posisi bermain sang bintang di atas lapangan hijau.
Jika pelatih Allegri bersikeras untuk melanjutkan skema tiga lima dua musim depan, maka kontribusi Leao di dalam tim akan sangat dipertanyakan.
Menjadi penyerang utama bukanlah peran idealnya, dan kita belum pernah melihatnya diuji coba sebagai penyerang lubang di belakang penyerang tengah murni.
Menjual penyerang asal Portugal ini mungkin akan menjadi langkah yang menyakitkan, namun menundanya terlalu lama akan menjadi risiko finansial yang sangat besar.
Dana segar dari hasil penjualannya harus segera diinvestasikan untuk mendatangkan pemain yang jauh lebih fungsional bagi proyek taktis tim di Liga Champions musim depan.





