Para ultras AC Milan terpaksa mengubah rencana koreografi mereka secara mendadak akhir pekan ini akibat larangan baru yang ketat dari pihak berwenang. Namun, keputusan pembatasan tersebut justru secara tidak sengaja memberikan sorotan yang jauh lebih besar pada aksi kreatif mereka di tribun.
Menjelang pertandingan panas tersebut, laporan menyebutkan bahwa Curva Sud telah diberitahu mengenai larangan masuknya spanduk ‘Sodalizio Rossonero’ ke San Siro. Keputusan mengejutkan yang diyakini berasal dari Kejaksaan ini sempat memicu kekhawatiran akan adanya aksi boikot atau protes keras.
Secara harfiah (bahasa Italia), Sodalizio berarti:
-
Asosiasi / Perkumpulan
-
Ikatan Persahabatan
-
Kemitraan
Jadi, frasa “Sodalizio Rossonero” yang tertulis di spanduk tersebut dapat diartikan sebagai “Perkumpulan Merah-Hitam” atau “Kemitraan Merah-Hitam” (merujuk pada warna kebesaran AC Milan).
Mengapa nama ini penting dalam kasus tersebut?
-
Upaya Rebranding: Karena banyak nama dan simbol kelompok ultras lama (seperti Curva Sud Milano atau Brigate Rossonere) dilarang masuk stadion akibat investigasi kepolisian, ultras mencoba menggunakan nama baru yang terdengar lebih netral dan formal, yaitu “Sodalizio”, agar tetap bisa membawa spanduk identitas ke dalam stadion.
-
Makna Persatuan: Kata ini dipilih untuk menggambarkan ikatan persaudaraan yang kuat di antara para suporter, menyatukan mereka di bawah satu identitas baru tanpa menggunakan nama-nama lama yang sudah masuk “daftar hitam” polisi.
-
Alasan Pelarangan: Pihak berwenang (Kejaksaan/Polisi) melarang spanduk ini karena mereka menganggap “Sodalizio” hanyalah kedok atau “baju baru” bagi kelompok-kelompok lama yang sedang diinvestigasi. Mereka tidak ingin kelompok yang bermasalah tetap eksis hanya dengan ganti nama.
Inovasi ‘Lautan Cahaya’ sebagai Pengganti
Alih-alih membiarkan tribun sepi atau marah tanpa arah, para suporter justru bersatu untuk menciptakan tampilan visual yang inovatif dan memukau. Curva Sud menjadikan ribuan pendukung sebagai “spanduk hidup” dengan cara yang sederhana namun efektif.
Berikut adalah cara Curva Sud mengakali larangan tersebut:
- Senter Ponsel: Ribuan suporter mengangkat obor dari lampu ponsel mereka sebelum kick-off, menciptakan atmosfer magis.
- Nyanyian Sodalizio: Lagu “Sodalizio” dikumandangkan ke seluruh penjuru stadion sebagai pengganti tulisan spanduk yang dilarang.
- Protes Luar Stadion: Kelompok ultras tetap menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap keputusan aparat di luar gerbang stadion.
Pesan Tersembunyi untuk Rival
Gazzetta dello Sport menyoroti bahwa aksi ini adalah cara elegan ultras untuk tetap menunjukkan eksistensi mereka di tengah gempuran aturan baru. Namun, di balik keindahan cahaya tersebut, diyakini terdapat pesan sindiran tajam yang ditujukan kepada rival sekota.
Beberapa pihak meyakini bahwa pesan visual tersebut mengandung referensi tersembunyi mengenai kekalahan telak Inter. Spekulasi yang beredar menyebutkan adanya sindiran terkait kekalahan 5-0 di final Liga Champions (dalam konteks rivalitas mereka), yang menambah bumbu pedas pada atmosfer derby malam itu.
Ingin mentraktir penulis secangkir kopi? Silakan KLIK DISINI.




