Adriano Galliani secara terbuka mengungkapkan harapannya yang besar agar Massimiliano Allegri meraih kesuksesan dalam periode keduanya di AC Milan. Mantan CEO legendaris Rossoneri itu juga mengenang kembali kisah menarik di balik layar saat pertama kali membawa sang pelatih ke klub pada tahun 2010.
Meskipun spekulasi mengenai kembalinya Galliani ke jajaran manajemen Milan masih santer terdengar usai meninggalkan Monza, ia saat ini menikmati perannya sebagai pendukung setia. Ia terlihat beberapa kali hadir di San Siro untuk menyaksikan awal musim positif Milan yang tak terkalahkan dalam 12 laga di bawah asuhan Allegri.
Kisah Rahasia Perekrutan 2010

Dalam acara peluncuran buku ‘A corto muso’, Galliani berbicara kepada jurnalis Peppe Di Stefano mengenai proses perekrutan Allegri yang unik. Ia mengungkapkan bahwa persetujuan dari Silvio Berlusconi didapatkan dengan sangat cepat, ironisnya tepat pada hari rival sekota mereka merayakan kejayaan Eropa.
“Itu datang dari saya dan kemudian disetujui oleh presiden. Saya mengusulkan para pelatih, lalu membawa mereka ke Arcore di mana mereka harus menerima berkat apostolik dari presiden agung, dan Allegri mendapatkannya dalam 5,2 detik. Itu adalah hari ketika Inter memenangkan Liga Champions melawan Bayern Munich di Madrid.”
Galliani menjelaskan bahwa intuisinya sebagai direktur memegang peranan kunci saat itu. Ia mampu melihat potensi besar Allegri yang berhasil membawa tim sekelas Cagliari finis di posisi kesembilan klasemen.
“Saya percaya seorang direktur harus memahami kapan seorang pelatih, yang telah membawa Cagliari ke posisi kesembilan, cocok atau tidak.”
Mimpi Scudetto dan Sentuhan Emas
Ketika ditanya apakah ia memimpikan Scudetto musim ini, Galliani tidak menampik harapannya sebagai seorang penggemar. Ia menyoroti rekam jejak “sentuhan emas” Allegri yang selalu sukses memberikan gelar pada musim perdananya di berbagai klub:
- Sassuolo: Sukses promosi di percobaan pertama.
- AC Milan (Periode 1): Juara Serie A di percobaan pertama.
- Juventus: Juara Serie A di percobaan pertama.
“Saya seorang penggemar, jadi saya membiarkan diri saya berharap. Saya ingin mengingat bahwa dia menang di Sassuolo [promosi] pada percobaan pertamanya, di Milan pada percobaan pertamanya, di Juventus pada percobaan pertamanya, dan ini adalah percobaan pertama yang baru.”
Manusia vs Algoritma
Galliani juga memberikan pandangannya mengenai tren sepak bola modern yang sangat bergantung pada data dan algoritma. Baginya, sepak bola bukanlah ilmu pasti dan tetap membutuhkan sentuhan perasaan manusia dalam pengambilan keputusan.
“Pasti ada komponen di mana Anda membutuhkan kepekaan untuk menangkap momen dalam memilih pemain dan pelatih. Algoritma memang bagus, tetapi bukan hanya itu.”
Ingin mentraktir penulis secangkir kopi? Silakan KLIK DISINI.





