Inter dan AC Milan saat ini duduk nyaman di puncak klasemen Serie A, hanya terpisah satu poin. Namun, cara kedua tim mencapai posisi tersebut bagaikan bumi dan langit. La Gazzetta dello Sport merilis analisis menarik yang membandingkan “metode” kedua rival sekota ini.
Di satu sisi, ada Inter yang meledak-ledak namun boros. Di sisi lain, ada Milan yang hemat, sinis, namun mematikan. Ini adalah benturan gaya klasik antara keindahan dan kepraktisan.
Si ‘Corto Muso’ vs Si ‘Agresif’
Perbedaan filosofi ini terlihat jelas dalam pertandingan terakhir kedua tim. Inter butuh 11 tembakan tepat sasaran untuk mengalahkan Bologna 3-1. Sebaliknya, Milan hanya butuh sedikit peluang untuk menang 1-0 di Cagliari, di mana gol Rafael Leao lahir dari tembakan tepat sasaran pertama mereka di babak kedua.
- Gaya Allegri (Milan): Kembali ke masa keemasannya. Pedomannya adalah kesederhanaan, tanpa pola rumit, dan memanfaatkan momen kunci. “Satu tembakan, satu gol, tiga poin.”
- Gaya Chivu (Inter): Cristian Chivu menerapkan pendekatan mirip Jurgen Klopp. Menyerang lawan, pressing tinggi, dan langsung berlari ke gawang. Sepak bola yang “bersemangat” dan penuh peluang, namun sering kali boros.
Derby Sebagai Bukti
Validasi terbesar metode Allegri terjadi saat Derby della Madonnina. Malam itu, Inter melepaskan enam tembakan tepat sasaran, sementara Milan hanya tiga. Hasil akhirnya? Milan menang 1-0 lewat gol Christian Pulisic.
“Di Serie A, sulit untuk menggabungkan keindahan dan kepraktisan. Biasanya, di Italia, mereka yang indah cenderung tidak praktis, dan sebaliknya. Hasilnya membuktikan Allegri benar.”
Tamu Tak Diundang
Dalam narasi perebutan Scudetto yang mungkin didominasi oleh Inter (juara bertahan) atau Napoli (spesialis liga asuhan Conte), Milan asuhan Allegri disebut sebagai “tamu yang tidak diinginkan”.
- Faktor Pembeda: Milan adalah tim yang “Sinis dan tanpa pengalaman di kompetisi Eropa” (karena sudah tersingkir/absen, sehingga fokus total di liga).
- Kecerdikan Italia: Sejarah mencatat bahwa di Italia, tim yang paling solid dan cerdik seringkali keluar sebagai juara, bukan tim yang paling banyak mencetak gol atau bermain paling indah.
Apakah “Corto Muso” (menang tipis) akan kembali membawa Scudetto ke sisi merah kota Milan? Dengan pertahanan besi dan efisiensi serangan balik saat ini, hal itu sangat mungkin terjadi.
Suka dengan tulisan admin? Yuk, belikan mimin secangkir kopi dengan cara Klik Disini.





