Kemenangan telak 3-0 atas Hellas Verona seharusnya membuat pelatih mana pun duduk tenang di bangku cadangan. Namun, tidak bagi Massimiliano Allegri. Pelatih kepala AC Milan itu justru terlihat gelisah, berteriak, dan mondar-mandir di pinggir lapangan San Siro seolah-olah skor masih imbang 0-0.
Laporan dari La Gazzetta dello Sport pagi ini mengungkapkan alasan di balik kegelisahan sang pelatih di laga penutup tahun 2025 tersebut. Bagi Allegri, kemenangan saja tidak cukup; cara tim mengelola keunggulan adalah segalanya.
Perfeksionis: Jangan Pernah Puas
Allegri menjelaskan bahwa ketakutan terbesarnya adalah tim menjadi terlena saat unggul jauh. Ia menginginkan penguasaan bola yang efektif, bukan sekadar membuang waktu.
- Manajemen Bola: “Risiko pada skor 3-0 adalah kebobolan gol… Kita bisa menghadapi lebih sedikit umpan silang jika kita mempertahankan penguasaan bola yang dinamis dan tidak statis.”
- Mentalitas: Allegri melihat Milan “sedikit tidak stabil” akhir-akhir ini dan kebobolan gol-gol mudah. Teriakan di pinggir lapangan adalah caranya menjaga konsentrasi pemain agar tidak kendor sedikitpun.
Paradoks Scudetto: Menolak Tapi Menghitung
Hal paling menarik dari wawancara pasca-pertandingannya adalah kontradiksi mengenai target juara. Di satu sisi, Allegri bersikeras targetnya hanyalah Liga Champions, namun di sisi lain, ia sudah memiliki kalkulasi matematis yang presisi untuk meraih Scudetto.
“Kita sama sekali tidak boleh membicarakan Scudetto… (TAPI) Kuota Scudetto adalah antara 82 dan 84 poin, tetapi bisa menjadi 86.”
Pernyataan ini menggelitik banyak pihak. Mengapa seorang pelatih repot-repot menghitung “kuota poin” juara secara spesifik jika ia benar-benar tidak memikirkannya? Jelas, di balik sikap merendahnya, Allegri sedang menyusun strategi untuk menyalip rival di puncak.
Periode Krusial: Januari – Februari
Allegri juga menekankan pentingnya kedalaman skuad. Ia sengaja memberikan waktu bermain bagi pemain pelapis di akhir laga lawan Verona sebagai persiapan.
- Rotasi Penting: “Antara sekarang hingga pertengahan Februari kami memiliki banyak komitmen… ini akan menjadi periode penting.”
- Filosofi Simpel: “Sedikit berpikir, banyak berlari.” Allegri ingin pemainnya fokus pada aksi di lapangan, bukan pada klasemen.
Ingin mentraktir penulis secangkir kopi? Silakan KLIK DISINI.





