Berita

Cremonese dan Titik Balik Mentalitas Milan

×

Cremonese dan Titik Balik Mentalitas Milan

Sebarkan artikel ini
Skuad AC Milan
Skuad AC Milan

Saat AC Milan mengawali musim dengan kekalahan dari Cremonese, banyak pihak langsung membayangkan skenario terburuk. Kekalahan di laga pembuka Serie A, apalagi di kandang sendiri, terasa seperti pengulangan trauma musim lalu.

Bagi sebagian penggemar, hasil tersebut seolah menjadi sinyal bahwa Milan kembali memasuki musim penuh ketidakpastian. Namun, perkembangan yang terjadi setelahnya justru menunjukkan arah yang berbeda.

Kekalahan yang Membuka Mata

Terlepas dari fakta bahwa masalah melawan tim papan bawah belum sepenuhnya hilang, Milan memiliki catatan yang sangat mengesankan. Rossoneri belum terkalahkan di Serie A, baik melawan tim di atas maupun di bawah mereka di klasemen.

Catatan ini terasa semakin luar biasa jika mengingat Milan finis di posisi kedelapan musim lalu dan sempat tumbang di kandang dari tim promosi.

  • Milan belum kalah lagi di Serie A setelah pekan pertama
  • Konsistensi meningkat dibanding musim lalu
  • Respons mental tim terlihat jauh lebih kuat

Analisis Alfredo Pedullà

Pengamat sepak bola Italia Alfredo Pedullà bahkan menyebut kekalahan dari Cremonese sebagai sebuah “berkah sepak bola” bagi Milan. Ia mengutarakan pandangannya melalui kanal YouTube pribadinya, seperti dikutip MilanNews.

“Milan tampil berkilau, mereka memainkan babak pertama yang luar biasa. Menurut saya tidak adil mengatakan Bologna bukan Bologna yang sebenarnya,” ujar Pedullà.

Ia menilai Milan mampu mengeksploitasi batas kemampuan lawan, terutama melalui dominasi lini tengah.

“Milan menghantam batas-batas Bologna. Rabiot memperbesar celah itu. Ia memainkan pertandingan yang luar biasa, terutama di babak pertama. Ketika Milan siap, mereka menciptakan peluang, lalu peluang lain, mereka tidak berhenti, mereka terus menekan dan bermain sebagai tim,” lanjutnya.

Peran Besar Rabiot dan Modric

Pedullà secara khusus menyoroti kontribusi Adrien Rabiot, yang ia anggap sebagai gelandang dengan nilai tambah absolut di Serie A saat ini.

“Hari ini Rabiot adalah gelandang dengan nilai tambah mutlak. Ia mengangkat rekan-rekannya, memiliki kepribadian di atas rata-rata, dan itu adalah sebuah nilai. Hal yang sama berlaku untuk Modric, yang menularkan adrenalin kepada sembilan pemain lainnya,” tegasnya.

Menurut Pedullà, kekuatan mental inilah yang membuat Milan tidak kehilangan fokus, bahkan di babak kedua ketika banyak tim lain cenderung menurunkan tempo.

Cremonese sebagai Titik Balik

Dengan semua perkembangan tersebut, Pedullà menyimpulkan bahwa satu-satunya kekalahan Milan musim ini—yakni dari Cremonese pada bulan Agustus—justru menjadi pemicu kebangkitan.

“Kekalahan Milan dari Cremonese di bulan Agustus adalah sebuah berkah sepak bola,” tutupnya.


BeritaMilan.com dikelola secara independen dan bergantung pada dukungan pembaca untuk biaya operasional serta perawatan website.
Jika Anda ingin membantu menjaga keberlangsungan situs ini, silakan
klik di sini.