Berita

BONGKAR TAKTIK ALLEGRI: Milan Tampil Basi Lawan Parma, Tapi Bodoh Jika Nyerah Sekarang!

×

BONGKAR TAKTIK ALLEGRI: Milan Tampil Basi Lawan Parma, Tapi Bodoh Jika Nyerah Sekarang!

Sebarkan artikel ini
Massimiliano Allegri

Mengesampingkan kontroversi wasit yang selalu menjadi bumbu pelengkap di Serie A, kekalahan pahit AC Milan dari Parma di San Siro sebenarnya telah menelanjangi berbagai kelemahan taktis tim. Gejala ini sudah mulai terlihat saat melawan Como dan di beberapa titik sepanjang musim ini.

Premis Awal: Kemajuan Pertahanan yang Kebablasan

Sebelum mengkritik terlalu jauh, kita harus melihat konteksnya. Milan tahun lalu hancur lebur dan finis di urutan kedelapan. Berada di posisi kedua pada akhir Februari musim ini (meski tertinggal jauh dari Inter) adalah sebuah pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh. Massimiliano Allegri datang untuk memperbaiki kekacauan, dan memecatnya sekarang adalah hal yang gila selama target Liga Champions masih realistis.

Namun, performa buruk kemarin memiliki akar yang “kuno”. Bermain dengan mantra “yang penting tidak kebobolan dulu” saat melawan tim seperti Parma, Cremonese, atau Pisa terasa sangat aneh mengingat Milan memiliki potensi daya ledak ofensif yang luar biasa. Pendekatan ekstra hati-hati Allegri di awal musim memang masuk akal karena pertahanan Milan sebelumnya sangat rapuh. Namun, apakah itu cukup untuk saat ini? Jelas tidak.

Masalah Ritmik dan Hilangnya Rencana Permainan

Tim AC Milan
Tim AC Milan

Sisi lain dari kehati-hatian yang berlebihan ini adalah Milan terjebak dalam permainannya sendiri. Melawan Parma, sangat menyedihkan melihat tim bermain dengan tempo monoton, tidak mampu menaikkan kecepatan umpan, dan tanpa serangan gencar yang menggebu-gebu.

Rafael Leao dan Christian Pulisic seolah kehilangan taringnya dalam skema 3-5-2 ketika menghadapi lawan yang bertahan sangat dalam. Masalah utamanya ada pada ritme dan kebersihan teknik. Ironisnya, hanya Luka Modric yang hampir berusia 41 tahun, dan Ardon Jashari, yang mampu menaikkan level fisik, kecepatan, dan kreativitas malam itu.

“Absennya Ruben Loftus-Cheek, yang seharusnya menjadi pemain kunci untuk masuk ke kotak penalti, membuat tim kehilangan referensi serangan. Memasukkan bek tengah seperti Strahinja Pavlovic (di babak kedua) hanya untuk tampil lebih berbahaya adalah bukti bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam skema penyerangan kita.”

Waktunya Bangkit: Jangan Menjadi Bodoh!

Kini, tanpa kompetisi Eropa atau Coppa Italia, Milan hanya akan bermain seminggu sekali. Ada banyak waktu untuk meracik solusi baru. Namun, ada satu titik krusial: akan sangat bodoh jika kita membuang semua kerja keras yang telah dilakukan sejauh ini.

Meski kereta Scudetto tampaknya sudah melaju jauh ditarik Inter Milan, persaingan untuk tiket Liga Champions masih sangat terbuka. Ada banyak alasan untuk tidak menyerah sekarang:

  • Mentalitas Baja: Melihat Modric yang hampir berusia 41 tahun bermain dengan intensitas, amarah, dan kejernihan layaknya seorang petarung yang mencapai wujud Super Saiyan, seharusnya bisa menyalakan api tak terpadamkan di dalam diri setiap pemain.
  • Dukungan Penggemar: Cinta dan dukungan Milanisti selalu konstan, bahkan setelah finis di posisi ke-8 tahun lalu.
  • Menghargai Keringat Sendiri: Menyerah sekarang sama saja dengan tidak mengakui semua keringat dan pengorbanan yang telah dilakukan grup ini sejak awal musim.

Menyerah di bulan Februari? Itu benar-benar tindakan bodoh. Pantang menyerah, Rossoneri!

Rekomendasi Jersey AC Milan

Buat kamu fans AC Milan yang ingin terus mendukung tim di sisa musim ini, Jersey AC Milan Home 2026 – Grade Ori tetap jadi pilihan terbaik dengan harga yang bersahabat.

👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee

Analisis Redaksi

Skuad AC Milan
Skuad AC Milan

Editorial ini menampar kita dengan realita yang sangat logis. Mengambinghitamkan wasit memang mudah, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa taktik Milan belakangan ini terasa terlalu “hambar”.

Skuad ini butuh sengatan ekstra dan keberanian agar kembali memiliki daya gedor mematikan. Permainan yang monoton harus segera diakhiri; tim butuh “tendangan” rasa pedas dan berani dalam skema penyerangan mereka untuk membongkar pertahanan berlapis ala Parma.

Dengan jadwal yang kini hanya seminggu sekali, Allegri tidak punya alasan lagi soal kelelahan fisik. Ini murni masalah mental dan penyesuaian taktik. Kehilangan Loftus-Cheek memang pukulan berat, tetapi Milan punya skuad yang cukup untuk mencari alternatif.

Fokusnya sekarang adalah memulihkan kebanggaan dan mengamankan Liga Champions. Menangisi Scudetto yang menjauh tak akan mengubah apa pun; membantai lawan berikutnya adalah satu-satunya cara mengembalikan harga diri.

Beritamilan.com dikelola secara independen dan dijalankan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Jika Anda ingin membantu menjaga situs ini tetap bertahan, silakan Klik di sini.