Memasuki 1 Januari 2026, AC Milan berada di dunia yang sangat berbeda dibandingkan 12 bulan lalu. Jika tahun lalu diwarnai kekacauan pergantian pelatih dan revolusi pasar yang gagal, kini Rossoneri duduk nyaman di posisi kedua, tak terkalahkan dalam 15 laga liga terakhir, dan serius menantang Scudetto.
Siapa sebenarnya arsitek di balik transformasi soliditas tim di bawah Massimiliano Allegri? Menggunakan data dari FBref (khusus Serie A), kita membedah performa individu yang menjadi kunci kebangkitan Milan.
1. Luka Modric: Tua-tua Keladi (atau Berisiko?)

Statistik paling mencolok adalah menit bermain. Di usia 40 tahun, Luka Modric adalah pemain lapangan dengan jam terbang tertinggi.
- Menit Bermain: Modric (1.392), Saelemaekers (1.379), Pavlovic (1.372).
- Umpan & Intersep: Ia memimpin jumlah umpan berhasil (1.033) dan intersepsi (21).
Fakta bahwa Modric menjadi pusat permainan (metronom) sekaligus pemutus serangan lawan menunjukkan kualitas abadinya. Namun, ini juga memicu kekhawatiran: apakah Milan terlalu bergantung padanya? Risiko kelelahan di paruh kedua musim adalah ancaman nyata.
2. Christian Pulisic: Sang Sniper

Jika Modric adalah otak, Pulisic adalah pelurunya. Efisiensi pemain Amerika ini sangat luar biasa dibandingkan rekan setimnya.
- Top Skor: 8 Gol di Liga (10 di semua kompetisi).
- Akurasi Tembakan: 73,3% tembakannya tepat sasaran (tertinggi di tim).
“Sederhananya, Pulisic adalah penembak jitu untuk Milan. Ketika ia mendapatkan bola di dalam kotak penalti, selalu ada bahaya.”
Bandingkan dengan Alexis Saelemaekers yang memiliki jumlah tembakan terbanyak (23) namun konversinya rendah. Pulisic tidak butuh banyak peluang untuk membunuh lawan.
3. Transformasi Alexis Saelemaekers

Mungkin inilah kejutan terbesar. Saelemaekers telah berevolusi menjadi mesin penggerak tim di sisi kanan. Statistiknya menunjukkan ia melakukan segalanya:
- Raja Tekel: 40 Tekel (Tertinggi, jauh di atas Tomori dengan 30).
- Agresivitas Serangan: 23 Tembakan (Tertinggi).
- Progressive Carries: 46 kali membawa bola ke depan (Hampir dua kali lipat dari Pavlovic di posisi kedua).
Saelemaekers adalah penyeimbang sejati Allegri—melakukan pekerjaan kotor bertahan sekaligus menjadi satu-satunya pemain yang paling berani mendobrak garis pertahanan lawan dengan giringan bolanya.
4. Tembok Pertahanan

Soliditas Milan juga terlihat dari lini belakang. Matteo Gabbia memimpin dalam sapuan bola (90) dan akurasi umpan (92,8%), menunjukkan ketenangannya. Sementara Pavlovic dan Tomori melengkapi trio bek yang tangguh namun juga mampu membangun serangan dari belakang.
Kesimpulan
Data ini menunjukkan Milan 2026 adalah tim yang dibangun di atas efisiensi Pulisic, kerja keras Saelemaekers, dan visi abadi Modric. Tantangan terbesar Allegri di sisa musim adalah menjaga kebugaran “tulang punggung” ini, terutama sang maestro Kroasia.





