Penulis: Evan Widjaja

  • Marcelo Gallardo ke AC Milan antara Realitas dan Spekulasi

    Marcelo Gallardo ke AC Milan antara Realitas dan Spekulasi

    Berita AC Milan – Nama Marcelo Gallardo menjadi topik hangat di kalangan penggemar sepak bola, khususnya pendukung AC Milan, setelah kabar tentang kemungkinan kepergiannya dari Al Ittihad merebak malam ini. Namun, laporan terbaru memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasinya.

    Sky Sports melaporkan bahwa AC Milan tengah mempertimbangkan Gallardo, mantan pelatih sukses River Plate yang kini melatih Al Ittihad di Liga Pro Saudi.

    Menurut laporan tersebut, Gallardo akan segera meninggalkan klubnya saat ini. Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh Calciomercato.com yang menyebutkan bahwa kedua belah pihak sedang bekerja untuk menyelesaikan kontrak dan masalah ekonomi yang rumit.

    Meskipun demikian, apakah Gallardo benar-benar akan bergabung dengan AC Milan masih belum pasti. Dalam proses pencarian pelatih baru oleh manajemen Rossoneri, nama Gallardo memang sempat diusulkan oleh perantara klub.

    Namun, laporan dari Calciomercato.com menyatakan bahwa Gallardo bukanlah kandidat ideal menurut penilaian manajemen Milan, bertentangan dengan laporan awal dari Sky Sports.

    Di sisi lain, Napoli juga dikabarkan mempertimbangkan Gallardo sebagai salah satu opsi mereka. Namun, menurut laporan dari pers Argentina, kemungkinan terbesar adalah kembalinya Gallardo ke River Plate. Bukan sebagai pelatih kepala, tetapi Gallardo dikabarkan bermimpi memasuki dunia politik dan berpotensi menjadi kandidat kuat dalam pemilihan presiden Los Millionarios, julukan untuk klub River Plate.

    Jika benar Gallardo kembali ke River Plate, langkah ini akan menandai transisi signifikan dalam kariernya, dari dunia sepak bola ke ranah politik. Hal ini menunjukkan ambisi Gallardo yang lebih luas daripada hanya melatih tim sepak bola, tetapi juga ingin berkontribusi dalam manajemen dan pengembangan klub yang telah membesarkan namanya.

    Secara keseluruhan, meskipun rumor tentang kepindahannya ke AC Milan menarik perhatian, kenyataannya adalah bahwa Marcelo Gallardo mungkin memiliki rencana lain yang lebih besar dan berbeda dari sekadar melatih tim di Eropa.

  • Tersandung Masalah Kecanduan Judi, Sandro Tonali Akui Telah Berbuat Kesalahan

    Tersandung Masalah Kecanduan Judi, Sandro Tonali Akui Telah Berbuat Kesalahan

    Berita AC Milan – Sandro Tonali, pemain yang pernah membela AC Milan dan kini bergabung dengan Newcastle United, secara terbuka berbicara tentang perjuangannya melawan kecanduan judi. Pengakuannya muncul setelah ia hampir menjalani hukuman larangan bermain akibat pelanggaran terkait protokol taruhan.

    Tahun lalu, berita tentang pelanggaran yang dilakukan Tonali mulai tersebar. Pada September, dikonfirmasi bahwa pengacaranya telah menerima larangan bermain selama sepuluh bulan setelah mencapai kesepakatan pembelaan.

    Selain larangan bermain, Tonali juga diwajibkan menjalani delapan bulan pengobatan kecanduan judi setelah diketahui memasang taruhan pada pertandingan AC Milan dan pertandingan lainnya. Manajemen AC Milan sendiri tidak mengetahui masalah kecanduan judi yang dihadapi Tonali dan tidak mengantisipasi adanya kontak dari Newcastle terkait kasus tersebut.

    Beberapa minggu yang lalu, Tonali didakwa oleh FA atas pelanggaran lebih lanjut antara 12 Agustus 2023 dan 12 Oktober 2023. Namun, hukuman ini akhirnya menjadi hukuman percobaan. Kini, Tonali berusaha menjalani pendidikan dan membantu orang lain yang menghadapi masalah serupa.

    Dalam sebuah pertemuan di sekolah Salvemini di Bari yang diselenggarakan oleh FIGC untuk pemulihan dari kecanduan judi, Tonali berbagi pengalamannya. Radio Rossonera melaporkan komentarnya yang menggugah.

    “Mungkin di antara kalian ada yang bertaruh dan tidak mengatakannya, karena kita sering menutup diri. Namun, ketika Anda bermain dan memiliki gaji tinggi, berurusan dengan perjudian adalah sebuah risiko. Saya bersembunyi dan saya melakukan kesalahan,” ujarnya.

    Tonali juga mencerminkan pengalamannya berinteraksi dengan pekerja pabrik, yang bekerja keras untuk membawa pulang gaji. “Saya baru-baru ini berada di sebuah pabrik, saya bisa berkaca pada mereka yang bekerja sepuluh jam sehari hanya untuk membawa pulang gaji. Saya memahami banyak hal berharga.

    “Satu hal yang terpenting: jika seorang pekerja kehilangan pekerjaannya, seluruh keluarganya akan menanggung akibatnya. Nah, ini juga mengapa saya menganggap diri saya beruntung. Saya membuat kesalahan, tetapi saya tidak kehilangan apa pun,” tambahnya.

    Pengakuan dan tindakan Tonali menunjukkan komitmennya untuk bangkit dari kesalahan masa lalunya dan membantu orang lain agar tidak terjerumus ke dalam masalah yang sama. Upayanya untuk berbagi pengalaman dan memberikan edukasi mengenai bahaya kecanduan judi menjadi langkah penting dalam perjalanan pemulihannya.

  • Asisten Sebut AC Milan akan Sangat Cocok bagi Antonio Conte

    Asisten Sebut AC Milan akan Sangat Cocok bagi Antonio Conte

    Berita AC Milan – Christian Stellini, asisten pelatih setia Antonio Conte, memberikan wawancara yang menarik di mana dia mengisyaratkan bahwa AC Milan mungkin cocok untuk proyek ambisius yang diinginkan Conte. Milan telah dikaitkan dengan berbagai nama pelatih, termasuk Conte, di tengah spekulasi mengenai masa depan Stefano Pioli.

    Menurut laporan Il Mattino, manajemen Rossoneri berencana bertemu dengan agen Conte pekan ini untuk mengeksplorasi kemungkinan kerja sama. Dalam wawancara dengan TeleLombardia, Stellini menegaskan bahwa Conte sangat ingin kembali bekerja, namun hanya jika proyek tersebut sesuai dengan ambisi dan standar tinggi yang dimilikinya.

    “Keinginan untuk kembali sangat besar. Namun, tahun itu dihabiskan untuk pembaruan dan inovasi taktis. Dalam petualangan berikutnya, Conte ingin menghadirkan lebih banyak ketidakpastian dan modernitas ke dalam permainan,” kata Stellini.

    Stellini juga menanggapi anggapan bahwa Conte adalah pelatih yang sulit diatur. Menurutnya, kesulitan manajemen adalah hal biasa bagi pelatih penting seperti Conte yang selalu transparan dan menuntut hasil maksimal.

    “Conte transparan, sangat menuntut, tetapi selalu mencapai hasil yang luar biasa. Ini adalah bagian dari diskusi yang harus dipahami,” jelasnya.

    Selain itu, Stellini membantah mitos bahwa Conte selalu meminta pemain mahal. Menurutnya, Conte lebih fokus pada proyek ambisius daripada harga pemain, dengan contoh nyata adalah permintaan khususnya untuk merekrut Romelu Lukaku di Inter.

    “Conte selalu membuat rencana untuk berkembang, baik dari segi olahraga maupun finansial, dan dia selalu mencapai hasilnya,” kata Stellini. “Lukaku adalah satu-satunya pemain yang diminta secara khusus oleh Conte dan dia kemudian mencetak 60 gol dan memenangkan Scudetto.”

    Ketika ditanya apakah Conte hanya menginginkan tim yang siap menang, Stellini menekankan bahwa Conte memilih proyek berdasarkan potensi dan kebutuhan tim, bukan hanya status kemenangan.

    “Conte sama seperti orang lain, dia memilih proyek berdasarkan potensinya. Semua tim besar, termasuk AC Milan, bisa menjadi proyek yang cocok untuk Conte,” ujarnya.

    Stellini juga mengakui bahwa Milan saat ini adalah tim yang kuat dengan sejarah yang bisa menarik minat Conte. Meskipun ada kesenjangan dengan Inter, Pioli telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan sejarah menunjukkan bahwa Conte mampu mengisi kesenjangan tersebut.

    “Conte tiba di Juve ketika Milan berada di depan dan Juve kembali ke jalur kemenangan. Conte pergi ke Inter setelah Juve memenangkan sembilan Scudetti dan mengakhiri rekor tersebut. Milan adalah tim kuat dan proyek ambisius yang sesuai dengan visi Conte,” tutup Stellini.

    Dengan potensi pertemuan antara manajemen AC Milan dan agen Conte, masa depan pelatih asal Italia tersebut di Rossoneri masih menjadi teka-teki yang menarik untuk diikuti. Apakah Milan akan menjadi pelabuhan berikutnya bagi Conte? Hanya waktu yang akan menjawab.

  • Rencana Ambisius AC Milan di Bursa Transfer Musim Panas: Rekrut Pemain di Setiap Lini

    Rencana Ambisius AC Milan di Bursa Transfer Musim Panas: Rekrut Pemain di Setiap Lini

    Berita AC Milan – AC Milan sedang merencanakan jendela transfer musim panas yang ambisius dengan target merekrut pemain di setiap departemen tim. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat skuad dan mencapai performa optimal untuk musim mendatang.

    Menurut laporan dari La Gazzetta dello Sport, Milan akan mengalokasikan sebagian besar anggarannya untuk mendatangkan striker baru. Namun, klub juga menargetkan untuk merekrut gelandang bertahan dan bek sayap.

    Dua nama yang menjadi fokus utama adalah Emerson Royal dari Tottenham Hotspur dan Youssouf Fofana dari AS Monaco. Biaya transfer kedua pemain ini diperkirakan mencapai €50 juta, dengan rincian masing-masing €30 juta untuk Royal dan €20 juta untuk Fofana.

    Investasi besar ini menunjukkan ambisi Milan untuk memperkuat tim, namun juga menuntut evaluasi mendalam mengingat klub berencana mengeluarkan dana serupa untuk merekrut penyerang tengah baru. Potensi pengeluaran musim panas ini bisa mencapai sekitar €100 juta sebelum mempertimbangkan pemain lainnya.

    Untuk membantu membiayai operasi besar ini, AC Milan berencana memanfaatkan penjualan beberapa pemain. Charles De Ketelaere dan Alexis Saelemaekers berpotensi mendatangkan pendapatan sekitar €32 juta jika Atalanta dan Bologna menggunakan opsi pembelian mereka.

    Selain itu, Milan juga mempertimbangkan skenario penjualan pemain bintang dengan harga tinggi, meskipun ini bukan prioritas utama dalam rencana manajemen klub.

    Langkah ini mencerminkan strategi AC Milan untuk tetap kompetitif di tingkat atas sepak bola Eropa, sekaligus mencari nilai optimal dalam setiap penandatanganan. Keberhasilan di bursa transfer ini akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam melakukan negosiasi dan menemukan keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan klub.

    Rencana ambisius ini juga menandakan keseriusan AC Milan dalam mengejar gelar dan memperkuat posisinya di Serie A dan kompetisi Eropa. Dengan rekrutmen yang tepat, I Rossoneri berharap dapat membangun tim yang lebih solid dan berdaya saing tinggi untuk musim-musim mendatang.

  • AC Milan Ketar-ketir Terancam Ditinggal Theo Hernandez dan Mike Maignan ke Bayern Munchen

    AC Milan Ketar-ketir Terancam Ditinggal Theo Hernandez dan Mike Maignan ke Bayern Munchen

    Berita AC Milan – Manajemen AC Milan saat ini tengah sibuk dengan perencanaan masa depan tim, dengan beberapa kekhawatiran mengenai masa depan kiper Mike Maignan dan bek sayap Theo Hernandez. Hal ini dilaporkan oleh Tuttosport dalam edisi hari ini, melalui segmen yang berjudul ‘Milan dalam Keseimbangan’.

    Menurut laporan tersebut, ketika Milan sedang dalam proses memilih pelatih kepala baru dan menetapkan target transfer musim panas, ada sejumlah pemain kunci dalam skuad saat ini yang nasibnya harus segera diputuskan.

    Daftar ini termasuk Rafael Leao dan semua pemain yang mungkin akan dilepas jika ada tawaran yang sulit ditolak, seperti yang terjadi dengan Sandro Tonali musim panas lalu.

    Khususnya untuk Maignan dan Hernandez, keduanya menjadi perhatian utama karena ketertarikan dari klub besar seperti Bayern Munich. Meskipun Milan tidak berniat menjual dua pemain asal Prancis tersebut dan telah melakukan negosiasi perpanjangan kontrak hingga 2026 selama beberapa bulan terakhir, kesepakatan belum tercapai.

    Ada perbedaan signifikan antara tawaran klub dan permintaan pemain. Saat ini, Maignan mendapatkan gaji bersih €2,8 juta per musim dan Hernandez €5 juta, ditambah bonus.

    Namun, permintaan mereka masing-masing mencapai €8 juta bersih per tahun, sedangkan batas maksimal yang telah ditetapkan oleh manajemen Milan, yang dipimpin oleh Giorgio Furlani, adalah €5 juta per tahun, dengan pengecualian untuk Leao yang mendapatkan €7 juta termasuk bonus.

    Negosiasi ini menjadi sangat sulit, namun pihak klub terus bekerja keras untuk mencapai kesepakatan sambil menunggu tawaran konkret dari klub lain.

    Keputusan mengenai masa depan Maignan dan Hernandez akan sangat berpengaruh pada strategi tim di musim mendatang, dan manajemen AC Milan harus segera menemukan solusi untuk menjaga keseimbangan dan kualitas skuadnya.

  • Olivier Giroud Kenang Pertemuan Pertamanya dengan Ibrahimovic: “Hanya Ada Satu Raja di Milan!”

    Olivier Giroud Kenang Pertemuan Pertamanya dengan Ibrahimovic: “Hanya Ada Satu Raja di Milan!”

    Berita AC Milan – Olivier Giroud mengenang momen pertama kali bertemu dengan Zlatan Ibrahimovic sebagai pemain baru AC Milan, memberikan wawasan langsung tentang karakter ikonik sang striker Swedia.

    Setelah spekulasi selama berminggu-minggu, kemarin Giroud akhirnya mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan Milan pada akhir musim. Keputusan ini disampaikan dalam sebuah wawancara emosional dengan Milan TV.

    Pelatih Stefano Pioli dan rekan-rekan satu timnya menyampaikan pesan perpisahan, memberikan kesempatan untuk merefleksikan waktunya di klub. Giroud bergabung dengan AC Milan dari Chelsea pada musim panas 2021, awalnya dimaksudkan sebagai pelapis bagi Ibrahimovic.

    Dalam wawancara tersebut, Giroud menceritakan anekdot menarik tentang sambutan yang diberikan Ibrahimovic saat pertama kali bertemu.

    “Ibra sangat menyambut saya dan saya akan selalu mengingat apa yang dia katakan ketika dia melihat saya: ‘Hanya ada satu raja di Milan, dan itu adalah saya’,” ujar Giroud sambil tersenyum. “Saya langsung menyukainya. Dia menghibur, tapi juga membantu saya memahami bahwa saya datang ke klub besar dan harus selalu memberikan yang terbaik.”

    Giroud mengungkapkan bahwa pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam padanya, memperlihatkan sisi humoris namun juga serius dari Ibrahimovic dalam menjaga semangat kompetitif di dalam tim. Pesan tersebut menggambarkan mentalitas tinggi yang diperlukan untuk bermain di level tertinggi bersama AC Milan.

    Kepergian Giroud dari AC Milan tentu menjadi momen refleksi atas kontribusinya selama dua musim di klub tersebut. Meski singkat, waktunya di Milan penuh dengan pengalaman berharga dan kenangan tak terlupakan, termasuk persahabatannya dengan Ibrahimovic yang penuh warna.

  • Paolo Maldini Kecam Tindakan Sensor Terhadap Wawancaranya

    Paolo Maldini Kecam Tindakan Sensor Terhadap Wawancaranya

    Berita AC Milan – Mantan pelatih AC Milan, Paolo Maldini, melalui pengacaranya mengecam tindakan sensor yang dilakukan terhadap wawancaranya yang disiarkan di Radio Serie A pada Kamis, 9 Mei lalu. Sensor ini memicu kontroversi dan tuduhan serius mengenai kebebasan berekspresi.

    Menurut laporan Radio Rossonera, berita tersebut pertama kali dilaporkan oleh kantor berita ANSA, yang merujuk pada wawancara Maldini dengan jurnalis Alessandro Alciato. Alciato, melalui unggahan di Instagram-nya, mengklaim bahwa ia mendapat tekanan untuk tidak menayangkan wawancara tersebut. Namun, Alciato tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang memberikan tekanan tersebut.

    ANSA mengungkapkan bahwa Maldini, melalui pengacaranya, Danilo Buongiorno, mengumumkan akan mengambil tindakan hukum untuk melindungi dirinya dari perlakuan yang dianggap tidak adil tersebut. Dalam pernyataannya, Buongiorno menegaskan bahwa kliennya memperingatkan siapa pun agar tidak mengulangi tindakan serupa dan siap mengambil langkah hukum jika diperlukan untuk membela hak dasar kebebasan berekspresi.

    “Paolo Maldini telah menunjuk pengacaranya untuk melindungi dirinya dari perlakuan serius yang diterimanya secara tidak adil,” tulis ANSA, mengutip pernyataan dari Buongiorno. “Kami memperingatkan siapa pun untuk tidak mengulangi perilaku tersebut dan, jika perlu, akan melakukan tindakan apa pun untuk melindungi klien kami serta membela hak kebebasan berekspresi.”

    Paolo Maldini sendiri adalah sosok yang begitu dihormati oleh publik sepak bola Italia. Namun akhir-akhir ini dia memiliki hubungan yang tidak baik dengan beberapa sosok petinggi AC Milan, dalam hal ini Paolo Scaroni.

    Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang dituding memberikan tekanan tersebut. Kasus ini masih belum jelas ujungnya dan menarik untuk ditunggu apakah akan ada respon lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.

    Dengan sorotan publik yang intens terhadap masalah ini, langkah hukum yang diambil Maldini bisa menjadi preseden penting dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi di dunia sepak bola dan media.

  • AC Milan Tergoda untuk Mendatangkan Marcelo Gallardo Sebagai Pelatih Musim Depan

    AC Milan Tergoda untuk Mendatangkan Marcelo Gallardo Sebagai Pelatih Musim Depan

    Berita AC Milan – AC Milan kembali diselimuti spekulasi mengenai siapa yang akan mengisi kursi pelatih kepala untuk musim depan. Nama terbaru yang mencuat adalah Marcelo Gallardo, pelatih berprestasi asal Argentina yang membuat sejarah bersama River Plate dan kini sedang berkarir di Liga Pro Saudi bersama Al Ittihad.

    Menurut laporan dari Sky, Milan tengah mempertimbangkan Gallardo sebagai kandidat kuat. Gallardo baru saja mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan Al Ittihad, klub yang memberikan kontrak hampir €22 juta bersih per musim. Kepergiannya ini membuka peluang bagi AC Milan untuk mendekatinya.

    Gallardo, yang berusia 48 tahun, memiliki rekam jejak yang mengesankan. Sebagai pemain, ia menghabiskan sebagian besar karirnya di River Plate sebelum bermain di Eropa bersama Monaco dan PSG, serta menjalani waktu singkat di AS dan Nacional.

    Karir kepelatihannya dimulai di Nacional pada tahun 2011, di mana ia langsung meraih gelar juara nasional. Namun, kesuksesan terbesarnya datang saat memimpin River Plate dari 2014 hingga 2022, memenangkan 14 gelar termasuk dua Copa Libertadores, menjadikannya manajer tersukses dalam sejarah klub.

    Setelah meninggalkan River pada Oktober 2022, Gallardo sempat mencoba peruntungan di Eropa namun belum menemukan peran yang tepat. Ia kembali aktif pada November 2023 dengan kontrak besar di Al Ittihad, namun sekarang kembali berstatus bebas setelah pengumuman terbaru.

    Milan menyadari reputasi dan potensi Gallardo. Selain dia, nama-nama lain seperti Sergio Conceicao, yang terikat kontrak dengan Porto hingga 2028, dan Paulo Fonseca juga masih dipertimbangkan oleh manajemen klub.

    Jika Gallardo bergabung dengan AC Milan, ia akan membawa pengalaman dan kesuksesan dari karir panjangnya sebagai pemain dan pelatih. Ini bisa menjadi langkah strategis bagi Rossoneri dalam mengejar kejayaan di musim-musim mendatang.

  • Begini Isi Pesan Emosional dari Skuad AC Milan untuk Olivier Giroud

    Begini Isi Pesan Emosional dari Skuad AC Milan untuk Olivier Giroud

    Berita AC Milan – Olivier Giroud secara resmi mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan AC Milan pada akhir musim ini setelah kontraknya berakhir. Seluruh rekan satu timnya mengirimkan pesan perpisahan yang menyentuh hati, menunjukkan betapa besar pengaruh dan kontribusi Giroud selama di klub.

    Giroud bergabung dengan AC Milan pada musim panas 2021 dari Chelsea. Awalnya, ia dimaksudkan untuk menjadi pelapis Zlatan Ibrahimovic, namun dengan cepat ia memperoleh peran utama dan menjadi favorit penggemar.

    Dalam 130 penampilannya, Giroud mencetak 48 gol dan memberikan 19 assist, membantu AC Milan meraih Scudetto 2021-22 dan mencapai semifinal Liga Champions musim lalu.

    Setelah tiga tahun penuh emosi, Giroud akan berpisah dengan Milan dan dipastikan akan pindah ke Los Angeles FC. Dalam wawancara dengan Milan TV, Giroud mencurahkan perasaannya dan menerima pesan perpisahan dari rekan-rekan setimnya.

    Pesan Perpisahan dari Rekan Tim

    Davide Calabria: “Hai Oli, kuharap momen ini tidak terjadi. Anda telah memberikan begitu banyak kepada tim ini, kepada grup ini, dan kepada saya. Ini merupakan suatu keistimewaan, saya akan selalu mengingatnya.”

    Theo Hernandez: “Hai Oli. Ini adalah pesan untuk mengucapkan terima kasih atas semua yang telah Anda lakukan untuk tim Milan ini. Saya bisa mengatakan banyak hal. Saya berharap dapat segera bertemu dengan Anda, pastinya dalam tugas internasional.”

    Malick Thiaw: “Kamu tidak menyadarinya, tapi kamu tetap bertingkah seperti pria normal. Saya sangat berterima kasih atas semua duel dalam latihan, saya pikir itulah salah satu alasan saya menjadi lebih baik di sini.”

    Yunus Musah: “Saya ingat pergi ke Emirates saat masih kecil untuk melihat Anda bermain. Bermain bersama-sama adalah mimpi yang menjadi kenyataan, saya berharap yang terbaik untuk Anda semua.”

    Christian Pulisic: “Saya merasa telah belajar banyak berkat Anda dan kami memiliki koneksi yang luar biasa di lapangan.”

    Ismaël Bennacer: “Saya telah mendengar banyak tentang Anda, tetapi Anda bahkan lebih baik dari apa yang dikatakan semua orang. Bahkan dalam 10 atau 20 tahun saya berharap dapat menelepon Anda dan Anda menelepon saya. Sampai jumpa Oli, aku akan merindukanmu.”

    Noah Okafor: “Sungguh menyenangkan bisa bermain bersama Anda, bantuan yang Anda berikan kepada saya, saya belajar banyak dari Anda. Kamu adalah pria yang baik, pria yang baik, ayah yang baik.”

    Matteo Gabbia: “Hei kanguru tua! Anda adalah orang yang luar biasa, seorang juara dunia dan Anda akan selamanya ada di hati kami. Aku mencintaimu dan mengirimimu pelukan erat. Semoga beruntung dalam pengalaman Anda berikutnya.”

    Ruben Loftus-Cheek: “Anda adalah contohnya. Seseorang yang menjaga dirinya sendiri, tubuhnya, pikirannya. Seorang profesional top dan pemain top, juga sebagai pribadi. Saya mendoakan yang terbaik untuk Anda, saya yakin Anda akan bermain 10 tahun lagi.”

    Marco Sportiello: “Anda adalah seorang juara yang hebat.”

    Alessandro Florenzi: “Hai presiden. Terima kasih atas semua kemenangannya.”

    Tijjani Reijnders: “Hai, Giroud, temanku. Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk memberi Anda assist pertama saya di sini, di AC Milan. Pelukan erat.”

    Tommaso Pobega: “Anda selalu menunjukkan sikap dan keinginan yang benar untuk menang. Itulah mengapa Anda telah memenangkan banyak hal dan itu akan memberi Anda lebih banyak kesuksesan di masa depan.”

    Samuel Chukwueze: “Hai Oli. Anda sangat memotivasi saya, bermain di usia 37 tahun, menurut saya itu tidak mudah.”

    Fikayo Tomori: “Tentu saja saya tidak bisa melupakan tahun Scudetto ketika Anda mencetak semua gol penting bagi kami. Semua pria Oli yang terbaik.”

    Stefano Pioli: “Saya bangga bisa bekerja sama dengan Anda, ini merupakan sebuah keistimewaan dan kehormatan. Mengirim pelukan, terima kasih dan kamu tahu aku mencintaimu. Kamu istimewa, pelukan erat.”

    Perpisahan ini bukan hanya akhir dari sebuah perjalanan di AC Milan, tetapi juga awal dari babak baru bagi Olivier Giroud di Los Angeles FC. Kontribusinya akan selalu dikenang oleh rekan-rekan dan para penggemar Rossoneri.

  • Pemecatan Stefano Pioli Bisa Timbulkan Masalah Finansial bagi AC Milan

    Pemecatan Stefano Pioli Bisa Timbulkan Masalah Finansial bagi AC Milan

    Berita AC Milan – Milan saat ini berada dalam kondisi kebingungan terkait masa depan pelatih kepalanya, Stefano Pioli. Carlo Pellegatti, seorang jurnalis sepak bola terkemuka, menyarankan bahwa klub dan Pioli harus duduk bersama untuk menegosiasikan persyaratan kepergian, sebuah langkah yang sering diremehkan namun sangat penting.

    Situasi ini muncul di tengah spekulasi tentang siapa yang akan menjadi pelatih baru AC Milan untuk musim 2023-24. Namun, satu hal yang tampaknya pasti adalah bahwa sudah waktunya untuk perubahan di ruang ganti. Hal ini tidak hanya soal mengucapkan selamat tinggal kepada Pioli dan menyambut pelatih baru, tetapi juga menyangkut masalah finansial yang signifikan.

    Pioli masih memiliki kontrak hingga Juni 2025, yang berarti pemutusan kontrak lebih awal akan melibatkan biaya pesangon yang tidak sedikit. Berbicara di Radio Rossonera, Pellegatti menganalisis tantangan yang dihadapi Milan terkait kontrak Pioli dan dampaknya terhadap pemilihan pelatih baru.

    “Hari ini Il Mattino mengatakan bahwa [Antonio] Conte berada di antara Napoli dan Milan. Pada siang hari saya menerima penolakan lagi dari Milan. Bahkan untuk [Sérgio] Conceicao mereka terus mengatakan tidak kepada saya. Saya selalu berharap pada [Thiago] Motta tetapi mereka mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan menjadi pelatih yang ‘sangat bagus’,” kata Pellegatti.

    Pellegatti menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan Pioli dengan baik. “Menurut saya, persoalan Pioli perlu diselesaikan, kita selalu menganggap remeh. Jika dia tidak menegosiasikan paket pesangon dengan Milan senilai 1/2/3 juta… kami tidak tahu apakah kami perlu membayarnya 8 juta euro atau tidak.”

    Ini berarti, jika Milan tidak dapat menyetujui kesepakatan pesangon yang masuk akal dengan Pioli dan harus membayar penuh €8 juta untuk tahun terakhir kontraknya, hal ini bisa berdampak signifikan pada anggaran yang tersedia untuk pelatih baru.

    Pellegatti menjelaskan bahwa biaya untuk pelatih baru dan pesangon Pioli perlu diperhitungkan dengan cermat. “Menemukan pelatih dengan gaji bersih 5 juta euro dan kemudian pesangon 3 juta euro untuk Pioli adalah satu persoalan, namun harus membayar 8 juta euro untuk tahun terakhir kesepakatan Pioli adalah persoalan yang lain.”

    Dalam konteks ini, keputusan terkait masa depan Pioli tidak hanya soal performa di lapangan, tetapi juga terkait dengan strategi finansial klub. AC Milan perlu mempertimbangkan semua aspek ini dengan hati-hati untuk memastikan transisi yang mulus dan berkelanjutan menuju era baru di bawah pelatih baru.

    Dengan demikian, negosiasi yang bijak dan strategis antara AC Milan dan Pioli akan menjadi kunci dalam menentukan langkah selanjutnya bagi klub, baik dari segi performa maupun finansial.