Banyak yang mengerutkan kening ketika AC Milan mendatangkan Niclas Füllkrug. Usia 32 tahun dan kegagalan di West Ham menjadi alasan utama keraguan tersebut.
Namun, jika kita melihat debut 20 menitnya melawan Cagliari dan membedah kebutuhan taktis Massimiliano Allegri, Füllkrug sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi sukses besar di San Siro.
Sepak bola bukan hanya soal kecepatan atau teknik individu, tetapi soal kecocokan sistem. Berikut adalah analisis mengapa “Tank Jerman” ini bisa menjadi kunci Scudetto Milan.
1. Arketipe Striker Favorit Allegri
Massimiliano Allegri tidak pernah menyembunyikan kesukaannya pada striker fisik yang bisa menjadi tembok (target man). Lihat sejarahnya: Mario Mandzukic, Zlatan Ibrahimovic, hingga Olivier Giroud. Allegri menyukai striker yang bisa memenangkan bola panjang, menahan bola, dan membiarkan gelandang naik.
- Fisik Dominan: Füllkrug memiliki kekuatan fisik yang memungkinkan Milan bermain pragmatis. Saat buntu, buang bola ke depan, dan Füllkrug akan memenangkannya.
- Penyelesai Klinis: Di Dortmund, ia membuktikan diri sebagai finisher efisien di dalam kotak penalti. Ini yang hilang dari Milan saat Giroud pergi.
2. Pelayan Sempurna untuk Leao dan Pulisic
Kehadiran Füllkrug bukan untuk menjadi bintang utama, melainkan untuk membuat bintang lain bersinar lebih terang. Rafael Leao dan Christian Pulisic membutuhkan ruang.
- Magnet Bek Lawan: Füllkrug akan menarik perhatian dua bek tengah lawan dengan fisiknya. Hal ini otomatis menciptakan situasi 1-lawan-1 bagi Leao di sayap, situasi di mana Leao sangat mematikan.
- Link-up Play: Debut melawan Cagliari memperlihatkan visi Füllkrug. Umpan pantulannya kepada Pulisic (yang hampir menjadi gol) menunjukkan ia bukan striker yang egois.
3. Spesialis Serie A (Tanpa Sadar)
Serie A adalah liga yang ramah bagi striker veteran dengan kecerdasan posisi dan fisik kuat. Edin Dzeko, Olivier Giroud, dan Luca Toni adalah bukti bahwa kecepatan bukan segalanya di Italia.
“Saya sudah merasa seperti di rumah sendiri… Debut yang sempurna.” – Niclas Füllkrug pasca laga Cagliari.
Tempo Serie A yang sedikit lebih lambat dibanding Premier League akan menutupi kekurangan kecepatan Füllkrug, sementara kekuatan fisiknya akan menjadi mimpi buruk bagi bek-bek Italia.
4. Mentalitas “Late Bloomer”
Füllkrug bukanlah “Diva”. Ia adalah pemain yang kariernya meledak di usia matang. Tipe pemain seperti ini biasanya memiliki etos kerja (work rate) yang sangat tinggi dan tidak banyak menuntut.
Di tengah perburuan Scudetto yang ketat dengan Inter dan Napoli, Milan membutuhkan petarung yang siap berdarah-darah demi tim, bukan pemain bintang yang merajuk jika dicadangkan. Karakter Füllkrug adalah karakter juara.
Kesimpulan
Füllkrug mungkin bukan solusi jangka panjang untuk 5 tahun ke depan. Tapi untuk misi 5 bulan ke depan merebut Scudetto? Dia adalah solusi murah, berisiko rendah, dan cerdas secara taktik yang sangat dibutuhkan Allegri.




