BeritaSerba Serbi

Ambrosini Bongkar Rahasia Istanbul: Apa yang Terjadi di Ruang Ganti Saat Jeda

×

Ambrosini Bongkar Rahasia Istanbul: Apa yang Terjadi di Ruang Ganti Saat Jeda

Sebarkan artikel ini
Massimo Ambrosini
Massimo Ambrosini

Sudah bertahun-tahun publik membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di ruang ganti pada jeda final Liga Champions 2005 di Istanbul antara AC Milan dan Liverpool. Saat itu, Rossoneri unggul telak 3-0 di akhir babak pertama, sebelum akhirnya malam tersebut berubah menjadi salah satu luka terbesar dalam sejarah sepak bola.

Kini, Massimo Ambrosini akhirnya menceritakan sebuah anekdot personal dari malam tersebut. Berbicara kepada Cronache di Spogliatoio, mantan kapten Milan itu mengungkap detail yang jarang diketahui publik.

Apa yang Terjadi di Ruang Ganti Istanbul

Massimo Ambrosini, mantan gelandang dan kapten AC Milan, membuka ceritanya dengan menjelaskan posisinya pada malam final tersebut. Berikut pernyataan lengkapnya:

“Saya akan menceritakan apa yang terjadi di ruang ganti saat jeda di Istanbul. Saya, Inzaghi, dan Brocchi berada di tribun dengan pakaian resmi. Saat skor 3-0, apalagi saya yang mencetak gol penentu di semifinal melawan PSV, bisa dibayangkan perasaan saya. Pikiran saya bekerja seperti ini: jika kami memenangkan pertandingan dan turun ke lapangan untuk merayakan bersama rekan-rekan, dalam 30 tahun ke depan siapa pun yang melihat foto akan melihat saya di lapangan dengan dasi, sehingga orang akan tahu bahwa saya tidak bermain di final itu.”

Ambrosini kemudian menjelaskan keputusan spontan yang ia ambil bersama dua rekannya.

“Saya tahu apa yang terjadi di ruang ganti karena saya menyuruh yang lain masuk lebih dulu, lalu begitu mereka keluar kami bertiga berganti pakaian, mengenakan jersey, perlengkapan lengkap termasuk kaus kaki. Setelah itu kami mengenakan jaket latihan di atasnya. Itulah sebabnya saya menonton babak kedua dengan mengenakan training suit.”

Yang lebih menarik, Ambrosini juga mendengar langsung dinamika di dalam ruang ganti.

“Saya berada di kamar mandi dan mendengar apa yang terjadi. Kami mendengar Gattuso berteriak kepada Pirlo, Sandro Nesta mencoba menenangkan semua orang, lalu pelatih datang dan berkata: ‘Cukup! Duduk, ada dua atau tiga hal yang harus kita lakukan.’ Di menit-menit awal babak kedua kami bahkan punya peluang untuk membuat skor menjadi 4-0. Setelah itu saya keluar dari ruang ganti dengan mengenakan jersey, dan bisa dibilang hal ini tidak membawa banyak keberuntungan.”

Analisis Redaksi

Cerita Ambrosini memperlihatkan bahwa tragedi Istanbul bukan hanya soal taktik atau momentum di lapangan, tetapi juga tentang detail emosional dan psikologis yang sering luput dari sorotan. Ruang ganti yang penuh ketegangan, emosi yang sulit dikendalikan, dan momen-momen kecil di balik layar turut membentuk jalannya sejarah. Kisah ini menambah dimensi manusiawi pada salah satu malam paling ikonik—dan paling menyakitkan—dalam perjalanan Milan.

Beritamilan.com dikelola secara independen dan dijalankan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Jika Anda ingin membantu menjaga situs ini tetap bertahan hidup silakan Klik di sini.