Alvaro Morata: Saya Seharusnya Tak Tinggalkan Atletico Madrid untuk AC Milan!

Photo: acmilan.com

Keputusan Alvaro Morata untuk meninggalkan Atletico Madrid dan bergabung dengan AC Milan musim panas lalu kini menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam kariernya.

Dalam sebuah wawancara terbaru dengan Cadena Ser, striker asal Spanyol itu mengungkapkan bahwa tekanan pribadi dan kebutuhan emosional membuatnya mengambil langkah yang salah, meskipun ia telah diperingatkan oleh orang-orang terdekatnya.

Faktor Emosional di Balik Kepindahan ke Milan

Morata menjelaskan bahwa ia berada dalam kondisi mental yang sulit saat memutuskan untuk meninggalkan Atletico. Ketidaknyamanan pribadi membuatnya merasa perlu mencari lingkungan baru, dan panggilan telepon yang tak henti-hentinya dari pelatih AC Milan kala itu, Paulo Fonseca, memberinya rasa dihargai yang ia cari.

“Fonseca menelepon saya setiap hari. Saya perlu merasa dicintai dan dihargai,” ujar Morata. Namun, dalam retrospeksi, ia menyadari bahwa pelatih Atletico, Diego Simeone, sebenarnya juga mendukung dan menghargainya, meskipun ia gagal melihatnya pada saat itu.

Photo: acmilan.com

Statistik yang Mengecewakan di Milan

Sayangnya, petualangan Morata bersama Rossoneri berlangsung singkat dan jauh dari kata sukses. Dalam 16 penampilan di Serie A, ia hanya mampu mencetak lima gol. Kedatangan Sergio Conceiçao sebagai pelatih baru pada akhir Desember semakin memperjelas bahwa Morata tidak lagi masuk dalam rencana taktis Milan.

Keputusan klub untuk meminjamkan Morata ke Galatasaray pada bulan Januari menjadi langkah yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Milan menggunakan dana dari kesepakatan tersebut untuk merekrut Santiago Gimenez, seorang striker yang lebih cocok dengan filosofi permainan Conceiçao.

Penyesalan dan Refleksi

Morata mengakui bahwa ia salah menilai situasi di Atletico Madrid. Ia mengabaikan nasihat dari ayah dan agennya, yang memperingatkan bahwa meninggalkan klub di bawah asuhan Simeone adalah keputusan yang keliru.

“Saat Anda tidak sehat, Anda membuat keputusan yang salah dalam setiap aspek kehidupan,” katanya. “Jika saya bisa kembali, saya tidak akan pernah meninggalkan Atlético.”

Namun, Morata juga menyadari bahwa masa lalu tidak dapat diubah, dan ia kini berusaha fokus pada masa depannya di Galatasaray, di mana ia merasa lebih bahagia.

Masa Depan di Galatasaray

Kesepakatan pinjaman Morata dengan Galatasaray berlangsung hingga Januari 2026, dengan opsi pembelian permanen sebesar €8 juta. Jika opsi ini diaktifkan, Morata akan memiliki kesempatan untuk membangun kembali kariernya di Turki, jauh dari tekanan yang ia hadapi di Spanyol dan Italia.

Alvaro Morata
Photo: acmilan.com

Kesimpulan

Kisah Alvaro Morata adalah pengingat bahwa keputusan besar dalam karier sering kali dipengaruhi oleh faktor emosional dan situasi pribadi. Meskipun ia menyesali keputusannya meninggalkan Atletico, Morata kini berfokus pada babak baru dalam hidupnya, dengan harapan dapat menemukan kembali performa terbaiknya di Galatasaray.

Bagi Milan, kepergian Morata membuka jalan bagi Santiago Gimenez, yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang di lini depan Rossoneri. Sementara itu, bagi Morata, perjalanan ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya mendengarkan orang-orang terdekat dan mempertimbangkan keputusan dengan hati-hati.

Pos terkait