Amorim belajar berubah, dan itu menjawab kritik lama bahwa ia terlalu kaku pada satu sistem.
Pelatih Milan itu kini rajin mengganti formasi dari laga ke laga, dan Gazzetta dello Sport sampai menjulukinya bunglon.
Amorim Belajar Berubah dari Kritik Lama Soal Sistem Kaku
Salah satu kelemahan terbesar Ruben Amorim dulu adalah sulit berubah, tetapi Milan tidak melihat hal itu sekarang. Musim panas lalu, Milan sempat diperingatkan bahwa perubahan dan Amorim tidak cocok. Menurut sebagian orang, pelatih asal Portugal itu terlalu setia pada sistemnya, bahkan menempatkannya di atas kebutuhan tim.
Saat bergabung dengan Rossoneri, anggapan itu masih melekat, dan 3-4-2-1 dianggap sebagai pilihan utamanya. Namun, ternyata ia tidak terpaku di sana. Gazzetta dello Sport menyebut gayanya “bunglon”, lalu mengulas semua formasi yang sudah dipakai Milan musim ini.

Berikut rangkuman perubahan formasinya:
- 3-4-2-1: formasi andalan yang sangat sering dipakai sebelum jeda internasional.
- 4-2-3-1: diuji di laga terakhir sebelum jeda, saat Milan menang 3-0 atas Lecce.
- Sekarang: disesuaikan laga demi laga, dan bisa berubah di tengah pertandingan, seperti saat melawan Atalanta akhir pekan ini.
- Lini tengah: dua gelandang di 3-4-2-1, tiga gelandang di 4-2-3-1 dan 4-3-3.
- Rabiot: pemain penting dalam perubahan ini, dan keputusan itu banyak membantu Modric.
Rabiot dan Dua Malaikat Penjaga untuk Modric
Lini tengah Milan memang sulit ditebak. Dalam 3-4-2-1, hanya ada dua gelandang, tetapi Amorim juga mencoba tiga gelandang lewat 4-2-3-1, bahkan 4-3-3. Adrien Rabiot sangat penting dalam perubahan ini, dan keputusan itu banyak membantu Luka Modric. Kini Modric tampak lebih tajam dan lebih berharga dibanding musim lalu.
Intinya, Amorim bekerja dengan pemain yang tersedia. Dengan Modric didukung dua “malaikat penjaga”, tim ikut diuntungkan.
Dengan Amorim belajar berubah, Milan mendapat pelatih yang tak lagi terpaku pada satu sistem.





