Para pendukung sebelumnya sangat yakin bahwa rekor gol Adrien Rabiot akan selalu membawa kemenangan mutlak bagi AC Milan.
Namun, kenyataan pahit justru harus diterima oleh skuad Rossoneri secara menyakitkan pada akhir pekan kemarin.
Mitos kemenangan otomatis tersebut akhirnya resmi patah saat tim kesayangan kita ditahan imbang secara dramatis oleh Sassuolo.
Padahal, sang gelandang asal Prancis itu kembali mencetak gol krusial melalui proses yang seolah muncul dari ketiadaan.
Kehadirannya di dalam kotak penalti lawan biasanya secara harfiah selalu sukses mengunci tiga poin penuh.
Sayangnya, magis pemain andalan kita ini ternyata tidak lagi berpihak pada nasib klub di pertandingan kali ini.
Berakhirnya Magis Rekor Gol Adrien Rabiot

Menurut laporan jurnalis dari MilanVibes, hasil laga akhir pekan ini mencatatkan sebuah sejarah baru yang sangat menyedihkan.
Untuk pertama kalinya, skuad kebanggaan kita harus rela membuang poin berharga justru ketika sang maestro lini tengah berhasil mencetak gol.
Sebelum momen nahas ini terjadi, setiap bola yang disarangkan oleh pemain Prancis ini selalu membakar rasa percaya diri suporter.
Selama satu setengah musim mengabdi di San Siro, ia telah mengoleksi catatan magis yang sangat menakutkan bagi tim lawan.
Berikut adalah rincian tujuh pertandingan bertuah sang pemain sebelum tren kemenangannya hancur berkeping-keping:
- Musim Lalu: Ia mencetak gol yang berujung pada kemenangan melawan Torino (skor 2-3 dan 3-2), Como, Bologna, serta Verona.
- Musim Ini: Tembakan mematikannya kembali menghabisi Torino di awal musim, serta mencetak satu gol dalam kemenangan telak 3-0 melawan Lecce.
- Laga Kedelapan: Ia kembali mencatatkan nama di papan skor saat menghadapi Sassuolo, namun pertandingan ini justru merusak preseden kemenangan abadi klub.
Kekecewaan Mendalam Seusai Pertandingan
Catatan impresif tersebut sebenarnya membuktikan dengan sangat jelas betapa vitalnya peran sang bintang bagi permainan tim secara keseluruhan.
Setiap kali ia berkontribusi secara nyata, skuad Rossoneri hampir dipastikan selalu keluar gelanggang dengan kepala tegak.
Akan tetapi, kepastian absolut itu kini telah menguap begitu saja untuk pertama kalinya dalam sejarah tim asuhan Ruben Amorim.
Berdasarkan komentar pascapertandingannya, sang pemain mengisyaratkan adanya rasa frustrasi yang luar biasa terhadap persiapan mental rekan-rekannya.
Ia bahkan mengindikasikan bahwa skuad Il Diavolo mungkin tidak pernah benar-benar siap dan berada di posisi yang tepat untuk merebut seluruh poin.
Bagaimanapun juga, magis luar biasa yang selama ini dikenal sebagai “Faktor Rabiot” tak lagi menjadi jaminan mutlak untuk berjaya.
Oleh sebab itu, staf kepelatihan wajib segera mengevaluasi mentalitas para pemain agar beban kemenangan tidak hanya dipikul oleh satu orang saja.





