Dalam sepak bola, kadang pihak lawan justru yang paling jujur menggambarkan jalannya pertandingan. Setelah peluit akhir berbunyi di Mapei Stadium, bukan sorak kemenangan yang terdengar, melainkan pengakuan terbuka dari sang pelatih tuan rumah bahwa Rossoneri sempat memegang kendali penuh.
Alberto Aquilani mengakui bahwa Sassuolo terlalu banyak memberi inisiatif kepada AC Milan, tetapi ia memuji “kedewasaan” anak asuhnya dalam mengembalikan permainan ke jalur yang benar hingga laga berakhir imbang 1-1. Apa saja pengakuan lengkap sang pelatih? Simak ulasannya berikut ini.
Aquilani Akui Sassuolo Terlalu Memberi Ruang
Neroverdi telah menjelma menjadi pembunuh raksasa sejauh musim ini. Mereka mengalahkan Juventus 3-2 di kandang sendiri dan kini menahan imbang Rossoneri asuhan Ruben Amorim.
Adrien Rabiot sempat memecah kebuntuan lewat tembakan keras yang mengejutkan Arijanet Muric di dekat sudut atas gawang. Namun, Cas Odenthal menyundul bola menembus kerumunan kaki untuk menyamakan kedudukan tak lama kemudian.
Kepada Sky Sport Italia, Aquilani secara terbuka menjelaskan apa yang terjadi di lapangan:
“Saya pikir kami memulai dengan baik, tetapi bertahan terlalu dalam, membiarkan Milan memegang inisiatif, dan itu meningkatkan risiko bagi kami yang terkurung di area sendiri,”
“Secara keseluruhan tim memahami apa yang harus dilakukan, terkadang umpan kami tidak sebersih belakangan ini, tetapi secara umum saya puas.”
“Saya melihat tingkat energi menurun, jadi dengan pergantian pemain saya memasukkan tenaga segar dan mereka tampil sangat baik.”
Berikut rangkuman fakta penting dari pernyataan dan jalannya laga:
- Hasil akhir: Sassuolo 1-1 AC Milan.
- Gol Milan: Adrien Rabiot, tembakan keras ke dekat sudut atas gawang Muric.
- Gol Sassuolo: Cas Odenthal, menyundul bola menembus kerumunan kaki.
- Waktu penyama kedudukan: hanya sekitar lima menit setelah Milan unggul, lewat situasi bola mati.
- Catatan Sassuolo musim ini: mengalahkan Juventus 3-2 dan menahan imbang Milan.

Kedewasaan Neroverdi dan Pujian untuk Esposito
Saat tertinggal, Sassuolo hanya membutuhkan lima menit untuk menyamakan skor lewat situasi bola mati, salah satu kekuatan utama mereka. Aquilani pun menyebut momen itu sebagai bukti kedewasaan timnya.
“Inilah kedewasaan yang saya lihat, memahami momen-momen pertandingan, kapan harus menekan dan kapan harus menderita. Begitulah cara kami bisa bersaing melawan klub-klub besar ini, akan ada saat kami tertekan, tetapi kami bisa melewatinya,”
“Saya pikir kami bergantian di babak pertama, terkadang kami agak kacau dan tidak memanfaatkan koridor umpan yang terbuka, jadi kami bisa lebih terorganisasi. Jika Anda terorganisasi sebagai sebuah tim, kualitas individu juga akan muncul.”
Aquilani juga membahas Sebastiano Esposito, yang pekan lalu melakoni debut senior bersama timnas Italia di posisi lebih melebar di samping saudaranya, Pio Esposito. Di Sassuolo, ia lebih sering dimainkan sebagai penyerang tengah.
“Saya melihatnya lebih sebagai Nomor 9 atau 10, jadi dengan penyerang lain di sampingnya atau seorang trequartista. Saya punya beberapa pemain sayap yang kuat, jadi mungkin saya lebih menyukai karakteristik lain di posisi itu, tetapi saya percaya dia bisa menjadi penyerang tengah yang hebat,”
Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Milan boleh tertahan di Mapei, tetapi Rossoneri akan terus berlayar menembus badai menuju puncak. Forza Milan, sempre!





