Sebuah cuplikan video dari film dokumenter terbaru Manchester City muncul ke permukaan, memperlihatkan momen panas ketika Pep Guardiola menjadikan AC Milan sebagai contoh buruk saat memarahi Tijjani Reijnders.
Musim lalu adalah musim terakhir Guardiola sebagai pelatih kepala City, dan itu merupakan perjalanan yang luar biasa. Pelatih asal Spanyol tersebut sukses memenangkan 20 trofi mayor selama 10 tahun masa jabatannya di sana, termasuk satu trofi Liga Champions dan enam gelar Liga Premier Inggris.
Namun, mereka gagal memenangkan satu pun dari dua gelar bergengsi tersebut pada musim 2025-2026, dan tampaknya ada masa-masa yang cukup bergejolak di dalam tim.
Dalam serial dokumenter empat bagian terbaru City yang berjudul ‘A Beautiful Obsession’ – yang tayang perdana di Prime Video bulan ini – terdapat sebuah cuplikan yang menyoroti dua musim terakhir Guardiola yang penuh gejolak dan emosional di klub tersebut.
Berikut adalah poin-poin utama dari insiden yang menyeret nama AC Milan di ruang ganti Manchester City:
- Motivasi Keras: Pep Guardiola menggunakan kegagalan di musim sebelumnya untuk memacu motivasi skuad Manchester City.
- Sentilan untuk Reijnders: Sang pelatih secara spesifik menunjuk Tijjani Reijnders dan menjadikan kegagalan Milan lolos ke Eropa sebagai contoh buruk.
- Eksodus Berlanjut: Reijnders yang pindah ke City pada 2025 kini diketahui telah hengkang lagi menuju klub Arab Saudi.
Amarah Pep Guardiola di Ruang Ganti
Man Pep just asked Reijnders if he “wants to have a flop season like milan did”
We are being used as an example in dressing rooms😭 pic.twitter.com/Pq2OQTP5rc
— I was him (@kudusdey) August 31, 2026
Selama salah satu momen pertukaran kata yang tegang di ruang ganti, Guardiola yang tampak marah melontarkan kata-kata keras untuk memompa semangat para pemainnya agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.
Secara mengejutkan, nama Rossoneri ikut terseret dalam amarah tersebut ketika Guardiola menatap tajam ke arah Reijnders.
“Pertanyaan besarnya adalah, untuk semua pemain Man City dari musim lalu, apakah kalian ingin bermain seperti musim lalu? Apakah kalian ingin meyakini musim lalu yang kita miliki? Apakah kamu ingin bermain seperti musim lalu yang kamu jalani di f***ing Milan, di mana kamu tidak lolos ke Eropa? Kamu menginginkannya? Kamu ingin melakukan itu? Ingatkan diri kalian sendiri apakah kalian ingin hidup atau menghidupkan kembali musim lalu. Jika kalian tidak menginginkannya, kalian akan menang, teman-temanku.”
Kilas Balik Transfer Tijjani Reijnders

Pernyataan Guardiola tersebut membuka kembali luka lama bagi para pendukung Il Diavolo Rosso. Sebagai pengingat, Reijnders pindah dari Milan menuju Manchester City pada bursa transfer musim panas 2025 silam.
Gelandang asal Belanda tersebut terpaksa dikorbankan penjualannya oleh manajemen setelah Milan mendapati kenyataan pahit gagal lolos ke kompetisi Eropa mana pun pada musim tersebut.
Kini, perjalanan karier Reijnders di Inggris rupanya tidak berlangsung lama. Ia telah resmi meninggalkan Manchester City dan bergabung dengan salah satu klub di Liga Arab Saudi, sebuah transfer yang dikabarkan menghasilkan persentase penjualan (sell-on fee) yang cukup menguntungkan bagi Milan.




