Kemenangan krusial atas Manchester United pada laga uji coba terakhir menjadi hembusan napas segar yang sangat penting bagi skuad maupun lingkungan klub.
Pertandingan tersebut akhirnya memperlihatkan tanda-tanda positif dari skema permainan tim, baik secara kolektif maupun kualitas kehebatan individu.
Samuel Chukwueze sukses tampil sebagai pemain terbaik di atas lapangan berkat penampilannya yang sangat menjanjikan.
Kini patut dinantikan apakah pemain sayap asal Nigeria itu akan menjadi kejutan positif musim ini atau justru tetap berstatus sebagai talenta yang belum matang. Ia pastinya sedang memiliki peluang besar untuk membuktikan kualitas sejatinya.
Respons luar biasa juga ditunjukkan oleh Goncalo Ramos di lini depan penyerangan Rossoneri. Mantan penyerang Paris Saint-Germain itu membuktikan kapasitasnya sebagai ujung tombak yang mampu membangun kerja sama sekaligus menjadi sosok nomor 9 sejati.
Ketika mendapatkan pasokan bola matang, ia selalu mampu mengonversinya menjadi gol atau setidaknya menciptakan assist berbuah manis.
Sangat wajar untuk mengapresiasi semua hal baik yang terlihat, tetapi penting juga untuk tetap membumi dan tidak berpikir bahwa skuad AC Milan sudah baik-baik saja. Sebaliknya, merasa cepat puas dan lengah di fase ini akan menjadi sebuah kesalahan yang sangat fatal.
Kelemahan Lini Belakang dan Kebutuhan 3 Rekrutan

Demi menjalankan prinsip taktik Ruben Amorim, skuad saat ini masih dihuni oleh terlalu banyak pemain yang tidak sesuai kriteria, bahkan setelah proses pencoretan besar-besaran dilakukan.
Berikut adalah poin-poin evaluasi utama terkait kondisi skuad dan pergerakan bursa transfer AC Milan saat ini:
- Kelemahan Build-up: Terdapat celah krusial saat membangun serangan dari belakang yang sering berujung pada kehilangan bola dan ancaman fatal dari lawan.
- Tiga Target Wajib: Manajemen harus segera mendatangkan bek tengah yang mahir mendistribusikan bola, seorang gelandang serang jenius, dan satu gelandang sayap.
- Keterlambatan Eksekusi: Penundaan perombakan skuad hingga pertengahan Agustus dinilai sebagai kesalahan strategi yang merugikan persiapan tim.
Kelemahan paling mencolok terlihat pada fase membangun serangan dari belakang, sebuah area yang membutuhkan kerja ekstra dan refleksi mendalam.
Terlalu sering selama masa pramusim ini armada Rossoneri kehilangan bola saat mencoba keluar dari area pertahanan sendiri. Kesalahan fatal tersebut kerap kali berujung pada hukuman penalti, kebobolan konyol, hingga risiko ancaman tingkat tinggi dari tim lawan.
Kondisi ini menegaskan bahwa AC Milan sejatinya masih berstatus sebagai proyek pembangunan yang belum selesai.
Untuk benar-benar meningkatkan level permainan tim, manajemen setidaknya harus segera mendatangkan tiga rekrutan papan atas yang telah disebutkan di atas.
Kesalahan Fatal Tenggat Waktu Transfer

Hampir semua klub memang menghadapi kesulitan di bursa transfer, tetapi tidak ada satu pun tim yang tertinggal sejauh AC Milan jika dibandingkan dengan rencana awal proyek mereka.
Banyak pihak menilai bahwa Amorim sama sekali tidak mendapatkan bantuan yang layak dari pihak manajemen seperti yang seharusnya ia terima.
Kalaupun pihak klub pada akhirnya berhasil mewujudkan semua target transfer dalam kurun waktu 15 hari ke depan, Milan tetap akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyatu menjadi sebuah tim sungguhan.
Faktor krusial terkait tenggat waktu lagi-lagi telah diabaikan secara sengaja oleh jajaran petinggi klub. Menunda proses perombakan skuad hingga detik-detik terakhir bursa transfer jelas merupakan sebuah kesalahan yang amat memalukan.
Belum pernah ada sejarahnya sebuah klub memutuskan untuk membuang tujuh hingga delapan pemain secara mendadak pada pertengahan bulan Agustus.
Mempublikasikan daftar coret tersebut ke media justru menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa sebenarnya keuntungan yang ingin dicapai oleh klub. Risiko terburuk dari strategi gegabah ini adalah sebagian besar pemain buangan tersebut pada akhirnya hanya akan pergi dengan status pinjaman.
Manajemen sebelumnya sempat berjanji bahwa tidak akan ada lagi revolusi skuad, namun kenyataan saat ini justru membuktikan sebaliknya. Akibatnya, setiap tahun Milan harus terus-menerus membentuk ulang grup baru yang secara otomatis tidak akan pernah bisa menyatu layaknya tim yang sudah saling memahami satu sama lain.
Menanggapi dalih manajemen yang menyebutkan bahwa terdapat ‘apel busuk’ di dalam skuad, kawan pengamat sepak bola Leonardo Martinelli memberikan sebuah perumpamaan tajam:
“Apel tidak terlahir busuk, mereka menjadi busuk. Anda harus menebang pohon apelnya.”
Pada akhirnya, rentetan keputusan berisiko dan keterlambatan manuver di bursa transfer ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi manajemen dan pelatih AC Milan dalam menyongsong bergulirnya musim kompetisi baru.





