Penyerang andalan AC Milan, Rafael Leao, akhirnya buka suara terkait masa depannya di San Siro menyusul keberhasilannya mencetak gol bagi tim nasional Portugal saat menghadapi Uzbekistan.
Berbicara secara eksklusif kepada jaringan televisi DAZN seusai pertandingan, pemain sayap tersebut membagikan refleksinya setelah melewati musim kompetisi yang penuh tantangan.
Leao mengakui bahwa musim 2025-2026 merupakan periode yang sangat sulit baginya, baik karena rentetan cedera maupun dinamika performa klub secara keseluruhan bersama Rossoneri.
Mari dukung terus langkah manajemen dengan menggunakan Kaos Milan Katun Anti Panas melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee secara langsung.
Dedikasi Gol untuk Keluarga dan Pembuktian Diri
“Saya harus merayakannya bersama keluarga karena musim ini terasa sangat sulit bagi saya. Cedera dan banyak hal yang terjadi di antaranya. Termasuk juga musim bersama Milan,” ungkap Leao penuh kelegaan.
Pemain kunci skuad Portugal tersebut mendedikasikan golnya untuk keluarga, pelatih pribadi, serta rekan-rekan setim yang terus memberikan dukungan di masa-masa sulit.
“Saya harus berterima kasih kepada pelatih tim nasional karena telah memberikan kepercayaan kepada saya hingga saat ini, mengingat di skuad Portugal terdapat banyak pemain hebat,” tambahnya memuji sang juru taktik.
Ketika ditanya mengenai versi Leao seperti apa yang akan terlihat ke depannya, ia menegaskan komitmennya untuk memberikan yang terbaik demi dirinya sendiri, rekan setim, dan pelatih.
“Saya harus bermain untuk diri saya sendiri, bukan untuk orang lain. Untuk rekan setim dan pelatih saya. Saya bahagia karena bisa membantu tim, dan mendapatkan menit bermain adalah hal yang penting,” tegasnya.
Pandangan Terhadap Ruben Amorim dan Masa Depan Klub

Topik yang paling dinantikan oleh publik San Siro tentu saja adalah pandangan Leao mengenai pelatih baru AC Milan, Ruben Amorim, serta kepastian statusnya di bursa transfer musim panas ini.
“Saat ini saya harus tetap fokus pada Piala Dunia. Apa yang saya ketahui tentang pelatih ini [Amorim] adalah bahwa ia sangat hebat, ia bekerja dengan baik di Portugal,” jelas sang pemain sayap.
Menariknya, Leao tetap memberikan pembelaan terhadap kiprah Amorim yang sempat tidak berjalan mulus di Manchester United, seraya menegaskan bahwa kompatriotnya tersebut tetaplah seorang juru taktik yang patut diwaspadai.
“Di [Manchester] United memang tidak berjalan seperti yang ia inginkan, namun ia tetaplah seorang pelatih yang hebat. Saya akan memutuskan jalan hidup saya setelah Piala Dunia berakhir,” pungkas Leao membiarkan pintu spekulasi tetap terbuka lebar.
Kini, bola sepenuhnya berada di kaki Rafael Leao. Keputusannya pasca-Piala Dunia tidak hanya akan menentukan arah kariernya, tetapi juga menjadi ujian pertama bagi proyek besar Ruben Amorim di Casa Milan, di mana kesetiaan seorang pemain sering kali diuji tepat ketika nakhoda baru mengambil alih kemudi.
Menarik untuk dinantikan, akankah sang bintang memilih untuk bertahan dan mengukir sejarah baru bersama Rossoneri, atau justru melangkah pergi mencari pelabuhan lain demi memenuhi ambisi besarnya di panggung Eropa.





