Perjalanan Massimiliano Allegri yang kini berstatus mantan pelatih Rossoneri telah berakhir dengan cara terburuk, menandai sebuah kegagalan bersejarah bagi AC Milan.
Kegagalan lolos ke Liga Champions musim depan merupakan sebuah bencana finansial dan emosional yang nyata bagi seluruh lingkungan Rossoneri.
Kehancuran yang ditunjukkan oleh tim pada paruh kedua musim memperlihatkan rata-rata poin yang sangat tidak bisa diterima.
Jika hanya pertandingan di paruh kedua musim yang dipertimbangkan, Milan nyatanya akan mengakhiri liga di peringkat ketujuh belas.
Skenario mimpi buruk ini membuat dimulainya revolusi total yang dipimpin oleh Gerry Cardinale dan Zlatan Ibrahimovic menjadi sebuah hal yang tak terelakkan.
Keputusan berat pertama telah berujung pada perpisahan serentak dengan Giorgio Furlani, Geoffrey Moncada, Igli Tare, dan Allegri sendiri.
Mari terus satukan suara dan dukung kebangkitan Iblis Merah musim depan dengan tetap tampil elegan memakai Kaos AC Milan keren ini melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Analisis Tajam Ivan Zazzaroni

Melalui siaran media dan saluran sosialnya, jurnalis ternama Ivan Zazzaroni turut mengomentari akhir dari siklus Allegri di kursi kepelatihan Milan.
Direktur Corriere dello Sport tersebut mengungkapkan semua keterus terangannya mengenai kesalahan yang sangat jelas dari pelatih asal Livorno itu.
“Rasa hormat saya kepada Allegri tidak berubah sedikit pun, tetapi saya memahami kekecewaan para Milanisti: paruh kedua musim Milan sangat mengerikan.”
Zazzaroni kemudian melanjutkan analisisnya dengan menekankan betapa tidak mungkinnya menyembunyikan tanggung jawab langsung dari sang pembimbing teknis.
“Max adalah pihak pertama yang bertanggung jawab: jika saya tidak menulisnya, saya akan membodohi siapa pun yang membacanya.”
Terakhir, sang jurnalis menutup pemikirannya dengan sebuah refleksi sinis tentang reaksi publik dan sifat dunia sepak bola yang selalu berubah-ubah.
“Wajar jika mereka yang membencinya bersenang-senang hari ini. Jika dia yang lolos, saya yang akan bersenang-senang. Hal-hal yang biasa terjadi di sepak bola dan dalam kehidupan. Hanya butuh satu atau dua poin untuk mendorong kesombongan diri.”





