Bunuh diri olahraga yang dilakukan oleh AC Milan dalam beberapa bulan terakhir ini membuahkan sebuah rekor negatif bagi tim asuhan Massimiliano Allegri.
Mereka harus mengakhiri musim di peringkat kelima dan secara otomatis terlempar dari zona kualifikasi Liga Champions.
Menurut data yang dirilis oleh Opta, Milan telah mengumpulkan 70 poin dalam satu musim Serie A dengan perhitungan tiga poin untuk sebuah kemenangan.
Namun, pencapaian tersebut justru membuat mereka mengakhiri turnamen di luar empat posisi teratas untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka di kompetisi tersebut.
Penyesalan Derbi Turin dan Kegagalan San Siro
Kekalahan di laga pamungkas ini terasa seperti sebuah ejekan yang tak terlukiskan, terutama mengingat hasil pertandingan tim lain yang sebenarnya sangat menguntungkan.
Di Turin, Juventus yang menjadi pesaing terdekat justru hanya mampu bermain imbang 2-2 dalam laga panas bertajuk Derby della Mole.
Mari obati kekecewaan ini dan tetap setia mendukung evaluasi skuad Iblis Merah dengan memakai Kaos AC Milan keren melalui 👉 Cek harga & promo terbaru di Shopee sekarang juga!
Berdasarkan skenario klasemen, hasil imbang sederhana melawan Cagliari sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Rossoneri mencapai 71 poin.
Angka tersebut akan menyamai perolehan poin milik Como sekaligus memastikan langkah mereka lolos ke Liga Champions musim depan.
Menanti Evaluasi Masa Depan

Kini, setelah semua harapan hancur berantakan di atas lapangan, tiba saatnya bagi jajaran direksi untuk mengambil keputusan tegas terkait masa depan klub.
Evaluasi penting dan menyeluruh dipastikan akan segera dilakukan terhadap semua elemen yang terlibat di dalam tubuh tim.
Raihan 70 poin yang biasanya menjadi tiket emas menuju kejayaan Eropa, kini justru menjelma menjadi nisan penanda kegagalan paling tragis dalam sejarah klub.
Sang Iblis Merah ibarat seorang pelari maraton yang kehabisan napas dan tersungkur tepat satu langkah sebelum menyentuh garis finis, membiarkan rival menyalip dengan mudah.
Kegagalan memanfaatkan kelengahan lawan di momen paling menentukan adalah sebuah dosa tak termaafkan dalam hukum alam sepak bola kasta tertinggi.
Sekarang, sapu bersih revolusi adalah satu-satunya cara untuk membuang debu penyesalan ini sebelum lembaran musim baru dipaksa terbuka dalam duka.





