Sudah bertahun-tahun, bukan sekadar hitungan bulan, “fanfare” (corong propaganda) Inter Milan selalu mendikte kita tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan, apa yang benar dan apa yang salah.
Polanya selalu sama: proses beatifikasi (penyucian) segala hal yang berbau Inter. Namun ketika fakta memalukan terjadi seperti Sabtu malam kemarin, mereka langsung mengungkit episode masa lalu yang tidak ada hubungannya dengan sikap tidak sportif, licik, dan tak terlukiskan dari Alessandro Bastoni.
“Wasit La Penna tidak memadai untuk konteks tertentu. Rocchi kini telah benar-benar menghancurkan karier politiknya di dalam dan di luar AIA dengan pilihan-pilihan yang makin meragukan.”
“Wasit tidak punya standar ganda, mereka membiarkan protes serial seperti Barella dan Lautaro Martinez, tapi kartu sangat mudah keluar untuk seragam lain.”
Kemunafikan Chivu dan Tugas Milan
Pelatih Inter, Cristian Chivu, yang tadinya tampak berbeda, ternyata sama munafiknya dengan yang lain. Alasan yang ia gunakan untuk membenarkan kartu kuning kedua Pierre Kalulu adalah ciri khas orang yang tahu betul cara kerja “permainan” ini.
Sekarang saatnya bilang CUKUP pada skandal sistematis di Serie A ini. Satu-satunya tim yang bisa menjaga kompetisi ini tetap hidup hanyalah AC Milan asuhan Massimiliano Allegri.
Ya, Max Allegri yang sering dihina karena tidak main cantik, padahal timnya tak terkalahkan dalam 23 laga. Milan wajib memenangkan tiga laga ke depan (termasuk vs Como dan Parma) demi menyuntikkan oksigen ke kompetisi yang sudah ternoda oleh kejadian di San Siro kemarin.
Max, Buka Mata: 4-3-3 Adalah Kunci!

Meski menang di Pisa, ada rasa pahit yang tertinggal. Babak pertama terasa datar. Gol Ruben Loftus-Cheek baru tercipta lewat aksi terencana yang cepat. Di fase krusial ini, Allegri harus sadar bagaimana menakar serangannya.
Loftus-Cheek bukanlah striker utama. Ia kesulitan memerankan posisi itu dan sering bermain membelakangi gawang sejauh 50 meter. Memang ia mencetak gol, tapi itu bukan alamiahnya.
“Tim ini terbuka secara teknis ketika beralih ke 4-3-3 dan itulah titik jatuh untuk memanfaatkan potensi teknisnya semaksimal mungkin.”
Formasi 4-3-3 dengan memasukkan pemain sayap murni (Leao/Pulisic) terbukti membuat Milan jauh lebih berbahaya dalam waktu singkat. Allegri harus berani “membuka” timnya jika ingin mengejar Inter yang tampaknya “dilindungi” semesta.
Rekomendasi Jersey AC Milan
Buat kamu fans AC Milan yang ingin jersey terbaru dengan kualitas bagus dan harga masih masuk akal, Jersey AC Milan Home 2026 – Grade Ori jadi salah satu pilihan favorit banyak Rossoneri.
Analisis Redaksi
Editorial ini mewakili jeritan hati banyak Milanisti. Kita lelah melihat rival diuntungkan wasit, sementara pemain seperti Kalulu jadi korban. Namun, mengeluh saja tidak cukup.
Milan harus menjawabnya di lapangan. Dan cara terbaik menjawabnya adalah dengan tidak memaksakan pemain di luar posisi aslinya. Kembalikan Loftus-Cheek ke tengah, mainkan 4-3-3, dan biarkan kualitas teknik Leao serta Pulisic menghancurkan lawan tanpa ampun.
Beritamilan.com dikelola secara independen dan dijalankan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Jika Anda ingin membantu menjaga situs ini tetap bertahan, silakan Klik di sini.





