Berita

Modric di Milan, Penyihir Tanpa Usia: Bertahan atau Tidak, Semua di Tangannya

×

Modric di Milan, Penyihir Tanpa Usia: Bertahan atau Tidak, Semua di Tangannya

Sebarkan artikel ini
Luka Modric
Luka Modric

Dalam kontrak yang ditandatangani Luka Modric bersama AC Milan pada musim panas lalu, terdapat opsi perpanjangan satu musim tambahan. Namun, keputusan sepenuhnya berada di tangan sang pemain. Hingga kini, Modric memilih fokus sepenuhnya pada lapangan, menikmati setiap momen bersama Rossoneri.

Datang ke Milan nyaris tanpa hiruk-pikuk, Modric langsung memikat lingkungan klub lewat sikap rendah hati, profesionalisme, dan dedikasinya. Rekam jejak prestasinya berbicara sendiri: Ballon d’Or 2018 dan sederet trofi bersama Real Madrid. Namun di Milan, pada usia 40 tahun, Modric terlihat bermain dengan kegembiraan seperti anak kecil.

Peran Baru, Pengaruh Maksimal

Massimiliano Allegri menempatkan Modric pada peran yang relatif baru dalam kariernya: gelandang bertahan di depan lini belakang. Dari posisi inilah, Modric menjadi poros permainan Milan, pengatur ritme sekaligus titik awal hampir setiap fase serangan.

Secara logika, Modric bisa saja diperlakukan sebagai pemain yang “harus dilindungi” secara fisik. Namun kenyataannya, sang maestro Kroasia justru tampil sebagai perebut bola ulung. Kecerdasan bermain, penempatan posisi yang hampir sempurna, serta kemampuan membaca permainan membuatnya sering memotong alur serangan lawan.

  • Menjadi regista utama di depan lini pertahanan.
  • Aktif dalam merebut dan mengintersep bola.
  • Pusat pengaturan tempo permainan Milan.

Kualitas Umpan Kelas Dunia

Jika dibandingkan dengan masa-masanya di Spanyol, kontribusi ofensif Modric memang sedikit berkurang. Namun dalam hal organisasi permainan, kualitas yang lahir dari kakinya justru terlihat luar biasa.

Menurut data Gradient Sports—platform yang menilai kualitas umpan dengan mempertimbangkan konteks teknis dan situasional—Modric saat ini tercatat sebagai passer terbaik di lima liga top Eropa. Artinya, setiap keputusannya hampir selalu aman, presisi, dan memudahkan rekan setimnya.

Modric piawai menemukan celah antar lini, menempatkan bola di kaki rekan dalam posisi ideal untuk melukai lawan. Ketika sesekali ia melakukan kesalahan, momen tersebut justru terasa ganjil karena begitu jarangnya terjadi.

Dampak ala Ibrahimovic

Dampak Modric di Milan, meski dengan cara berbeda, mengingatkan pada pengaruh Zlatan Ibrahimovic setelah kembali dari Amerika Serikat. Rekan setim berbicara tentangnya dengan kekaguman, lawan memperlakukannya dengan rasa hormat tinggi, dan Allegri—yang sudah melatih banyak juara—menikmati keberadaannya dengan senyum.

Manajemen fisik Modric sejauh ini juga nyaris sempurna. Ia tetap segar, konsisten, dan jarang menunjukkan tanda-tanda kelelahan berlebihan.

Futuro? Waktunya Masih Ada

Musim terus berjalan, Milan berada di posisi kedua klasemen, dan tingkat kepuasan di sekitar tim cukup tinggi. Namun wajar jika pikiran para tifosi mulai melayang ke masa depan Modric. Apakah keindahan ini hanya akan berlangsung satu musim?

Untuk mengetahui jawabannya, semua pihak harus bersabar. Saat ini Modric hanya memikirkan satu hal: membawa Milan finis setinggi mungkin. Ia merasa nyaman di Milan, bahagia bisa mewujudkan mimpi masa kecilnya—menyusul jejak idolanya, Zvone Boban, yang dulu ia saksikan bersinar dengan seragam Rossoneri.

Analisis Redaksi

Apa pun keputusan Modric nanti, bulan-bulan yang telah dijalaninya bersama Milan sudah penuh dengan magi dan emosi. Di usia 40 tahun, ia membuktikan bahwa kecerdasan, pengalaman, dan cinta terhadap permainan bisa melampaui batas usia. Milan dan para tifosinya hanya bisa menikmati, menghormati, dan bersyukur atas kehadiran seorang maestro sejati.

Beritamilan.com dikelola secara independen dan dijalankan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Jika Anda ingin membantu menjaga situs ini tetap bertahan hidup silakan Klik di sini.