Secara matematis, peluang AC Milan meraih Scudetto belum tertutup. Jarak 5 poin dengan sisa banyak pertandingan masih sangat mungkin dikejar. Namun, data statistik menunjukkan realita yang pahit: Inter Milan saat ini berada di level yang berbeda.
La Gazzetta dello Sport pagi ini membedah “Inferioritas” (ketertinggalan kualitas) Milan dibandingkan sang rival sekota. Berikut adalah 4 faktor kuncinya:
1. Jurang Produktivitas (50 vs 35)
Ini adalah statistik yang paling mencolok. Inter Milan memiliki “Killer Instinct” yang tidak dimiliki Milan.
- Inter Milan: Mencetak 50 gol.
- AC Milan: Mencetak 35 gol.
Selisih 15 gol itu sangat masif. Padahal, selisih Expected Goals (xG) kedua tim hanya 3,4. Artinya, penyelesaian akhir (finishing) Inter jauh lebih klinis, sementara Milan sering membuang peluang.
2. Kedalaman Skuad
Inter dipuji karena memiliki dua tim yang sama kuatnya. Milan? Tidak memiliki kemewahan itu. Ketika pemain inti cedera, kualitas pengganti Milan seringkali jomplang.
3. Faktor Pengalaman
Gazzetta mengambil contoh kasus penalti Davide Bartesaghi lawan Roma. Pertanyaannya: “Apakah pemain yang lebih senior akan melakukan kesalahan handball seperti itu?”
Skuad Cristian Chivu di Inter dipenuhi pemain matang yang jarang melakukan kesalahan elementer. Sementara Allegri harus berjudi dengan pemain muda yang masih labil.
4. Ketergantungan Individu
Inter bermain sebagai sistem mesin. Siapapun yang main, mesin tetap jalan. Sebaliknya, Milan terlalu bergantung pada individu (Leao, Pulisic, atau Modric). Ketika individu tersebut dimatikan lawan atau cedera, permainan tim langsung macet.
Milan Jual Jimenez €22 Juta, tapi Cuma Kantongi €11 Juta, Kok Bisa? Baca analisisnya sambil ngopi, traktir mimin kopinya di sini.





