Kedatangan Niclas Füllkrug ke AC Milan disambut dengan harapan tinggi. Dengan cederanya Santiago Gimenez, striker Jerman ini diharapkan menjadi juru selamat instan.
Namun, jika kita melihat lebih jernih di balik euforia tersebut, ada banyak tanda bahaya yang menunjukkan bahwa transfer ini bisa saja berakhir dengan kekecewaan.
Tanpa bermaksud pesimis, sejarah Milan dengan perekrutan striker veteran di bulan Januari tidak selalu manis. Berikut adalah analisis mengapa perjudian Füllkrug berpotensi gagal di San Siro.
1. Hantu Mario Mandzukic (Januari 2021)

Transfer Füllkrug sangat mengingatkan kita pada kedatangan Mario Mandzukic pada Januari 2021. Keduanya adalah striker fisik, berpengalaman, dan didatangkan di tengah musim sebagai “solusi darurat”.
- Trauma Masa Lalu: Mandzukic datang, gagal mencetak satu gol pun, berkutat dengan cedera, dan pergi enam bulan kemudian tanpa dampak. Füllkrug, di usia 32 tahun, membawa profil risiko fisik yang serupa.
- Intensitas Serie A: Liga Italia memang lebih lambat dari Premier League, tetapi sangat menuntut secara taktis dan fisik. Datang tanpa pra-musim bersama tim dan langsung dituntut “nyetel” adalah resep bencana bagi pemain veteran.
2. Rekam Jejak Buruk di West Ham

Kita tidak bisa menutup mata bahwa Füllkrug datang ke Milan setelah periode yang mengecewakan di Inggris.
- Kehilangan Sentuhan: Selama 1,5 tahun di West Ham, ia gagal mereplikasi ketajamannya saat di Dortmund. Ia kesulitan beradaptasi dengan liga baru. Jika di Inggris saja ia kesulitan, apa jaminannya ia bisa langsung gacor menghadapi pertahanan gerendel Italia dalam waktu singkat?
- Bukan Jaminan Mutu: Milan merekrut pemain yang “dibuang” oleh klub papan tengah Inggris. Ini bukanlah tanda ambisi Scudetto, melainkan tanda kepanikan.
3. Ketidakcocokan Taktikal dengan Leao

Massimiliano Allegri membutuhkan striker yang bisa memantulkan bola, tetapi juga bisa bergerak dinamis membuka ruang bagi Rafael Leao.
- Terlalu Statis?: Füllkrug adalah target man klasik, tipe “tembok”. Ada kekhawatiran ia terlalu statis untuk gaya main Milan yang mengandalkan transisi cepat.
- Menghambat Leao: Jika Füllkrug hanya menunggu di kotak penalti dan tidak bisa melakukan link-up play cepat, ia justru bisa membatasi ruang gerak Leao yang suka menusuk ke dalam. Milan butuh striker modern, bukan sekadar penunggu kotak penalti.
4. Beban Nomor 9

Füllkrug langsung mengambil nomor punggung 9. Meskipun Olivier Giroud sempat mematahkan kutukan itu, Luka Jovic membuktikan bahwa beban nomor itu masih ada.
“Füllkrug tampaknya juga telah memutuskan untuk mengenakan nomor punggung 9… Sambil menunggu klub mengkonfirmasi semuanya.”
Mengenakan nomor keramat di klub sebesar Milan, sebagai pemain pinjaman, di tengah krisis cedera, adalah tekanan mental yang luar biasa besar. Satu atau dua pertandingan buruk di awal bisa langsung menghancurkan kepercayaan dirinya dan kepercayaan fans.
Tentu, kita semua berharap Füllkrug bisa membuktikan keraguan ini salah. Namun, sebagai Milanisti yang realistis, kita harus siap jika skenario “Mandzukic 2.0” yang terjadi, bukan “Giroud 2.0”.
Ingin mentraktir penulis secangkir kopi? Silakan KLIK DISINI.




