Berita

“KATA TERLARANG” MULAI TERDENGAR! Milan Berani Mimpi Scudetto? Ini 5 Alasannya!

×

“KATA TERLARANG” MULAI TERDENGAR! Milan Berani Mimpi Scudetto? Ini 5 Alasannya!

Sebarkan artikel ini
Photo: www.acmilan.com

Kata ‘Scudetto’ mulai semakin sering dibisikkan di kalangan pendukung AC Milan, memicu pertanyaan apakah mereka benar-benar punya kapasitas untuk mewujudkan mimpi tersebut. Meski Massimiliano Allegri dan para pemain menolak membicarakannya secara terbuka, posisi klasemen yang hanya terpaut dua poin dari puncak menjadi bukti nyata yang tak terbantahkan.

Milan memiliki keuntungan jadwal karena hanya bermain seminggu sekali, berbeda dengan para pesaingnya yang sibuk di Eropa. Selain itu, rekor pertemuan mereka sangat impresif dengan berhasil mengalahkan empat tim lain di posisi lima besar klasemen.

Keajaiban Pertahanan dan Faktor Maignan

Analisis dari La Gazzetta dello Sport menyoroti soliditas tim di momen-momen krusial, meski data statistik menunjukkan anomali yang menarik. Dalam empat laga besar melawan Napoli, Juve, Roma, dan Inter, Milan seharusnya kebobolan 6,5 gol berdasarkan angka Expected Goals (xG).

Namun, faktanya I Rossoneri hanya kebobolan satu gol saja, itu pun melalui penalti Kevin De Bruyne. Hal ini menunjukkan kembalinya performa monster Mike Maignan versi 2022 yang menjadi tembok terakhir pertahanan.

Photo: www.acmilan.com

Tembok Beton Allegri dan Jimat Rabiot

Sistem pertahanan 5-3-2 yang diterapkan Allegri terbukti sulit ditembus, dengan Matteo Gabbia dan Strahinja Pavlovic yang berfungsi layaknya senjata anti-pesawat dalam menghalau bola udara. Namun, sorotan terbesar jatuh pada dampak instan Adrien Rabiot bagi keseimbangan tim.

Berikut adalah statistik “gila” Milan saat Rabiot bermain sebagai starter:

  • Jumlah Laga: 5 Pertandingan.
  • Hasil: 4 Menang, 1 Seri (vs Juventus).
  • Rekor Pertahanan: 0 kebobolan dari permainan terbuka (open play).

Mentalitas Juara Luka Modric

Photo: www.acmilan.com

Dibandingkan rival seperti Inter atau Napoli, Milan dinilai memiliki ruang paling besar untuk memperbaiki kesalahan teknis, terutama masalah konsentrasi melawan tim kecil. Kehadiran Luka Modric juga menjadi faktor X yang krusial dalam memimpin mentalitas tim.

Maestro Kroasia itu membawa standar ambisius khas Real Madrid yang memaksa seluruh skuad bergerak dengan kecepatan mental yang sama. Jauh di lubuk hatinya, Modric mungkin adalah orang yang paling percaya bahwa kata ‘Scudetto’ bukan sekadar mimpi kosong.

Ingin mentraktir penulis secangkir kopi? Silakan KLIK DISINI.