Tag: Bologna

  • Jelang Final Coppa Italia, Conceicao Siapkan Rotasi Pemain Saat Melawan Bologna

    Jelang Final Coppa Italia, Conceicao Siapkan Rotasi Pemain Saat Melawan Bologna

    Pelatih kepala AC Milan, Sergio Conceicao, dilaporkan berencana untuk mengelola sumber daya pemainnya dengan hati-hati menjelang pertandingan final Coppa Italia yang krusial dalam satu minggu ke depan. Langkah ini diambil demi menjaga kondisi fisik para pemain kunci.

    Coppa Italia: Pertaruhan Terakhir Milan Selamatkan Musim

    Bagi Milan, menjuarai Coppa Italia menjadi satu-satunya target realistis yang dapat memberi makna pada musim ini, yang diwarnai penampilan kurang memuaskan baik di kancah Serie A maupun Liga Champions.

    Kemenangan di final tidak hanya akan menambah koleksi trofi kedua setelah Supercoppa Italiana, tetapi juga mengamankan satu tempat di Liga Europa musim depan, sebuah pelipur lara yang signifikan bagi Rossoneri.

    Strategi Rotasi Lawan Bologna: Leao Absen, Pulisic Istirahat

    Photo: acmilan.com

    Seperti dilaporkan oleh Tuttosport (melalui MilanNews) pagi ini, Conceiçao dipastikan akan melakukan beberapa perubahan pada susunan pemain inti untuk pertandingan liga melawan Bologna di San Siro pada hari Jumat. Keputusan ini diambil mengingat beberapa hari berselang, Milan akan menghadapi laga final yang sangat menentukan.

    Rafael Leao yang terkena sanksi dipastikan absen, sehingga posisinya akan diisi pemain lain. Christian Pulisic juga tampaknya akan diberi waktu istirahat untuk menjaga kebugarannya. Untuk mengisi lini serang, Joao Felix dan Samuel Chukwueze berpeluang besar tampil di belakang penyerang utama, yang kemungkinan besar adalah Santiago Gimenez.

    Di lini pertahanan, Kyle Walker akan kembali bermain sejak menit pertama, memberikan kesempatan bagi Fikayo Tomori atau Alex Jimenez untuk beristirahat. Malick Thiaw juga diharapkan kembali ke tim inti setelah beberapa pertandingan minim menit bermain, mengisi salah satu posisi dalam formasi tiga bek.

    Langkah-langkah rotasi ini diharapkan dapat membuat skuad Milan tampil dengan kekuatan penuh di partai puncak Coppa Italia.

  • Leao Terkena Akumulasi Kartu Kuning, AC Milan Tak Panik Saat Melawan Bologna di Serie A

    Leao Terkena Akumulasi Kartu Kuning, AC Milan Tak Panik Saat Melawan Bologna di Serie A

    Rafael Leao sekali lagi membuktikan dirinya sebagai figur sentral bagi AC Milan, menjadi motor penggerak kemenangan tim atas Genoa. Menariknya, kartu kuning yang ia terima dalam laga tersebut justru bisa dianggap sebagai keuntungan strategis menjelang partai final Coppa Italia.

    Istirahat Tepat Waktu Berkat Akumulasi Kartu

    Sebagaimana dilaporkan oleh La Gazzetta dello Sport, Leao diganjar kartu kuning di penghujung laga kontra Genoa. Akibatnya, ia dipastikan absen karena akumulasi kartu saat Milan berhadapan dengan Bologna dalam lanjutan kompetisi liga pada hari Jumat. Namun, dengan final Coppa Italia yang hanya berselang lima hari setelahnya, absennya Leao ini bisa jadi bukan skenario terburuk.

    Kartu kuning tersebut diterima Leao setelah melakukan pelanggaran terhadap Vitinha. Kendati demikian, keputusan ini tampaknya tidak menimbulkan penyesalan besar. Ketidakhadirannya di pertandingan melawan Bologna memberinya waktu istirahat ekstra yang sangat berharga sebelum laga krusial di Stadio Olimpico, Roma. Kontribusinya akan sangat dinantikan untuk memberikan arti pada musim yang sejauh ini dianggap kurang memuaskan.

    Photo: www.acmilan.com

    Dampak Instan Meski Sempat Diistirahatkan

    Pelatih Sergio Conceicao sejatinya telah merencanakan untuk memberi Leao waktu istirahat, yang terlihat dari keputusannya untuk tidak memasukkannya dalam starting lineup melawan Genoa. Akan tetapi, cedera yang menimpa Youssouf Fofana memaksa sang pelatih untuk menurunkan Leao setelah pertandingan berjalan sekitar setengah jam.

    Ketika pertama kali masuk lapangan di tengah guyuran hujan lebat, bahasa tubuh Leao tidak menunjukkan antusiasme yang meluap-luap. Namun, seperti yang kerap ia tunjukkan, kualitas individunya segera berbicara.

    Leao hampir saja memberikan assist matang untuk Christian Pulisic yang sayangnya gagal mengkonversi peluang satu lawan satu. Tak lama kemudian, ia mencetak gol penyeimbang (meskipun bola sempat mengenai pemain lawan) sebelum akhirnya pergerakannya memaksa pemain Genoa melakukan gol bunuh diri yang memastikan kemenangan Milan.

    Perdebatan mengenai bagaimana Milan dapat menemukan “formula ajaib” agar Leao mampu tampil konsisten di level puncaknya terus mengemuka. Akan tetapi, untuk saat ini, semua mata tertuju padanya sebagai protagonis utama yang diharapkan bersinar di final piala.

    Setelah pertandingan, Leao memberikan komentarnya, “Pelatih telah mengubah modul dan kami bermain lebih kompak. Semua orang bekerja untuk kebaikan tim dan kali ini siapa pun yang masuk dari bangku cadangan mampu membuat perbedaan.” Terpancar rasa percaya diri dan kebanggaan dari ucapannya.

    Photo: acmilan.com

    Formasi baru ini tampaknya cocok dengan gaya bermain Leao, kemungkinan karena memberikan perlindungan lebih di lini pertahanan sehingga mengurangi beban tugas defensifnya. Satu hal yang menarik adalah Leao terus menunjukkan produktivitasnya dalam laga tandang: kedelapan golnya di liga musim ini semuanya dicetak di luar kandang San Siro.

    Final Coppa Italia melawan Bologna akan dilangsungkan di Stadio Olimpico, bukan di San Siro. Fakta bahwa Leao pernah mencetak gol di stadion tersebut tahun ini (saat melawan Lazio) bisa menjadi sinyal positif bagi Milan.

  • Gladi Resik Final! Milan dan Bologna Bersiap Tempur Dua Kali dalam Lima Hari

    Gladi Resik Final! Milan dan Bologna Bersiap Tempur Dua Kali dalam Lima Hari

    Lega Serie A telah secara resmi mengumumkan tanggal dan waktu kick-off untuk pertandingan penting AC Milan pada pekan ke-36 melawan Bologna. Penjadwalan ini menjadi sorotan karena posisinya yang strategis, tepat menjelang potensi pertemuan kedua tim di final Coppa Italia.

    Meskipun perjalanan Milan di Serie A musim ini belum sepenuhnya memuaskan ekspektasi, harapan tetap ada, terutama dengan adanya potensi perubahan (disebutkan terkait “sistem baru”). Rossoneri dihadapkan pada serangkaian laga besar, namun dua pertemuan melawan Bologna – di liga dan potensi final Coppa Italia – bisa dibilang menjadi yang paling krusial dalam waktu dekat.

    Ujian Ganda Melawan Rossoblu

    Kedua pertandingan melawan Bologna ini dilihat sebagai ujian signifikan. Ini adalah kesempatan untuk kembali mengevaluasi kualitas skuad Rossoneri dan efektivitas sistem taktik yang diterapkan oleh pelatih Sergio Conceicao.

    Lebih dari itu, laga liga ini bisa menjadi momen bagi manajemen Diavolo untuk mengamati lebih dekat sosok Vincenzo Italiano, pelatih Bologna, yang kabarnya masuk dalam daftar kandidat manajer Milan untuk musim depan.

    Rafael Leao
    Photo: acmilan.com

    Detail Jadwal Pertandingan

    Namun, fokus utama saat ini adalah pada pertandingan liga yang sudah di depan mata. Sore ini, melalui situs web resmi klub, AC Milan mengonfirmasi detail jadwal pertandingan melawan Bologna:

    • Pertandingan Pekan ke-36 Serie A: AC Milan vs Bologna
    • Hari/Tanggal: Minggu, 11 Mei
    • Waktu Kick-off: 20.00 WIB
    • Siaran: DAZN / Sky / NOW

    Jadwal final Coppa Italia Bologna vs AC Milan

    • Pertandingan Final Coppa Italia: Bologna vs AC Milan
    • Hari/Tanggal: Kamis, 15 Mei
    • Waktu Kick-off: 02.00 WIB

    Penjadwalan pertandingan ini dianggap cukup ideal. Dengan laga yang digelar lima hari sebelum final Coppa Italia, kedua tim akan menghadapi pertandingan ini tanpa ada pihak yang diuntungkan atau dirugikan secara signifikan oleh jadwal.

    Ini seolah menjadi ‘takdir’ yang mempertemukan mereka dalam sebuah gladi resik penting sebelum potensi pertarungan memperebutkan trofi.

  • Pertarungan Epik: Bologna dan I Rossoneri di Final Coppa Italia

    Pertarungan Epik: Bologna dan I Rossoneri di Final Coppa Italia

    Bologna berhasil mencapai Final Coppa Italia pertama mereka sejak 1974 dan siap menghadapi I Rossoneri yang berambisi meraih trofi setelah 22 tahun. Pertandingan final ini akan digelar di Stadio Olimpico, Roma, pada 14 Mei mendatang.

    Laga final ini akan berlangsung sekali, dengan kemungkinan perpanjangan waktu atau adu penalti jika skor imbang setelah 90 menit. Pemenang Coppa Italia secara otomatis akan lolos ke Liga Europa, kecuali jika mereka sudah memenuhi syarat melalui jalur lain.

    Dua Tim di Final Four Supercoppa Italiana

    Selain berlaga di Coppa Italia, baik Il Diavolo Rosso maupun Bologna juga akan tampil di Final Four Supercoppa Italiana bersama Inter dan Napoli. Ini menambah intensitas dan persaingan antara kedua tim di panggung sepak bola Italia.

    Theo Hernandez
    Photo: acmilan.com

    Jalan Menuju Final

    Bologna memastikan tempat di final dengan kemenangan agregat 5-1 setelah mengalahkan Empoli 2-1 di Stadio Dall’Ara. Mereka memiliki sejarah sukses di Coppa Italia, memenangkan gelar pada tahun 1970 dan 1974.

    Milan memiliki rekor yang kurang memuaskan di Coppa Italia dengan lima kemenangan dan sembilan kekalahan di final. Terakhir kali mereka memenangkan trofi ini adalah pada tahun 2003, dan kekalahan terbaru mereka di final terjadi pada tahun 2018 melawan Juventus.

    Pertemuan Pertama di Final

    Ini adalah kali pertama I Rossoneri dan Bologna bertemu di final Coppa Italia. Menariknya, kedua tim juga akan saling berhadapan di Serie A hanya beberapa hari sebelum final, menambah ketegangan dalam persiapan laga hidup mati ini.

    Untuk berita terbaru dan analisis mendalam seputar I Rossoneri, kunjungi beritamilan.com. Dapatkan informasi terkini dan wawasan menarik tentang dunia sepak bola Italia.

  • Vincenzo Italiano Bisa Jadi Pelatih Ideal untuk AC Milan

    Vincenzo Italiano Bisa Jadi Pelatih Ideal untuk AC Milan

    AC Milan tengah bersiap untuk melakukan perubahan besar di manajemen dan staf kepelatihan mereka. Setelah performa yang kurang memuaskan di bawah Sergio Conceicao, Rossoneri kini mencari sosok yang dapat membawa tim kembali ke puncak, baik di Serie A maupun Liga Champions.

    Salah satu nama yang mencuat sebagai kandidat utama adalah Vincenzo Italiano, pelatih Bologna saat ini.

    Mengapa Vincenzo Italiano?

    Menurut laporan dari Tuttosport (via MilanNews24), Vincenzo Italiano menjadi pilihan menarik bagi Milan karena dua alasan utama:

    1. Kemampuan Memanfaatkan Potensi Tim
      Italiano dikenal sebagai pelatih yang mampu memaksimalkan potensi pemain dan sumber daya yang ada. Ia sering kali berhasil mengembangkan pemain muda dan menghidupkan kembali karier pemain yang dianggap “habis”.
    2. Gaya Bermain yang Inovatif dan Atraktif
      Italiano memiliki filosofi sepak bola yang modern, menyerang, dan estetis. Gaya ini sejalan dengan keinginan Milan untuk menghadirkan sepak bola yang tidak hanya efektif tetapi juga enak ditonton, sesuai dengan tradisi mereka.

    Perjalanan Italiano Bersama Bologna

    Setelah meninggalkan Fiorentina pada akhir musim lalu, Italiano mengambil alih Bologna, menggantikan Thiago Motta. Keputusannya dipengaruhi oleh ambisi untuk melatih di Liga Champions, meskipun ia memiliki hubungan emosional dengan Fiorentina.

    Vincenzo italiano, AC Milan
    Vincenzo italiano, AC Milan

    Namun, perjalanan di Bologna tidak selalu mulus:

    • Awal Musim yang Sulit: Bologna sempat berada di zona degradasi setelah tiga pertandingan pertama.
    • Kebangkitan di Pertengahan Musim: Dengan lima kemenangan dalam enam pertandingan terakhir, termasuk kemenangan besar 5-0 atas Lazio, Bologna kini berada di posisi keempat klasemen.

    Hasil-hasil ini menunjukkan kemampuan Italiano untuk membangun tim yang kompetitif meskipun menghadapi tantangan besar.

    Dukungan dari Direktur Olahraga Baru

    Keputusan untuk menunjuk Italiano sebagai pelatih kepala AC Milan akan sangat bergantung pada direktur olahraga baru yang akan segera ditunjuk. Direktur olahraga ini akan memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah masa depan klub, termasuk pilihan pelatih dan strategi transfer.

    Potensi Hambatan

    Meski Italiano menjadi kandidat kuat, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan ini:

    1. Performa Bologna: Jika Bologna terus tampil impresif, mereka mungkin akan menawarkan perpanjangan kontrak kepada Italiano.
    2. Kandidat Lain: Milan juga dikabarkan memiliki beberapa nama lain dalam daftar mereka, sehingga keputusan akhir belum pasti.
    3. Ekspektasi Tinggi di Milan: Menangani klub sebesar Milan adalah tantangan yang berbeda dibandingkan dengan Bologna atau Fiorentina. Italiano harus siap menghadapi tekanan besar dari manajemen, suporter, dan media.

    Kesimpulan: Apakah Italiano Pilihan Tepat?

    Vincenzo Italiano memiliki semua kualitas untuk menjadi pelatih yang sukses di AC Milan: kemampuan taktis, filosofi bermain yang menarik, dan rekam jejak dalam mengembangkan pemain. Namun, keputusan akhir akan sangat bergantung pada direktur olahraga baru dan strategi jangka panjang klub.

    Jika Italiano benar-benar ditunjuk, ini bisa menjadi awal era baru bagi Milan, yang menggabungkan tradisi dengan inovasi modern untuk kembali bersaing di level tertinggi.

    Tetap ikuti perkembangan terbaru tentang AC Milan dan Vincenzo Italiano di Beritamilan.com.

  • Bursa Transfer Memanas! Milan Siap Tikung Inter Demi Giovanni Fabbian

    Bursa Transfer Memanas! Milan Siap Tikung Inter Demi Giovanni Fabbian

    AC Milan tampaknya serius dalam rencana ‘revolusi Italia’ mereka untuk musim panas mendatang, dengan fokus pada pemain muda berbakat asal Italia yang memiliki pengalaman di Serie A.

    Salah satu nama yang muncul adalah Giovanni Fabbian, gelandang berusia 21 tahun yang saat ini bermain untuk Bologna, tetapi masih berada dalam kendali Inter Milan melalui klausul pembelian kembali.

    Profil Giovanni Fabbian

    Giovanni Fabbian adalah gelandang muda berbakat yang telah menunjukkan perkembangan pesat bersama Bologna musim ini. Ia dikenal karena kemampuan teknisnya, visi bermain, dan fleksibilitas di lini tengah, menjadikannya salah satu prospek paling menarik di Italia.

    • Usia: 21 tahun
    • Klub saat ini: Bologna
    • Klausul pembelian kembali: Inter Milan memiliki opsi untuk membelinya kembali pada musim panas 2025 dan 2026 dengan harga €12 juta.

    Fabbian memenuhi kriteria yang diinginkan Milan: pemain muda, berbakat, dan Italia, yang dapat memberikan kontribusi jangka panjang di lini tengah.

    Photo: Goal.com

     

    Situasi Transfer

    Menurut laporan dari Tuttosport (via MilanPress), AC Milan telah mengirim pencari bakat untuk memantau Fabbian dalam beberapa kesempatan. Ia dianggap sebagai alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan target utama Milan, yaitu Samuele Ricci dari Torino, yang dibanderol sekitar €35 juta.

    Namun, perebutan Fabbian tidak akan mudah:

    • Klausul Inter Milan: Inter memiliki kendali penuh atas masa depan Fabbian berkat klausul pembelian kembali. Jika Milan ingin merekrutnya, mereka harus bergerak cepat sebelum Inter memutuskan untuk mengaktifkan klausul tersebut.
    • Hubungan dengan Bologna: Milan memiliki sejarah bisnis baru-baru ini dengan Bologna, termasuk transfer Tommaso Pobega (dengan opsi pembelian €12 juta) dan kepergian Davide Calabria ke klub tersebut. Hubungan ini dapat membantu Milan dalam negosiasi.

    Fabbian vs. Samuele Ricci

    Jika dibandingkan dengan Samuele Ricci, Fabbian menawarkan solusi yang lebih hemat biaya bagi Milan. Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda:

    • Giovanni Fabbian:
      • Lebih muda dan memiliki potensi besar untuk berkembang.
      • Harganya lebih terjangkau, mengingat klausul pembelian kembali Inter hanya €12 juta.
      • Kurang pengalaman dibandingkan Ricci, tetapi bisa menjadi investasi jangka panjang.
    • Samuele Ricci:
      • Sudah menjadi pemain kunci bagi Torino dan memiliki lebih banyak pengalaman di Serie A.
      • Harganya jauh lebih tinggi (€35 juta), yang mungkin sulit dijangkau Milan jika mereka memiliki anggaran terbatas.

    Dampak pada Revolusi Italia Milan

    Jika Milan berhasil merekrut Fabbian, ini akan menjadi langkah penting dalam strategi ‘revolusi Italia’ mereka, yang bertujuan untuk membangun tim dengan inti pemain lokal yang muda dan berbakat. Selain itu, Fabbian bisa menjadi bagian dari lini tengah yang lebih dinamis bersama pemain seperti Tijjani Reijnders, Youssouf Fofana, dan Yunus Musah.

    Namun, Milan harus berhati-hati dengan potensi keterlibatan Inter dalam transfer ini. Jika Inter memutuskan untuk mengaktifkan klausul pembelian kembali mereka, I Rossoneri mungkin harus mencari alternatif lain.

    Kesimpulan

    Giovanni Fabbian adalah target menarik bagi AC Milan, terutama karena ia sesuai dengan visi klub untuk membangun tim yang lebih muda dan berbakat. Namun, klausul pembelian kembali Inter Milan menjadi tantangan utama dalam transfer ini.

    Jika Milan ingin mengamankan jasa Fabbian, mereka harus bertindak cepat dan memanfaatkan hubungan baik dengan Bologna. Selain itu, mereka juga perlu mempertimbangkan apakah akan mengalihkan fokus ke target lain seperti Samuele Ricci, meskipun harganya jauh lebih tinggi.

    Dengan strategi ‘revolusi Italia’ yang sedang berlangsung, perebutan Fabbian bisa menjadi salah satu cerita menarik di bursa transfer musim panas mendatang, terutama jika melibatkan persaingan langsung antara dua rival sekota, AC Milan dan Inter Milan.

  • Highlight Pertandingan: Bologna vs AC Milan [Serie A]

    Highlight Pertandingan: Bologna vs AC Milan [Serie A]

    AC Milan kembali menelan kekalahan yang menyakitkan dalam lanjutan Serie A setelah takluk 2-1 dari Bologna di Stadio Dall’Ara.

    Meski sempat unggul lebih dulu melalui gol Rafael Leao, Rossoneri gagal mempertahankan keunggulan dan harus menerima kenyataan pahit setelah gol Santiago Castro yang kontroversial dan gol penentu kemenangan dari Dan Ndoye.


    Kronologi Pertandingan

    Pertandingan ini merupakan laga tunda dari pekan ke-9 Serie A yang awalnya dijadwalkan pada Oktober 2024, tetapi ditunda karena peringatan banjir. Kedua tim memasuki laga dengan perolehan poin yang sama, yaitu 41 poin, sehingga pertandingan ini menjadi krusial bagi kedua belah pihak.

    Babak Pertama: Keunggulan Milan

    Milan memulai pertandingan dengan agresif. Dalam 22 detik pertama, Santiago Gimenez hampir membuka skor setelah menerima umpan dari Yunus Musah, tetapi tembakannya melambung. Bologna juga memberikan ancaman melalui Benjamin Dominguez, yang nyaris memaksa Malick Thiaw mencetak gol bunuh diri.

    Mike Maignan menunjukkan kelasnya dengan beberapa penyelamatan penting, termasuk menggagalkan tembakan Dominguez di tiang dekat. Namun, Milan berhasil memecah kebuntuan menjelang akhir babak pertama. Umpan panjang Maignan diteruskan oleh Santiago Gimenez kepada Rafael Leao, yang dengan kecepatan dan ketenangannya menggiring bola melewati kiper Lukasz Skorupski sebelum mencetak gol ke gawang yang kosong.

    Rafael Leao
    Photo: acmilan.com

    Babak Kedua: Bologna Bangkit

    Bologna menyamakan kedudukan tak lama setelah babak kedua dimulai. Tendangan bebas Lorenzo De Silvestri diarahkan ke Giovanni Fabbian, yang bola pantulannya jatuh ke jalur Santiago Castro. Castro menyelesaikan peluang dari jarak dekat untuk membuat skor menjadi 1-1.

    Gol ini memicu kontroversi karena bola sempat mengenai lengan Fabbian sebelum jatuh ke Castro. Namun, setelah pemeriksaan VAR yang panjang, wasit memutuskan bahwa gol tersebut sah, dengan alasan handball Fabbian tidak disengaja dan terjadi dalam posisi alami.

    Milan mencoba merespons melalui aksi individu Yunus Musah, yang melakukan dribel spektakuler dari wilayahnya sendiri hingga memaksa Skorupski melakukan penyelamatan gemilang. Namun, serangan-serangan Milan kurang efektif, termasuk sundulan lemah Luka Jovic yang langsung mengarah ke kiper Bologna.

    Gol Penentu Bologna

    Bologna akhirnya memastikan kemenangan di menit-menit akhir. Cambiaghi memanfaatkan lemparan ke dalam yang buruk dari Alex Jimenez untuk mengirimkan umpan silang ke kotak penalti. Dan Ndoye memanfaatkan peluang tersebut dengan mencetak gol dari jarak dekat, mengalahkan Strahinja Pavlovic di duel udara.

    Photo: acmilan.com

    Analisis dan Dampak Kekalahan

    Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Milan, yang kini semakin jauh dari persaingan papan atas Serie A. Meski Rafael Leao terus menunjukkan performa apik, kelemahan di lini belakang dan ketidakmampuan untuk memanfaatkan peluang menjadi masalah besar bagi Rossoneri.

    Kontroversi gol Santiago Castro juga menambah frustrasi bagi Milanisti, yang merasa tim mereka dirugikan oleh keputusan wasit. Namun, performa keseluruhan Milan dalam pertandingan ini menunjukkan bahwa masalah utama terletak pada kurangnya konsistensi dan efektivitas di kedua sisi lapangan.


    Statistik Pertandingan

    • Penguasaan bola: Bologna 48% – 52% Milan
    • Tembakan tepat sasaran: Bologna 6 – 5 Milan
    • Peluang besar: Bologna 3 – 2 Milan


    Kesimpulan

    Kekalahan dari Bologna menambah daftar panjang hasil buruk Milan musim ini. Dengan absennya beberapa pemain kunci seperti Kyle Walker, Ruben Loftus-Cheek, dan Alessandro Florenzi, Milan harus segera menemukan solusi untuk mengembalikan performa mereka.

    Sementara itu, Bologna menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang solid dan mampu memanfaatkan kelemahan lawan, meskipun harus bergantung pada keputusan kontroversial untuk menyamakan kedudukan.

    Milan kini menghadapi tekanan besar untuk bangkit di pertandingan berikutnya, sementara Bologna semakin percaya diri untuk melanjutkan tren positif mereka di Serie A.

  • Kenapa VAR Tetap Mengesahkan Gol Handball Bologna?

    Kenapa VAR Tetap Mengesahkan Gol Handball Bologna?

    Gol penyeimbang Bologna melawan AC Milan dalam kemenangan 2-1 mereka di Stadio Dall’Ara memicu perdebatan panas, terutama terkait dugaan handball oleh Giovanni Fabbian sebelum Santiago Castro mencetak gol.

    Meski VAR melakukan pemeriksaan panjang, gol tersebut tetap disahkan, dan pakar wasit DAZN, Luca Marelli, memberikan penjelasan mendalam tentang keputusan ini.


    Kronologi Insiden

    Gol kontroversial ini terjadi setelah Lorenzo De Silvestri menyundul tendangan bebas Lewis Ferguson. Bola kemudian mengenai lengan Giovanni Fabbian sebelum jatuh ke jalur Santiago Castro, yang dengan mudah mencetak gol dari jarak enam yard.

    Banyak yang berasumsi bahwa gol ini akan dianulir karena adanya handball dalam proses terjadinya gol. Namun, setelah tinjauan VAR yang cukup lama, wasit memutuskan untuk mengesahkan gol tersebut.


    Penjelasan Pakar: Aturan Handball IFAB

    Luca Marelli menjelaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada aturan handball yang ditetapkan oleh IFAB (International Football Association Board). Menurut aturan tersebut:

    • Handball hanya dianggap pelanggaran jika gol tercipta langsung dari tangan/ lengan pemain, meskipun tidak disengaja, atau segera setelah bola menyentuh tangan/ lengan mereka.
    • Namun, aturan ini hanya berlaku untuk pemain yang mencetak gol, bukan pemain yang memberikan assist atau terlibat dalam proses sebelumnya.

    Dalam kasus ini, bola memang mengenai lengan Fabbian, tetapi ia bukan pencetak gol, melainkan pemain yang secara tidak langsung terlibat dalam prosesnya.


    Posisi Lengan Fabbian: Alami atau Tidak?

    VAR juga menilai posisi lengan Fabbian saat bola mengenai tubuhnya. Menurut Marelli, lengan Fabbian berada dalam posisi yang dianggap alami, yaitu sebagian besar di atas perutnya, ketika bola menyentuhnya akibat sundulan De Silvestri.

    Karena itu, VAR dan wasit memutuskan bahwa tidak ada unsur pelanggaran handball yang disengaja atau tidak disengaja yang relevan untuk menganulir gol tersebut.


    Reaksi dan Kontroversi

    Keputusan ini tentu saja memicu reaksi keras dari pihak AC Milan, termasuk pelatih Sergio Conceicao, yang menganggap timnya dirugikan oleh insiden tersebut. Para pendukung Milan juga menambahkan insiden ini ke daftar panjang keluhan mereka terhadap performa tim dan keputusan-keputusan kontroversial yang merugikan klub musim ini.

    Namun, dari sudut pandang aturan, keputusan tersebut tampaknya sesuai dengan pedoman yang berlaku, meskipun tetap sulit diterima oleh para pendukung Rossoneri.

    Photo: acmilan.com

    Kesimpulan

    Gol Santiago Castro yang berawal dari dugaan handball Fabbian disahkan karena aturan IFAB menyatakan bahwa handball hanya menjadi pelanggaran jika secara langsung memengaruhi pencetak gol. Dalam kasus ini, Fabbian bukanlah pencetak gol, dan posisinya dianggap alami oleh VAR.

    Meski demikian, insiden ini menjadi salah satu momen yang memperburuk suasana hati Milanisti, yang sudah frustrasi dengan performa tim mereka musim ini.

    Terus setia bersama beritamilan.com untuk mendapatkan berita terbaru dan analisis lebih dalam tentang AC Milan.

  • Kekalahan dari Bologna: Pendukung Milan Lelah, Protes Berubah Jadi Kepasrahan

    Kekalahan dari Bologna: Pendukung Milan Lelah, Protes Berubah Jadi Kepasrahan

    Kekalahan 2-1 dari Bologna di Stadio Dall’Ara tidak hanya menyakitkan bagi AC Milan, tetapi juga memperlihatkan retaknya hubungan antara klub dan para pendukungnya.

    Nyanyian protes dan spanduk yang dipasang di tribun menjadi gambaran nyata dari rasa frustrasi yang mendalam terhadap performa tim, pelatih, dan pemilik klub.


    Spanduk ‘Hanya untuk Kaus’: Simbol Kepasrahan

    Pada awal laga Serie A Minggu ke-9 yang dijadwalkan ulang, Curva Sud – basis pendukung setia Milan – memasang spanduk bertuliskan, “Hanya untuk kaus.” Pesan ini jelas menunjukkan bahwa dukungan mereka hanya ditujukan untuk kebanggaan simbol Milan, bukan untuk skuad, pelatih Sergio Conceicao, atau pemilik klub Gerry Cardinale.

    Spanduk ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap arah klub di bawah kepemimpinan baru. Para penggemar merasa bahwa Milan kehilangan identitasnya, baik di dalam maupun di luar lapangan.

    Photo: acmilan.com

    Protes yang Menggema dari Curva Sud

    Sepanjang pertandingan, nyanyian protes terus menggema dari Curva Sud. Mereka menyerukan agar para pemain menunjukkan keberanian dan menyebut tim saat ini sebagai “tim yang buruk.” Beberapa nyanyian bahkan menyuarakan rasa muak terhadap performa Milan musim ini, yang dianggap jauh dari harapan.

    Tak hanya pemain dan pelatih, pemilik klub Gerry Cardinale juga menjadi sasaran kemarahan. Nyanyian yang mendesak Cardinale untuk menjual klub semakin sering terdengar, mencerminkan ketidakpuasan terhadap manajemen klub di bawah RedBird Capital.

    Namun, setelah peluit akhir berbunyi, suasana berubah drastis. Kemarahan yang sebelumnya memuncak perlahan mereda, digantikan oleh keheningan total. Para pendukung duduk diam di tribun, menunggu izin keluar, seolah-olah menandakan bahwa mereka telah menyerah pada harapan untuk melihat Milan finis di empat besar musim ini.


    Krisis Identitas di Milan

    Kekecewaan para pendukung Milan bukanlah hal yang muncul tiba-tiba. Sepanjang musim, mereka telah mengamuk kepada para direktur klub, termasuk Geoffrey Moncada dan Zlatan Ibrahimovic, yang dianggap gagal membawa stabilitas dan visi jangka panjang.

    Kekalahan dari Bologna semakin memperburuk situasi, dengan Milan kini terpuruk di posisi kedelapan Serie A. Hasil ini membuat harapan untuk kembali ke Liga Champions semakin tipis, dan rasa frustrasi para penggemar semakin memuncak.


    Tanda-Tanda Kepasrahan

    Keheningan para pendukung setelah pertandingan adalah simbol dari sesuatu yang lebih dalam: kepasrahan. Mereka tidak lagi marah, melainkan lelah dengan situasi yang terus memburuk.

    La Gazzetta dello Sport mencatat bahwa suasana di sektor pendukung Milan setelah pertandingan adalah salah satu momen paling sunyi yang pernah terlihat. Para penggemar tampaknya telah menyerah pada mimpi empat besar, dan fokus mereka kini hanya pada kebanggaan mengenakan warna merah-hitam.

    Photo: acmilan.com

    Apa Langkah Berikutnya untuk Milan?

    Il Diavolo Rosso kini berada di persimpangan jalan. Dengan tekanan dari para pendukung, manajemen klub harus segera mengambil langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan. Pelatih Sergio Conceicao, yang juga menjadi sasaran kritik, harus menemukan cara untuk membangkitkan timnya dan memberikan hasil positif di sisa musim.

    Namun, lebih dari sekadar hasil di lapangan, Milan harus merebut kembali hati para pendukungnya. Klub ini dibangun di atas sejarah dan tradisi yang kuat, dan para penggemar ingin melihat komitmen yang sama dari manajemen, pemain, dan pelatih.

    Tetaplah mengikuti perkembangan terbaru AC Milan hanya di beritamilan.com. Dapatkan berita eksklusif, analisis mendalam, dan wawancara menarik seputar perjalanan Milan musim ini! Jangan lewatkan cerita-cerita menarik lainnya!

  • Sergio Conceicao Mengamuk: Kritik Wasit dan Media, Milan di Titik Nadir!

    Sergio Conceicao Mengamuk: Kritik Wasit dan Media, Milan di Titik Nadir!

    Kekalahan AC Milan dari Bologna di Stadio Dall’Ara memicu kemarahan pelatih Sergio Conceicao. Ia tidak hanya geram dengan keputusan wasit, tetapi juga mengecam kritik media yang terus mempertanyakan masa depannya di klub.


    Gol Kontroversial dan Kekalahan yang Menyakitkan

    Milan, yang sempat unggul lewat gol Rafael Leao, harus menelan kekalahan 2-1 dalam pertandingan yang penuh drama. Gol penyeimbang Bologna menuai kontroversi setelah bola menyentuh lengan Giovanni Fabbian sebelum Santiago Castro mencetak gol, sementara gol kemenangan Dan Ndoye terjadi akibat kesalahan lemparan ke dalam Alex Jimenez.

    Conceicao tak bisa menahan kekecewaannya terhadap keputusan wasit yang menurutnya merugikan Milan. “Terlihat jelas ada handball pada gol penyeimbang. Kami seharusnya berbuat lebih banyak bahkan dengan kesalahan-kesalahan itu, tetapi semua insiden negatif tampaknya merugikan kami dan menjadi penentu saat ini,” ujar Conceicao kepada DAZN.


    Penampilan Milan dan Kritik yang Tak Berhenti

    Conceicao juga menyoroti penampilan Milan yang menurutnya cukup baik di babak pertama, meski media lebih fokus pada babak kedua yang mengecewakan. “Kami melakukan beberapa hal baik selama pertandingan, meskipun tidak banyak pembicaraan tentang sepak bola, lebih banyak tentang hal-hal lain, tetapi tidak apa-apa. Kami membuat kesalahan, yang lain juga membuat kesalahan, dan insiden-insiden kecil ini terbukti menentukan pada akhirnya,” tambahnya.

    Pelatih asal Portugal itu merasa bahwa timnya telah mempersiapkan diri dengan baik dan menunjukkan performa yang solid di awal laga. Namun, ia mengakui bahwa mentalitas tim masih menjadi masalah besar. “Kami terhubung dengan permainan, kompak, tahu di mana harus menekan lawan, menjaga pertahanan tetap rapat, dan membiarkan gelandang kami menemukan ruang di antara garis. Tapi saat semuanya berjalan salah, kami seperti berjalan di atas bara api,” tegasnya.


    Kemarahan Conceicao pada Media: “Saya Tidak Datang Tanpa Tujuan”

    Selain mengkritik keputusan wasit, Conceicao juga meluapkan kemarahannya terhadap media yang terus mengkritik kinerjanya di Milan. Sejak mengambil alih kursi pelatih pada 30 Desember, ia merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari publik.

    “Saya menyadari bahwa setiap hari orang membicarakan situasi saya di sini dan masa depan saya, seolah-olah saya baru saja diturunkan di sini. Saya menghadapi lima klub Italia yang sangat besar, saya menghadapi pelatih seperti Sarri dan Pioli yang bertanggung jawab atas tim yang secara teori lebih lemah, tetapi saya selalu lolos melawan mereka selain dengan Inter,” kata Conceicao dengan nada geram.

    Ia juga menegaskan bahwa dirinya datang ke Milan dengan tujuan jelas dan rekam jejak yang kuat. “Saya tidak datang ke sini begitu saja tanpa tujuan. Saya memenangkan 13 trofi, saya memiliki 100 pertandingan Liga Champions. Orang-orang masih membicarakannya dan mengatakan hal-hal yang jahat. Saya memiliki keluarga dan tetangga yang melihat apa yang terjadi, itu tidak adil,” tambahnya.

    Conceicao, yang dikenal sebagai sosok penuh gairah, meminta maaf karena emosinya meluap dalam wawancara tersebut. “Saya minta maaf karena sedikit lengah di sana, saya lebih suka berbicara tentang sepak bola,” tutupnya.

    Photo: acmilan.com

    Perspektif: Milan di Persimpangan Jalan

    Kekalahan ini menambah panjang daftar masalah AC Milan di bawah Sergio Conceicao. Setelah tersingkir dari play-off Liga Champions dan kini terdampar di posisi kedelapan Serie A, Il Diavolo Rosso harus segera menemukan solusi untuk mengembalikan performa mereka.

    Meski Conceicao telah menunjukkan kapasitasnya dengan memenangkan Supercoppa Italiana di awal masa jabatannya, konsistensi Milan menjadi tantangan terbesar. Dengan jadwal padat dan tekanan yang semakin besar, Milan harus memperbaiki mentalitas dan strategi mereka jika ingin kembali bersaing di papan atas.

    Tetap pantau perkembangan terbaru I Rossoneri hanya di beritamilan.com. Dapatkan berita eksklusif, analisis mendalam, dan wawancara menarik seputar perjalanan Milan musim ini! Jangan lewatkan cerita-cerita menarik lainnya!